Kambing Jantan : Dibungkam Ekspektasi Tinggi?

Sebelum berangkat ke bioskop untuk menonton Kambing Jantan The Movie, saya sangat berharap film ini mampu tampil selucu tulisan-tulisan Raditya Dika yang saya kagumi. Saya berharap bisa terpingkal-pingkal sepanjang film seperti saat saya membaca karya-karya Radit.


Harapan itu tidak terwujud.


Saya heran kenapa film ini malah cenderung menjadi film drama cinta. Apa karena sutradaranya Rudi Soedjarwo? Entahlah. Film ini jadinya seperti AADC ditambah sedikit bumbu Jomblo. Komposisi yang timpang.


Di sepertiga film, suasana "Radit banget" masih terasa. Alur yang mengalir dinamis. Humor yang cerdas dan benar-benar Radit. Tapi sampai di situ saja. Selebihnya film ini menjadi "Rudi banget".


Walaupun menurut saya film ini 1.500% jauh lebih baik dan mendidik dibanding deretan film-film bertema horor dan sex yang akhir-akhir ini menguasai bioskop, tapi dalam genre film komedi Indonesia, Jomblo masih lebih unggul.


Saya bukan kritikus film. Saya adalah orang awam yang ingin dipuaskan oleh sebuah film. Tulisan ini memang adalah pendapat saya pribadi yang mana saya ini orang awam dalam menilai film. Saya buta tentang hal-hal teknis dalam pembuatan film. Saya cuma bisa menilai film dari yang saya lihat lewat mata dan cernaan otak. Tapi mayoritas penonton film di Indonesia bukan kritikus film, kan? Mereka sama awamnya dengan saya.


Btw, saya mau mengucapkan selamat untuk kesuksesan luar biasa Raditya Dika yang saya kagumi. Seorang penulis muda berbakat yang berhasil menciptakan gayanya sendiri. Dan satu hal lagi yang ikut membuat saya bangga adalah status Radit yang seorang blogger telah "mempromosikan" blog dan blogger kepada masyarakat Indonesia. Sebuah film yang diangkat dari blog! Luar biasa!


Terakhir, kalau Radit berniat membuat sekuel filmnya, coba deh kerja bareng Mas Hanung. Pasti bakal beda!

Share:

4 komentar

  1. Emank c mas, ngerasa gitu.. cm radith, edric, edgar, semuanya jadi seneng aja ngeliat mereka,,, hahaha...

    ReplyDelete
  2. kadang2 memang lebih enak membaca. kita bebas menggambarkan, atau sekalian berkhayal jadi pemeran utamanya.

    apalagi banyak adegan di buku yang ndak lolos sensor. dulu jomblo begitu, harusnya ada adegan 'berkelahi' agus vs lani... di filmnya malah batal 'perang' ... hmmm...

    ReplyDelete
  3. Huhe huhe kalo pendapat aku setelah nonton kemaren malem...
    BENER BANGET PENDAPAT KAMU MAS....

    Kocaknya karena RADIT, EDRIC DAN EDGAR

    aku sebagai penggemarnya radit juga puas banget sama aktingnya Radit Cs (maksudnya edgar ama edric) tapi selebihnya (khusus yang bumbu cinta itu) aku bilang gak perlu lah di masukin..

    aku lebih tertarik kalo filem ini lebih nyeritain tentang kehidupan radit sebagai blogger, atau kerja kerasnya radit saat memulai blog nya samapi akhirnya menjad terkenal kayak sekarang.

    Dengan itu kita bisa dapet ilmu nya lah gitu...dari pada bumbu cinta yang aku rasa amat sangat gak tepat di taroh di pilem ini...

    Tapi yang penting saat ini adalah RADITYA BENAR2 FENOMENAL aku aja ampe terinspirasi dengan gaya hidupnya dia..

    GO GO RADITYA DEH wakakakakkakak

    ReplyDelete
  4. wah.. saya belum nonton filmnya....

    ReplyDelete