Kenapa Ayam Tidak Pernah Habis?

Dulu di jaman saya kecil, pertanyaan yang paling sering saya lontarkan adalah "Mana yang muncul duluan, ayam atau telur ayam?". Sekarang saya tidak pernah menanyakan itu lagi setelah beberapa kali mendapat jawaban super serius sampai ada teman yang jawabannya pake bawa-bawa ayat Al Quran dan hadits Nabi.


Tapi kemudian ada pertanyaan lagi tentang ayam yang mengusik pikiran saya. Kenapa ayam tidak pernah habis? Akankah ada suatu hari nanti dimana pedagang ayam bisa-bisa berkata, "Maaf, silahkan tunggu dua bulan lagi. Ayam-ayam dewasa sudah pada mati dan ayam ABG masih harus tamatkan sekolah sebelum disembelih!"


Awalnya pertanyaan ini kedengaran konyol tapi coba lihat di sekeliling kita, berapa banyak warung makanan di sekitar kita yang menyediakan ayam sebagai lauk? Jangankan restoran-restoran tempat makan para pejabat, warung-warung makan sederhana di sekitar kampus juga menjual ayam. Lalu coba Anda jalan ke mall dan melihat sendiri begitu banyaknya ayam dibunuh dan dijajakan di sana?


Lalu pikirkan tentang telur ayam. Telur ayam itu adalah calon ayam. Tapi kita semua makan telur-telur ayam dan akhirnya para calon ayam itu gagal jadi ayam. Mungkin memang ada beberapa orang yang bisa mati kalo tidak makan telur ayam tapi lebih banyak lagi yang memecahkan telur ayam itu untuk menjadikan isinya sebagai adonan kue!


Ayam kena flu burung. Jutaan ayam mati di seluruh dunia...


Ayam gugur di arena pertarungan sabung ayam...


Ayam tewas ditabrak mobil yang pengemudinya mabuk...


Ayam tewas ditabrak mobil yang pengemudinya tidak mabuk...


Begitu banyak contoh yang tidak bisa saya sebutkan semuanya di sini. Ayam dan telurnya kita habisi setiap hari, setiap jam, setiap detik. Lalu kenapa ayam tidak habis ya?


Telur ayam butuh waktu untuk menjadi sebutir telur yang sempurna dan kemudian butuh waktu lagi untuk menetas. Kemudian anak ayam butuh waktu lebih lama lagi untuk menjadi dewasa sebelum siap dipotong. Sementara kita semua tidak bisa menunggu lama dan setiap hari kota kita ini mengkonsumsi banyaaaaak sekali daging dan telur ayam.


Lalu kenapa justru Badak yang terancam punah padahal kita tidak pernah makan Badak goreng ataupun Opor Badak???


Oke, akhirnya saya berusaha mencari jawabannya lewat Mbah Google yang katanya tau hampir segala hal. Berbagai kata kunci saya pakai di antaranya ayam, jumlah ayam, telur ayam, populasi ayam sampai kenapa ayam tidak pernah habis. Untuk kata kunci terakhir itu saya malah dapat hasil pencarian : Kenapa Video Porno tak Pernah Habis? Google juga sudah gila. Ditanya tentang ayam jawabnya bokep!


Akhirnya tak terasa 30 menit saya duduk mencari tentang informasi ini dan tidak mendapat hasil yang memuaskan. Anda bisa bilang saya kurang kerjaan karena memang saya pengusaha. Pengusaha memang harus kurang kerjaan.


Biarlah pertanyaan ini menjadi misteri tak berujung hingga tiba suatu waktu diriku ini bertemu pegawai dinas peternakan yang sanggup menguaknya...

Share:

10 komentar

  1. Posting yang bagus untuk memancing traffic..
    Luar biasa abang yang satu ini!
    Kalau perlu diblod yang ini:
    Kenapa Video Porno tak Pernah Habis?
    bokep!
    ayam

    hwa hwa hwa hwa hwa
    :)

    ReplyDelete
  2. Hahaha.. Terima kasih, Bung Asta!
    Yang ajar sapa dulu dong!

    ReplyDelete
  3. Saya cari mengenai jawaban Kenapa Video Porno tak Pernah Habis? di google.. ADA KOK PAK!!!

    ReplyDelete
  4. Pertanyaan yang unik nih. Kira-kira jawabannya apa Mas? :)

    ReplyDelete
  5. Mungkin informasi ini bisa memberikan sedikit clue...:
    Jadi saat ini ayam itu yang berkaitan dengan produksi ada 2 macam:
    1. Ayam petelur, jadi kerjanya bertelur saja dalam sehari bisa 2 sampe 3 kali
    2. Ayam potong, hanya butuh waktu 35 hari untuk bisa dewasa dan siap untuk di potong

    Trus, peternakan ayam itu sendiri biasanya dalam jumlah besar (yg dah profesional tentunya. Nah di palopo saja (kampungku ces) ada sekitar 200 -an kandang ayam potong yang isinya paling sedikit 3000 ekor.

    Jadi kalau di hitung2, dalam sebulan itu Palopo paling tidak, punya 600 ribu ekor ayam potong. Nah kalo palopo itu penduduknya ada 200 ribu orang, trus 1 ayam itu untuk 5 orang, dan orang rata2 mengkonsumsi ayam itu dalam sebulan selama 15 hari so jumlah ayam yang dibutuhkan:

    200.000 : 5 = 40.000 ekor sehari
    40.000 x 15 = 600.000 ekor perbulan

    itu asumsinya kalau semua orang palopo hoby makan ayam karena makan ayam selama 15 hari dalam sebulan.
    trus asumsi kedua 200-an kandang dengan isi minimal, karena banyak juga kandang yang isinya sampe 9.000 ekor.

    kemudian 200 kandang itu juga yang profesional, banyak juga kandang yang dikelola secara konvensonal.

    Kenapa saya bisa tau info itu, karena bapak saya insinyur peternakan dan peternak ayam..he..he..

    ReplyDelete
  6. @Jevuska : Yang cari "Kenapa Video Porno tak Pernah Habis?" di google sapa? Ngantuk kali sampeyan yah,,, hahaha

    @Wiwin : kayaknya komen di bawah ta sudah menjawabnya. :)

    @Kosar : halo bro.. weleh-weleh.. LUAR BIASA.. saya sampe baca informasimu berkali sambil pencat pencet kalkulator.. Ternyata nda perlu jauh2 cari jawabannya.. Saya makan minum di rumahmu kok kau nda pernah cerita ttg ayam yah? weleh..weleh.. Thanks berat bro! Kapan kita ngumpul lagi?

    ReplyDelete
  7. SUPER banget ide penulisannya :))
    original banget ;)

    ReplyDelete
  8. badak yg ga kita mkn, bisa punah klo ayam yg kita makan ga pernah habis, karena ayam dikembangbiakan tuk di makan jd makin hari makin byk pengusaha yg menternakan ayam, sdgkan badak tidak hanya hidup sesuai dengan alam.

    ReplyDelete
  9. Gaya bahasa yang asik...
    Salam kenal mas.. Dari Lukman di Sragen..

    ReplyDelete
  10. Refreshing dikit tentang ayam ya pinkkk.wakakaka
    Bila mistery ini telah terpecahkan maka pertanyaan berikutnya bisa jadi :
    1. Mengapa ayam nyebrang jalan kok ga liad kiri kanan?
    2. Mengapa Ayam kalau berkokok mesti merem ?
    3. Mengapa Ayam Udah Tua kok ga Ubanan?
    4. dst
    Sungguh mahluk yg paling banyak mistery dan menjadi pr untuk kita..bagaimana mengerti ttg ayam...piss

    ReplyDelete