Home » Ngalor Ngidul » TIME TRAVEL Marketing: Salah Kaprah Mengikuti Trend

TIME TRAVEL Marketing: Salah Kaprah Mengikuti Trend

Kemarin saya dan istri main ke mall. Istri saya tertarik dengan barang display sebuah stand yang menjual hijab.

Kami masuk ke stand itu. Penjaganya seorang Ibu berusia kira-kira separuh baya. Rambutnya teruntai lurus, sebagian sudah memutih. Kulit wajahnya sudah dihiasi kerutan yang seolah mengukir banyak pengalaman manis dan pahit kehidupan selama hayatnya

Lalu dia menyapa istri saya,”Cari hijab apa, Kakak?”

Gubrak!

Samber gledek!

*          *           *          *          *          *          *          *

Saya menamakan strategi pemasaran yang dilakukan ibu itu dengan Time Travel Marketing. Ya saya menamankannya begitu berdasarkan apa yang kami rasakan ketika itu. Kami merasa masuk mesin waktu dan berangkat ke masa 42 tahun dari sekarang!

Ibu itu cuma mengucapkan empat kata, tapi berhasil membuat kami merasa sangat sangat sangat tua.

Ini ironi, karena sebutan kakak yang biasa digunakan oleh customer service justru ditujukan agar pelanggan merasa muda. Itu seperti pujian bagi mereka yang merasa sudah mulai menua. Seperti saya. Puas???? Puas??? Puas????

Saya maklum, memang istilah kakak lagi ngetrend digunakan dalam pelayanan customer. Saya sering dipanggil sebagai kakak oleh gadis-gadis yang berdiri di balik mesin kasir cafe. Dan saya senang. Rasanya gimana gitu. Mengingatkan saya masa-masa kuliah ketika ada yunior cantik yang berpapasan di koridor kampus lalu dia menyempatkan tersenyum manis sambil menyapa “Halo, Kakak…”. Itu rasanya luar biasa.

Hasilnya, seringkali efektif. Kopi paling murah yang biasanya saya pesan kalau pas kasirnya lagi cowok, berubah jadi yang agak mahalan dikit karena kasirnya cewek dan manggil kakak.

miradi_skin_care

Oke oke, saya tau pikiran Anda. Tapi saya ini cuma lelaki biasa. Saya bisa apa?????

Sekarang, mau isi bensin, mau beli rokok di mini market, nanya-nanya harga mobil, semua cewek-cewek itu akan memanggil kakak. Itu menjadi trend.

Dalam dunia marketing, kalau ada satu strategi yang dianggap berhasil, dengan secepat kilat pasti akan diadopsi oleh banyak perusahaan dan pebisnis lain. Itu baik dan menurut saya logis.

Tapi ada tapinya…

Metode yang berhasil di usaha orang lain, belum tentu berhasil di usaha kita sendiri. Tentunya harus lihat kondisi juga. Misalnya si Ibu tadi, dia mencaplok strategi manggil kakak dalam usahanya membuat customer merasa senang padahal kondisi tidak memungkinkan untuk itu.

Kalau strategi yang membawa hasil bagi orang lain ternyata tidak sesuai dengan kondisi usaha kita, itu juga tidak berarti strategi tersebut tidak bisa diterapkan di bisnis kita. Ibu tadi mestinya sadar bahwa tujuan dari strategi manggil kakak adalah membuat pelanggan merasa mereka masih tampak muda. Nah karena tujuannya adalah membuat pelanggan merasa muda, sebaiknya Ibu tadi memanggil kami dengan “Nak”. Sedikit modifikasi, hasil yang didapat bisa tetap sama. Itu kreatif.

Dunia bisnis itu butuh kreatifitas. Bisnis itu mencintai orang kreatif dan itulah kenapa orang kreatif sangat mencintai bisnis.

Entah ada hubungannya dengan sapaan atau memang produk Ibu tadi memang tidak menarik, istri saya tidak membeli apa-apa di sana. Dan itu tidak masalah bagi saya karena dia sudah punya banyak hijab dalam jumlah yang tidak logis bagi saya. Jumlah warna cuma ada 12. Jumlah hari dalam seminggu cuma ada 7. Saya benar-benar tidak bisa memikirkan satu alasan logis pun untuk seorang wanita memiliki hijab lebih dari 12. Tapi saya tetap membelikannya hijab manapun yang dia mau.

Karena cinta memang tidak logis, Kakak….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*