Home » Ngalor Ngidul » Review Film » Review Film Keluarga Yang Tak Kasat Mata

Review Film Keluarga Yang Tak Kasat Mata

Saya bukan kritikus film. Pengamat film? Juga bukan. Orang jago ngomong soal film? Kejauhan, Mas! Ini sekadar review film Keluarga Yang Tak Kasat Mata dari sudut pandang penonton awam. Ya saya ini tidak awam-awam juga sebenarnya. Saya ada di kategori masyarakat pecinta film tapi alergi sama sinetron Indonesia. Saya adalah orang yang selalu menghargai karya seni (kecuali sinetron yang menurut saya benar-benar karya bisnis). Bahkan saya sebenarnya alergi dengan orang-orang yang bisanya cuma mengkritik setiap film yang mereka tonton. Orang-orang yang tidak pernah berkarya tapi mencari-cari kesalahan dalam sebuah film. Tapi ironisnya... Hari ini saya (mungkin) harus membenci diri saya karena dalam beberapa…

Review Overview

0

Saya bukan kritikus film.

Pengamat film? Juga bukan.

Orang jago ngomong soal film? Kejauhan, Mas!

Ini sekadar review film Keluarga Yang Tak Kasat Mata dari sudut pandang penonton awam. Ya saya ini tidak awam-awam juga sebenarnya. Saya ada di kategori masyarakat pecinta film tapi alergi sama sinetron Indonesia.

Saya adalah orang yang selalu menghargai karya seni (kecuali sinetron yang menurut saya benar-benar karya bisnis). Bahkan saya sebenarnya alergi dengan orang-orang yang bisanya cuma mengkritik setiap film yang mereka tonton. Orang-orang yang tidak pernah berkarya tapi mencari-cari kesalahan dalam sebuah film.

Tapi ironisnya… Hari ini saya (mungkin) harus membenci diri saya karena dalam beberapa menit ke depan saya akan melakukan hal yang sama seperti mereka.

Ya, tentunya dengan sebuah sebab yang jelas. Karena biasanya saya rela nulis review film di blog saya kalau setelah nonton filmnya saya merasakan satu diantara dua perasaaan ini: terlalu kagum atau terlalu kecewa.

Jadi ceritanya begini… (Zoom in + blur)

Semingguan yang lalu, sahabat saya Aldi menceritakan tentang sebuah film yang segera tayang di bioskop. “Film horror bagus. Diangkat dari kisah nyata!” kata dia. Memang dia tahu betul saya tidak pernah keberatan untuk menyerahkan segepok uang ke pemilik jaringan bioskop 21 supaya diizinkan masuk ke ruangan gelap dan dingin untuk dikaget-kageti selama satu jam lebih.

Film horror terakhir yang saya tonton adalah Pengabdi Setan. Filmnya bagus. Luar biasalah menurut saya yang awam ini. Tapi nampaknya film horror yang satu ini bakal lebih mantap karena diangkat dari kisah nyata!

Sohib saya itu pun menunjukkan sebuah thread di Kaskus. Di situlah awal dari perjalanan film ini. Di thread itu seorang user bernama Genta menceritakan tentang kisah menyeramkan yang terjadi saat dia berkantor di Jogja.

Waah, saya langsung tertarik.

Saya memang orang yang selalu tertarik dengan film-film kisah nyata. Hanya dalam film kisah nyatalah kita bisa mendapatkan hikmah untuk pelajaran hidup. Alur ceritanya juga tidak akan melebar ke mana-mana dan akan tetap realistis sesuai kejadian asli.

Makanya saya tidak tertarik ketika seorang teman mengajak saya jutaan kali untuk membuang-buang waktu dua jam dalam kehidupan kami yang singkat ini sekedar untuk melihat pria gondrong pake palu berantem lawan pria berotot warna ijo.

Ada juga ajakan nonton film baru lainnya yang dimainkan superhero secara grosir, rame-rame membela kebenaran. Saya jadi berpikir, sebobrok itukah mental manusia jaman sekarang, sampai-sampai superhero pun sudah main keroyokan?

Eh, sampe mana tadi ya?

Oiya, soal saya lebih suka film kisah nyata.

Jadi akhirnya saya pun membaca thread yang disarankan si Aldi. Saya ajak istri saya Ririn Parasjelita untuk membaca bareng, ternyata dia mau. Alhamdulillah… Soalnya suasana sore itu hujan lebat, kalau baca sendiri rasanya kurang apa ya… Kurang berani kali ya, hahahha…

Setelah membaca beberapa paragraf, kami makin terhanyut dalam kisah seram si Genta. Sampai kami lupa waktu. Berjam-jam kami membaca. Sampai kami juga lupa melakukan kebiasaan kami tiap 10 menit: bertatapan mesra lalu berbisik halus, “You know, I love you so much, honey bunny…”

Cieee.. Cieeee.. Yang romantis.. Cieee.. Norak!!!

Lalu sampailah akhirnya kami di penghujung tulisan itu. Puas kami bacanya. Kami pun deal kalo film ini WAJIB kita tonton.

Sebenarnya istri saya tidak suka nonton film horror di bioskop. Saya harus nego cukup alot sebelum akhirnya dia setuju. Negosiasi ke istri memang salah satu kelebihan saya yang bisa saya sombongkan.

Bicara soal jago nego, ini salah satu contohnya.

Pernah suatu kali, gara-gara nonton youtube berjam-jam dan kesasar ke video-video review laptop, saya kepincut sama sebuah laptop tipis yang speknya aduhai tapi harganya alamak.

Sebenarnya saya tidak butuh-butuh amat laptop canggih itu. Saya masih punya laptop jadul yang masih sering berfungsi normal. Cuma masalahnya, ketika hati seorang lelaki sudah tertambat ke sebuah barang elektronik, siapa sih yang bisa menghalangi?

Istri!

Ya, betul. Istri.

Istri akan selalu berusaha menghalangi dengan segala kekuatan yang dia punya: tatapan, gestur, mimik dan pitch control.

Saya tau, istri saya pasti tidak akan setuju. Dia tidak pernah mengizinkan pembelian sebuah barang elektronik baru (apalagi yang harganya lebih mahal dari seikat sayur bayam) sepanjang barang lama masih ada dan berfungsi baik.

Akhirnya saya coba nego, tentunya dengan persiapan matang pake skill tingkat dewa.

“Mama sayang, kayaknya kita butuh beli mobil baru untuk Papa pake tugas sehari-hari ke Rumah Sakit”, kata saya memulai obrolan.

Wusss… Wussssssss!!!!!

Istri saya melompat kaget dari kursinya sampe jidatnya nyaris menyentuh plafon.

“Untuk apaah??? Kan si Ijo masih ada! Masih bisa jalan. Jarang dipake pula. Kenapa harus beli lagi? Boros!!!” kata dia di udara.

“Iya, Ma. Tapi…”

“Janganlah, Pa. Itu boros namanya. Pakai saja si Ijo!”

“Iya ya, si Ijo masih bisa jalan. Daripada buang-buang duit. Boros ya, Ma..”

“Iyalah, sayang.. Mana ada mobil murah. Namanya mobil ya mahal, sayang..” istri saya mulai melembut setelah mendarat kembali di kursi. Ya mahallah. Standar mahalnya pake harga sayur bayam soalnya.

“Betul, Ma. Itu pengeluaran tidak produktif. Beda ya kayak misalnya uangnya dipake beli laptop. Sudah harganya jauh lebih murah dibanding mobil, bisa dipake kerja juga, mendatangkan uang deh akhirnya! Malah untung beli laptop. Betul ndak, sayang?“

“Nah betul, Pa. Kalau laptop boleh…”

See?

That was super easy! 😀

Laptop idaman yang tak terlalu dibutuhkan itu pun akhirnya hadir dalam genggaman, hehehe…

Laaaah, ini sampe mana ini ceritanya?

Oh sampe deal mau nonton filmnya.

Oke, jadi kami pun sepakat untuk nonton film Keluarga yang Tak Kasat Mata. Alhamdulillah, kami berhasil dapat tiket tadi malam.

Beli tiketnya tidak ngantri-ngantri amat. Harga tiketnya 40 ribu. Berdua jadinya 80 ribu. Filmnya 77 menit, artinya harga per menitnya jatuh-jatuhnya sekitar 1038 perak. Beda jauh dengan film Wage yang durasinya 2 jam dengan biaya per menit 666 perak. Tapi ndak papalah.

Apa? Pelit? Tidaklah… Bukan pelit, tapi kan segalanya perlu dihitung. Maklumlah saya ini kan pedagang. Hidup di negara dunia ketiga pula!

Masuklah kami berdua ke studio 3. Bergandengan tangan mesra ibarat sepasang merpati dimabuk cinta. Pernah liat kan merpati gandengan?

Nah, tidak lama kemudian film dimulai….

Muncullah sosok Genta. Si pemeran utama.

Kening saya mulai mengernyit. Mata saya mulai memicing. Bulu mata palsu istri saya mulai copot…

Lah? Genta kok seperti itu? Kok beda?

Dalam tulisan di Kaskus kami mendapat gambaran Genta itu mahasiswa yang mencari duit sampingan. Badannya langsing, bahkan bisa dibilang kurus. Lah ini? Berotot, bro!

Genta dalam film ini digambarkan sebagai pria ganteng berjaket kulit anak Harley dengan tubuh atletis. Kami berani bertaruh bodi kayak gitu pasti hasil olahan gym!

Bingung saya. Di tulisan itu Genta ini sosok yang menu makanannya ala-ala mahasiswa. Sering makan mie instant. Lha terus bisep segede helm standar itu dapat dari mana? Tumbuh liar begitu saja kayak eceng gondok di rawa Pening? Enak amat… Saya juga mau kalo kayak gitu!

Yaah skip skiplah. Mungkin saya harus membiasakan diri saja dengan sosok Genta di film ini. Terserah dialah… Mau pake ototnya berantem dengan setan, atau malah bersembunyi ketakutan di balik bongkahan bisepnya, terserah dialah…

Lalu muncul lagi sosok Rudy.

Ini lebih kacau lagi.

Mas Rudy ini, dalam tulisan di Kaskus digambarkan sebagai orang Jawa. Lah dalam film kenapa malah penampakannya nyaris bule?

Mungkin nama lengkapnya Raden Mas Rudy Monconegoro?????

Mas Rudy Monconegoro di film ini dialeknya Jawa medok. Tapi sering medoknya ilang, kadang medoknya muncul lagi. Yang ilang muncul itu mestinya setannya, bukan medoknya, Mas!

Lucunya, Mas Rudy Monconegoro ini selalu pake batik. Mungkin berhubung wajahnya blasteran, jadi dipaksakan bernuansa Jawa lewat pakaian. Bikin saya geleng-geleng. Apa kalender di rumah dia harinya Jum’at semua yak?

Rudy Monconegoro ini tidak pernah tertawa dan selalu keliahatan galau dalam menanggapi segala hal. Dalam salah satu adegan, ketika Genta menceritakan tentang mimpi buruknya, Mas Rudy Monconegoro menyimak dengan ekspresi galau. Yes, G.A.L.A.U.

Ketika Genta sedang cerita soal mimpi seramnya, dia malah memandang ke arah lain sambil ekspresi mikir. Padahal orang normal pasti akan menyimak serius apa isi mimpi buruk temannya. Itu kan cerita seru, antusias dikit kek!

Ini malah melihat ke plafon, gelisah, galau, mikir… Seperti ekspresi seseorang yang mendengar sahabatnya curhat, “Bro, pacarku hamil. Menurutmu aku harus gimana?”

Sering liat kan ekspresi galau ala-ala sinetron yang dahinya mengernyit, mukanya serius, tarik nafas dalam-dalam terus dihembus kuat seperti sedang berusaha mengeluarkan 2,8 ton masalah dalam bentuk udara? Nah ekspresi itu yang saya maksud!

Oke kita tinggalkan Mas Rudy yang asline Jowo tapi mukane Monconegoro.

Kita beralih lagi ke pemain lainnya. Ada Mas Yoga yang sama seriusnya dengan Rudy Monconegoro dan juga tidak kalah atletis bodinya. Mari kita anggap saja nama lengkapnya Yoga Jagaraga.

Ada satu momen, ketika dalam sebuah adegan ketiga cowok atletis ini berdiri menghadap ke penonton dalam satu frame, saya merasa Deja Vu. Kayaknya saya pernah melihat adengan ini sebelumnya. Di mana ya?

Pernah liat mereka di film apa ya?

Saya berusaha mengingat-ingat. Dan akhirnya saya ingat.

Ternyata kesamaannya bukan dengan film lain. Persamaannya justru dengan kejadian waktu saya daftar di gym, terus saya disuruh pilih satu diantara tiga personal trainers. Ketiga pria bergelimang otot nan berderai keringat itu berjejer di depan saya, terus mbak-mbaknya bilang, “Silahkan pak, pilih aja mau dilatih sama trainer yang mana?”

Kejadiannya sama persis!

Nah masalahnya, penampilan aktor-aktor ini benar-benar merusak ‘suasana ‘ kantor yang mestinya dipenuhi anak-anak mahasiswa bodi kerempeng dengan pakaian casual yang memang niat kerja sampingan untuk nambah duit kuliah. Sementara realitasnya di Indonesia, anak kuliahan dengan tampang bule dan bodi hasil olahan gym kayak begini mah paling-paling cuma akan melakukan dua hal: jadi foto model atau dugem!

Saya dan istri mulai kehilangan nuansa dari tulisan Kaskus yang kami harapkan.

Kemudian ada sosok Mas Bebek. Saya heran dengan penggambaran sosok ini di film. Fungsinya cuma satu: tiap kali ada tanda-tanda kemunculan setan, dia selalu mengajak pulang!

“Udah pulang yuk..”

“Duh, pulang yuk!”

“Udah ah kita pulang aja!”

Membosankan! Menyebalkan! Seandainya saya temannya dan lagi bareng-bareng di kantor itu, sudah saya bentak, “Pulang saja kau sana, penakut! Pulang! Besok kau daftar kerja di salon saja!”

Masalahnya, di tulisan Genta sosok Bebek ini tidak seperti di film. Memang dia juga takut dengan penampakan setan, cuma tidak selalu ngajak pulang setiap kali mulutnya bicara.

Itulah keparahan casting dan penggambaran tokoh-tokoh yang berbelok dari tulisan aslinya.

Tapi ada yang lebih parah lagi.

Inilah yang sangat mengecewakan bagi kami.

Okelah, sosok mahasiswa pencari duit sampingan diganti dengan cowok-cowok indo ganteng nan berotot baja mungkin bisa saya paksakan untuk terima. Tapi ternyata tidak cuma sampai di situ, cerita ternyata adegan-adegan dalam film ini hampir 100% beda dengan tulisan Genta!

Bahkan bukan sekedar membuat adegan-adegan yang tidak sesuai tulisan, malah ada beberapa tokoh yang ditambah. Salah satunya adalah karyawan cewek yang ikutan kerja malam-malam di kantor. Lha ini cewek dari mana?

Ke sini-sininya, Genta kayaknya suka sama tuh cewek. Sampai ngantar pulang segala. Padahal Genta ini di kisah yang nyata cuma sibuk ngurus setan, kenapa di film malah sempat-sempatnya main hormon?

Di kantor juga dibuat tokoh Mbok yang tugasnya masak dan bikin minum. Di tulisan Genta tidak ada si Mbok ini. Awalnya saya berusaha maklumi, mungkin Genta lupa nulis soal kehadiran si Mbok. Bisa jadi Mbok memang ada.

Akan tetapi karena si Mbok ini sering muncul tiba-tiba di waktu yang salah sampe berkali-kali bikin jantung saya capek dan hampir minta resign, lama-lama saya kesal juga sama si Mbok ini. “Ini Mbok kenapa malah lebih seram dari setannya?” kata istri saya protes. Ya jadi akhirnya kami pun ikut mempermasalahkan kehadiran si Mbok Jagongagetin ini.

Cerita makin lama makin beda dibanding kisah aslinya. Ada Aura Kasih Maribercintadenganku yang jalan-jalan ke lereng Gunung Merapi segala. Ini siapaaaah???? Hanya karena dirimu cantik, bukan berarti aku langsung bisa menerima kehadiranmu begitu saja, Kasih…

Di situlah puncaknya. Kami pun memutuskan untuk mengubah judul film ini menjadi “Film yang (Sebaiknya) Tak Kasat Mata”.

Betul. Kami berdua keluar. Benar-benar pulang, mengikuti ‘saran’ Mas Bebek.

Kami keluar karena ternyata lebih sulit untuk mencari kesamaan film ini dengan kisah aslinya dibanding mencari jalan keluar dari bioskop!

Bagi kami ini bukan film yang dibuat dari tulisan Genta. Ini film yang dibuat dengan judul yang kebetulan sama persis dengan kejadian yang sedikit sama tapi nama-nama lakonnya sama.

Bingung kan? Sama!

Sekali lagi saya bukan kritikus film. Saya bahkan tidak nonton film ini sampai selesai. Tapi di negara ini kita bebas menyuarakan pendapat, ya toh?

Saya pikir kita tidak perlu menjadi seorang yang jago-jago amat untuk menilai sebuah karya seni, karena karya seni itu selalu relatif sudut pandangnya.

Seni adalah keindahan.

Seni adalah hiburan.

Tidak ada salah dan benar.

Pembuatnya bebas mengekspresikan karyanya, sebebas penonton menilai karya itu.

Bagi Anda yang mau menonton, saya sarankan tidak usah membaca tulisan Genta terlebih dahulu di Kaskus. Langsung nonton saja.

Kalau Anda baca kisahnya di Kaskus duluan, maka akan sulit menahan diri untuk tidak pergi meninggalkan ruangan.

Tahukah Anda apa hal terburuk kalau Anda berhenti menonton film ini sebelum selesai?

Ya, Anda akan membayar biaya per menit yang lebih tinggi dari Rp 1038 rupiah 😀

Jadi nonton saja sampai habis. Rugi duitnya. Ingatlah selalu apa kata istri saya, “Jangan boros, sayang…” 

Saya bukan kritikus film. Pengamat film? Juga bukan. Orang jago ngomong soal film? Kejauhan, Mas! Ini sekadar review film Keluarga Yang Tak Kasat Mata dari sudut pandang penonton awam. Ya saya ini tidak awam-awam juga sebenarnya. Saya ada di kategori masyarakat pecinta film tapi alergi sama sinetron Indonesia. Saya adalah orang yang selalu menghargai karya seni (kecuali sinetron yang menurut saya benar-benar karya bisnis). Bahkan saya sebenarnya alergi dengan orang-orang yang bisanya cuma mengkritik setiap film yang mereka tonton. Orang-orang yang tidak pernah berkarya tapi mencari-cari kesalahan dalam sebuah film. Tapi ironisnya... Hari ini saya (mungkin) harus membenci diri saya karena dalam beberapa…

Review Overview

0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*