Tubek Ada di Semarang!

Malam itu saya dan Ririn sudah beranjak keluar dari mall Ciputra setelah setengah mati mencari vertical grip untuk kamera kami. Ketika melintasi area McDonald tiba-tiba seorang laki-laki di meja makan memanggil ke arah saya dengan isyarat tangan. Tanpa senyum. Air mukanya dingin. Matanya terbelalak tajam. Seram juga. Dengan ekspresi seperti itu dia sudah sanggup membuat bocah usia 3 tahun menangis ketakutan.


"Ih... Tubek!" Tiba-tiba istri saya berteriak.


Saya memicingkan mata untuk mendapatkan fokus paling tajam, Walah, memang betul. Ternyata itu benar-benar Tubek!



Tubek alias Tuvek alias Taufik


Saya dan Ririn segera menghampiri tangan Tubek untuk menyalaminya. Tak menyangka Tubek bisa muncul di Semarang. Tubek adalah sahabat kami di SMA dulu dan sudah sekian lama jasad kami tidak berjumpa. Tubek bertugas di PLN dan ditempatkan di kantor PLN Pematang Siantar, sebuah daerah yang menurut Tubek memiliki cuaca yang sangat kompromis. Kata dia, "Di Siantar, kalo ko tidur malam ndak pake baju, ndak kedinginan jako itu. Tapi kalo ko pake selimut, ndak kepanasan jako juga!".


Luar biasa! Tepuk tangan yang meriah buat Siantar!


Malam itu Tubek sedang makan malam bersama Asti, istri tercinta. Ternyata dia lagi mengikuti diklat PLN di Semarang. Rencananya dia akan berada di Semarang selama seminggu ke depan. Makanya setelah puas saling menanyakan kabar masing-masing, kami pun langsung menyusun rencana jalan-jalan sore sambil ngeceng di tempat-tempat perngecengan.


Acara jalan-jalan sore sambil ngeceng di tempat-tempat perngecengan itu pun akhirnya baru terlaksana satu hari menjelang Tubek pulang ke Sumatera. Rombongan terdiri dari saya, Ririn, Dira, Tubek, Asti dan teman-teman dari PLN ada Reza, Amir dan Zulkifli. Kami meninggalkan asrama diklat PLN dan langsung mengarah ke sebuah tempat makan yang menurut Tubek sangat terkenal di Semarang. Anehnya, saya dan Ririn tidak tahu tempat makan yang Tubek maksud, padahal kami berdua sudah merasa layak menjadi pemandu wisata untuk daerah Semarang dan Jawa Tengah. "Namanya Warung Nasi Pecel Yusri. Masa' ko tidak tau? Apa ji?", kata Tubek. Kalimat penuh kesangsian yang sangat khas Tubek.


Kami pun meluncur ke Warung Nasi Pecel Yusri yang kata Tubek terkenal itu.

Ternyata warung itu letaknya di bilangan simpang lima dan sebenarnya warung itu sudah sering saya lewati tapi saya tidak tahu kalau sebenarnya warung itu cukup terkenal. Maklum saja, di sekitarnya banyak terdapat warung sejenis. Dan lucunya, warung itu bukanlah Warung Nasi Pecel Yusri seperti yang Tubek bilang, melainkan Warung Nasi Pecel Yu Sri. Bukan Yusri, tapi Mbak Sri!


Begitu sampai di lokasi kami langsung menyerbu hidangan yang ada. Makanan di sana ternyata cukup enak. Tidak kalah dari McDonald dan juga sudah pasti tidak menang. Lauk pauk di sana memang bukan cuma pecel saja. Ada sate, babat, hati, sayur-sayuran dan sebagainya. Kami langsung tunjuk sana sini memilih lauk pauk yang terlihat enak dipandang mata.



Nikmatnya Makan di Warung Yu Sri


Karena rombongan kami jumlahnya cukup banyak dan lauk pauk yang kami makan sangat bervariasi ragam dan jumlahnya, maka setelah kami selesai makan terjadilah kemahabingungan dalam proses pembayaran. Sebagian dari kami lupa sudah makan lauk apa dan yang lebih parah, ternyata Mbak Sri si empunya warung tidak fasih berbahasa Indonesia. Yang terjadi kemudian adalah acara tunjuk-tunjuk lauk pauk, plus saling kirim isyarat primitif untuk berkomunikasi tentang harganya.



"Mbok, iki beropo?"


Tapi untung ada Ridwan.


Ridwan adalah seorang laki-laki ganteng asal Gresik yang pemahamannya sangat mendalam mengenai kesusastraan Jawa. Kami bertemu dengannya di warung Yu Sri. Dan usut punya usut ternyata dia teman kantornya Tubek! Hanya saja dia datang duluan ke warung itu sendirian.


Akhirnya proses pembayaran yang njelimet tadi bisa teratasi berkat kehadiran Mr. Java Translator, Mas Ridwan. Namun tidak hanya sampai di Warung Yu Sri saja, Ridwan bahkan didaulat sebagai penerjemah merangkap juru negosiasi dalam setiap transaksi ekonomi yang terjadi sepanjang malam. Mulai dari penerjemah di setiap warung sampai negosiasi alot melawan pedagang mobil remote!


Kemudian kami meluncur ke Toko Bandeng Juwana. Toko ini adalah toko oleh-oleh paling terkenal di Semarang. Puluhan bingkai berisi tanda tangan artis yang pernah datang ke sana terpampang di dindingnya. Bahkan tanda tangan Rudi Voller, pelatih sepakbola tim nasional Jerman, juga ada! Saya tidak sanggup membayangkan bagaimana seorang Rudi Voller yang super sibuk berangkat naik pesawat dari Berlin, transit di Bangkok, menginap satu malam, besoknya naik pesawat pertama menuju Kuala Lumpur, di Kuala Lumpur pesawatnya delay tiga jam, terus akhirnya naik pesawat lagi dan selamat tiba di Jakarta, kemudian ke terminal, eh tau-tau dompet dicopet, dua jam menunggu Satpam mencari pelakunya tapi tidak ketemu, Rudi Voller pun ihklas dan tawakkal, kemudian beliau naik bis malam ke Semarang dan akhirnya sampai di Toko Bandeng Juwana ini untuk membeli tiga ekor ikan Bandeng tanpa tulang!


Luar biasa...


Aura Kasih berpose di depan Bandeng Juwana


Kembali ke dunia nyata, ternyata telah berdus-dus oleh-oleh diborong oleh rombongan turis Sumatera yang saya bawa ini. Bagasi mobil sampai penuh. Saya sangat senang melihat mereka begitu gembira bisa membawa pulang oleh-oleh yang begitu banyak. Tapi tentu saja yang paling bergembira di antara mereka semua adalah si pemilik Toko Bandeng Juwana.


Tujuan selanjutnya adalah Nasi Kucing. Lagi-lagi sebuah tempat makan yang saya dan Ririn tidak pernah tahu. Menurut informasi yang Tubek terima dari sebuah sumber yang bisa harus dipercaya, nasi kucing itu wuenaaaaaakkk tenan! Kabarnya, seorang anak manusia akan menyesal selama hayat dikandung badan kalau berkunjung ke Semarang tanpa mencicipi Nasi Kucing.


Berhubung warung Nasi Kucing mulai buka pada pukul 12 tengah malam, yang mana itu adalah jam operasi yang aneh untuk sebuah warung makan, maka diperlukan tempat nongkrong sampai waktunya tiba. Kami pun meluncur ke sebuah arena bilyar di daerah Pandanaran. Di sana kami buka tiga meja, memilih stik dan mulai bermain dengan riang hati.



Mau coba sodokan anak Medan?


Sampai akhirnya kami kelelahan dan mulai memikirkan Nasi Kucing lagi. Tapi sayang, waktu belum menunjukkan pukul 12. Nasi Kucing belum juga buka. Untuk mengisi waktu, kami memutuskan untuk berkaraoke. Kebetulan tempat karaoke terletak di lantai dua arena bilyar tadi.


Kami memesan kamar terbaik di karaokean itu. Kamar karaoke berlantai dua dengan daya tampung maksimal 35 orang. Di lantai dua kamar itu terdapat sebuah meja bilyar dengan kondisi sangat terawat. Layar monitornya seluas 2 x 3 meter dan masih dilengkapi dengan dua buah televisi. Sound systemnya menggelegar melantun bingar.



"We want Cat Rice! We want Cat Rice!"



Ketik : IDOLA LICIK (spasi) DIRA


Dira dan Reza menyanyi duluan. Reza tampil dengan lagu-lagu dari band Andra and The Backbones sementara Dira awalnya mengusung tembang-tembangnya Agnes Monica. Ternyata Agnes Monica hanya kamuflase saja, buntut-buntutnya dia kembali ke aliran kerasnya yang dulu :



Satanic Black DunkDoot!



Tubek yang dulu rela mati demi Metallica sekarang melunak ke aliran pop manis.



Asti selalu setia menjadi penyanyi latar buat Akang Tubek


Sementara Amir, Zul dan Ridwan asyik bermain bilyar di lantai dua. Sekali dua kali terdengar lengkingan vokal mereka mengiringi lagu. Tapi kedengarannya seperti erangan. Erangan penuh arti. Entahlah.


Karaoke Time berakhir tepat satu jam setelah kami memulainya. Rasa lapar sudah hadir kembali mengisi relung lambung. Kami pun kembali memusatkan seluruh perhatian, energi dan pikiran positif kepada Nasi Kucing, makanan paling dahsyat di Semarang menurut seseorang yang entah siapa, namun Tubek percaya padanya.


Mobil melaju melintasi aspal jalan Gajah Mada yang basah tersiram air hujan gerimis. Beberapa meter dari jembatan terlihatlah sebuah warung tenda yang ramai pengunjung. "Kayaknya itu mi warungnya!" penuh semangat Tubek bersahut.


Parkiran begitu padat sehingga saya harus memarkir mobil agak jauh dari lokasi warung. Dengan berlari-lari kecil menghindari air hujan, rombongan kami akhirnya berhasil duduk manis tepat di depan pelayan warungnya.


"Mau nasi apa, Mas?" tanya Mas pelayan begitu melihat kami semua masih ragu-ragu dalam mengambil tindakan konkrit.



"Mas, Ini kok Nasi Kucing betulan?"


Ternyata ada bermacam-macam Nasi Kucing, ada nasi kucing dengan lauk babat, nasi kucing lauk bla bla bla dan nasi kucing lauk bla bla bla yang lainnya.


Saya memilih nasi lauk babat. Saya lupa teman-teman memesan nasi dengan lauk apa karena saya sibuk mengamati betapa kecilnya bungkusan Nasi Kucing itu ternyata. Sebungkus nasinya tidak lebih besar dari kepalan tangan saya. "Wah, ndak beres ini.." pikir saya. Saya maklum, namanya juga nasi kucing, tapi saya ini kucingsaurus yang lapar berat! Saya hampir saja memesan lima bungkus, tapi akhirnya saya memutuskan untuk mencicipi sebungkus terlebih dulu.


Mas pelayan meletakkan dua bungkus nasi di depan saya. By default, setiap tamu diberi dua bungkus per orang. Syukurlah. Saya mulai membuka bungkusan nasi saya yang pertama.


Jantung saya loncat dari rongga dada, keluar lewat tenggorokan dan saya muntahkan di atas nasi! Saya terperanjat! Di dalam bungkusan itu hanya ada belasan serpihan babat dan sekitar dua ribuan butir nasi!


Pelan-pelan saya mencuri pandang ke arah Tubek. Ekspresi wajahnya persis seperti orang yang barusan kena tipu milyaran rupiah dalam proyek pengadaan pupuk kandang. Matanya menatap nanar penuh harap ke arah si Mas pelayan, menanti adanya kebijakan lauk tambahan entah itu sekerat daging atau sepotong ikan atau apapun yang bisa dioper ke dalam nasinya yang mulai dingin. Tapi tampaknya itu hanyalah sebuah harapan hampa. Mas pelayan itu cuek saja dan tetap pura-pura sibuk. Nasi Kucing benar-benar membuat kami berperan sebagai kucing betulan dan kami sekarang bersaing ketat memenangkan nominasi Pemeran Kucing Terbaik!



Nasi Kucing : Makin Dimakan, Makin Lemes...


Untung saja ada "Sang Penyelamat" : tempe goreng! Ya, tempe goreng! Seumur-umur saya belum pernah mensyukuri kehadiran tempe goreng sebegitu khidmatnya. Walaupun tempe itu sangat tipis seakan-akan dibelah tujuh kali menggunakan samurai paling tajam dari Jepang, tapi ia cukuplah lebar. Memang tak ada kucing yang makan tempe dalam kehidupan nyata di luar sana, tapi ini darurat, Bung! The Power of Kepepet is speaking!



Tetap saja ludes tak tersisa!


Nasi Kucing menjadi menu penutup petualangan kuliner kami. Walaupun Nasi Kucing dibantu tempe "Sang Penyelamat" tidak sukses mengajak lidah berjoget, tapi kebersamaan kami tetap terjalin dengan sangat hangat, menangkal dinginnya kota Semarang yang membuat mata semakin berat.


Terima kasih untuk semua teman-teman yang sudah main ke Semarang. Kalau nanti main ke sini lagi, you know my number!


Ada yang mau diantar ke Nasi Kucing?



"Meoooong...Hihihi..."

Share:

2 komentar

  1. siantar nya dimana lae..

    aku pernah di sana 3 tahun tinggal di Jl jawa..mulai blum ada Ramayana samape dibangun Ramayana..
    mulai toko sepi jam 7 jl sutomo merdeka udah pada tutup..:)

    sekarang udah rame kai ya.. aku tahun 2001-2005 di siantar...

    ReplyDelete
  2. wkwkwk ... lucu skali penyampaiannya. nasi kucing ya jls gak cocok buat org mksr yg biasa makan ikan 1 ekor per orang... hahaha, lutuna mas epping, kodong....kodong...

    ReplyDelete