Home » Gadget dan Kamera » Beli Gadget: Ke Mall Atau Beli Online Saja?

Beli Gadget: Ke Mall Atau Beli Online Saja?

Sambil menyeruput kopi yang tersisa sebelum imsak datang, subuh ini saya mau cerita tentang pengalaman saya berbelanja smartphone. Dari pengalaman ini saya mendapatkan gambaran bagaimana di masa depan orang-orang akan membeli HP. Dan ini mungkin akan terdengar seperti bencana bagi pemilik toko-toko HP di mall.

Semoga dari pengalaman ini ada hikmah yang bisa Anda petik, kupas, jemur, giling, lalu seduh. Tambahkan susu lebih enak.

Jadi gini ceritanya..Sebulan lalu saya ada urusan di Bandung. Karena memang lagi falling in Love sama smartphone bernama Oneplus One, maka saya memanfaatkan perjalanan bisnis ini untuk jalan-jalan ke BEC. Oneplus One incaran saya ini terpaksa saya kejar sampai ke Jawa karena di Makassar barangnya tidak ada.

Tidak apa-apa kalau tidak pernah dengar, ini memang bukan smartphone mainstream.

OnePlus-One-bamboo

Tampilan belakang OnePlus One Bermotif Bambu

HP ini jadi incaran saya bukan karena harganya yang selangit yang sering jadi faktor andalan orang-orang untuk sedikit menaikkan harga dirinya di tengah masyarakat. Harga Oneplus One ini cuma setengah dari harga smartphone merk lain dengan spesifikasi yang sama dan bahkan yang lebih. Justru karena spesifikasi yang tinggi dan harga yang rendahlah yang bikin saya kepincut.

Ditambah lagi karena belum banyak orang yang memilikinya, makin bertambahlah nafsu saya kepadanya. Maklumlah, saya ini sangat benci dengan mainstream (dalam hal yang positif). Saya membenci harus memakai seragam (salah satu hal yang bikin saya merasa ide menjadi PNS itu adalah “BIG NO” untuk saya), saya membenci mengikuti gaya rambut yang sedang tren (bagaimana bisa kita menjadi keren kalo rambut kita sama dengan semua pria lain??? Nda masuk akal bingits!), saya tidak ikut pakai cincin batu (di mana enaknya menggunakan sesuatu yang juga dipakai terlalu banyak orang?) dan saya makan nasi merah (karena makan nasi putih bikin tambak gemuk. Yang ini beda. Sorry).

Oneplus One adalah salah satu smartphone terbaik menurut banyak situs gadget terkemuka dan banyak orang yang belum tahu, tidak mau tahu dan tidak akan mau tahu karena sudah dihipnotis oleh merk-merk smartphone pengoyak kantong-pembobol rekening bank-peningkat harga diri.

Oke.. Kembali ke perjalanan saya memburu Oneplus One di Bandung…

Saya mutar-mutar keliling BEC sampai betis saya yang awalnya kokoh menjadi lembek, tapi tidak satupun toko yang menjual Oneplus One. Saya sempat heran juga. Masa iya di BEC yang segede Gaban bengkak ini tidak ada Oneplus One?

Bahkan saya sempat dongkol waktu salah seorang penjaga toko bilang, “Wah HP yang bapak cari itu belum keluar pak!”

Belum keluar??? Ya ampun… Saya langsung bersimpuh memanjatkan doa untuk kesuksesan tokonya.

Sampai di hari saya harus meninggalkan Bandung, saya tetap tidak menemukan smartphone buatan Cyanogen itu.

Urusan bisnis pun harus lanjut ke Jakarta. Tanpa membuang kesempatan, lagi-lagi saya bela-belain mengejar Oneplus One si cantolan hati walaupun jadwal kegiatan saya sedemikan tidak padatnya, hehehe…

miradi_skin_care

NNNaaahhhh, di Jakarta ternyata ada Oneplus One (ya iyalah kalau nda ada juga saya bisa nangis di pundak satpam mall), tapi sayangnya tidak satupun toko yang ready stock barangnya. Semua toko yang saya datangi selalu menelpon ke seseorang dulu untuk menanyakan harga. Anehnya, 99% toko memberikan harga yang sama. Saya sempat curiga jangan-jangan memang mereka menelepon orang yang sama!

Hampir saja saya kalap dan langsung sepakat membeli. Tapi saya ingat, beberapa hari sebelum ke Bandung saya sempat liat Oneplus One di Lazada. Waktu itu saya cuekin saja karena malas nunggu kiriman paket yang lama. Saya mikirnya alangkah bahagianya hidupku ini bila di Bandung saya bisa langsung menggenggam mulusnya tubuh Oneplus One.

Jadi saya bilang ke mbak-mbak penjaga toko itu yang dandanannya menor untuk memberi saya sedikit waktu browsing dulu. Dia pun setuju tapi sambil pasang ekspresi sinis nan arogan yang seolah berkata, “Halah, gaya banget sih pak pake browsing segala..”.

Tapi saya juga membalasnya dengan ekspresi tak kalah sinis yang seolah berkata, “Biarin. Emang duitnya dari engkong lu? Muke gile lu!”

“Duh, bapak segitunya…”, kata ekspresi si mbak menor.

Dan tahukah Anda, ternyata harga barang di Lazada berselisih 600 ribu rupiah dari harga yang mbak “menorly expressive” itu patok! Sudah garansi resmi pula. Itupun sudah termasuk back cover motif bambu yang keren. Saya suka sekali motif bambu untuk smartphone saya ini. Makin menambah keunikannya. Saya tidak bisa membayangkan motif lain misalnya motif cinta segitiga atau motif balas dendam (garing….).

Karena saya takut kehilangan nyawa akibat nekat menawar hingga 600 ribu rupiah, saya pun memutuskan untuk segera kabur dari depan batang hidung si mbak-mbak itu. Meninggalkannya dalam damai, tanpa perang ekspresi lagi.

Jadilah saya memesan di Lazada dan terpaksa harus menjalani lagi momen yang saya benci: hari-hari penantian datangnya barang. Hari-hari yang diisi dengan rasa penasaran yang menyiksa yang penuh dengan kegiatan mengecek status pengiriman ribuan kali dalam satu jam. Makan pun jadi tidak nyenyak…

Pengalaman ini akhirnya membuat saya mikir, lama kelamaan toko offline bakal terancam eksistensinya kalau begini terus. Mereka mematok harga yang lebih tinggi dari Lazada kemungkinan karena mereka bukan distributor langsung dan harus bayar sewa lapak. Sementara di Lazada justru para distributor menjajakan langsung ke konsumen.

Toko offline mungkin masih akan berjaya beberapa tahun ke depan. Mereka masih akan panen uang dari tangan orang-orang yang masih kurang maksimal melarutkan internet dalam kawah kehidupannya (yang mayoritas adalah angkatan-angkatan semuran saya dan ke atasnya). Tapi pedagang offline ini harus waspada karena beberapa generasi yang akan datang sudah terbiasa dengan internet dan kalau situasinya masih seperti ini maka generasi masa depan itu tidak akan menemukan alasan yang tepat untuk berbelanja di toko gadget offline.

Kenapa harus capek-capek ke mall untuk berbelanja barang yang lebih mahal? Kucing pun bakal memilih belanja online dari rumah saja (jangan pernah meremehkan kemampuan kucing, karena menurut sebuah lagu dangdut, seekor kucing pernah menari dan mengajak Meggy Z bercanda).

Sebenarnya ini fenomena yang mengerikan untuk pengusaha toko gadget offline. Apalagi Lazada aktif beriklan di internet, media cetak maupun televisi.

Mereka harus waspada.

Dan bila hari itu tiba, saya pasti akan merindukan perang ekspresi dengan mbak-mbak yang menor. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*