PNS: Jangan Keluhkan Gaji, Keluhkan Pola Pikir!

Suatu hari saya nongkrong di kafe sama teman-teman SMA dulu. Setelah beberapa lama, obrolan masuk ke topik spesifikasi laptop untuk game. Salah seorang teman saya bilang bahwa dia mendambakan laptop yang bisa dipake main game-game 3D keluaran terbaru dengan mulus tanpa grafik yang patah-patah.


Saya pun bercerita tentang spesifikasi sebuah laptop Toshiba yang khusus dibuat untuk gamers. Saya ceritakan tentang bagaimana laptop itu begitu dipuji-puji oleh situs-situs komputer terkemuka.


Teman saya itu kelihatan terbuai dengan penjelasan saya mengenai spesifikasi laptop Toshiba itu, sampai akhirnya dia tertawa sinis ketika akhirnya saya menutup pemaparan saya dengan kalimat, "Kalo nda salah harganya sekitar 20-an juta rupiah,"


Jujur saya tidak ada niat mempromosikan laptop mahal itu. Saya juga tidak sedang bercanda ketika itu. Saya cuma mau dia tau kalo Toshiba sudah menciptakan laptop seperti yang dia idam-idamkan dan dibandrol dengan harga 20 juta. Tapi kemudian teman saya itu bereaksi dengan ucapan yang membuat saya kaget, "Halah, PNS seperti saya nda akan mampu beli laptop semahal itu!"


Seingat saya, teman saya ini berjuang setengah mati untuk menjadi PNS. Dia mengorbankan banyak waktu dan pikiran untuk menjadi seorang PNS. Tapi kenapa kemudian status PNS yang mati-matian dia kejar itu malah menghalangi dia untuk memiliki laptop idaman seharga 20-an juta?


Ada yang keliru dengan pola pikir teman saya itu.


Setau saya, gaji PNS memang relatif kecil. Itu tidak perlu dibantah lagi karena saya tau pernyataan itu benar. Tapi bukan itu inti persoalan yang sebenarnya. Seorang PNS bisa mengatasi masalah gaji yang kecil ini cukup dengan mengubah pola pikir dan cara pandang dia tentang uang.


Saya pernah membaca buku karangan Marshall Silver yang judulnya Passion, Profit and Power. Di situ Om Marshall menulis tentang peta ekonomi masyarakat dunia seperti berikut ini:




  • Cuma 1% orang yang menguasai 50% uang yang beredar di dunia

  • Cuma 5% orang yang menguasai 90% uang yang beredar di dunia

  • Sisanya 90% orang berebut menguasai 10% uang yang beredar


Ini kondisi yang terjadi sekarang di dunia. Tapi ada fenomena yang lebih menarik lagi yang dijelaskan Om Marshall dalam bukunya itu. Dia katakan bahwa seandainya semua uang di dunia ini dikumpulkan dan dibagi rata untuk setiap manusia di bumi, maka tiap orang akan mendapatkan uang sebesar USD 2,400,000 atau sekitar 24 Milyar rupiah dengan kurs 1 USD= Rp 10 ribu.


Akan tetapi, dalam kurun waktu 5 tahun setelah itu, peta ekonomi masyarakat dunia akan kembali seperti semula.  1% orang yang menguasai 50% uang yang beredar di dunia, 5% orang yang menguasai 90% uang yang beredar di dunia dan sisanya 90% orang juga akan kembali rebutan 10% uang yang beredar.


Kenapa bisa begitu, wahai Om Marshall?


Jawabannya sederhana: mindset alias pola pikir alias sudut pandang tentang uang. Golongan manusia 90% setelah menerima uang 24 Milyar akan langsung berpikir, "Wah, enaknya beli apa ya? Mobil BMW atau Jaguar? Berlibur ke Paris atau ke Hawaii? Atau kawin lagi kayaknya asik nih..." dan sejumlah pikiran lain yang bermuara pada 'money spending' atau 'bagaimana mengeluarkan uang untuk kesenangan'.


Tipe golongan 90% ini terlalu cepat merasa dirinya layak diberi hadiah atas kerja kerasnya. Tidak heran kalo gajinya dirasa tidak pernah cukup. Mereka memanjakan diri dengan barang-barang bagus karena merasa mereka sudah pantas mendapatkan itu semua setelah bekerja keras. Tapi toh mereka merasa pengeluaran mereka tidak terpaut jauh dari nominal pendapatan mereka perbulannya.


Bukan cuma PNS yang kerap mengalami masalah ini. Karyawan swasta juga banyak yang bingung bagaimana membiayai gaya hidup mereka yang kadang sulit ditanggung oleh penghasilan mereka sendiri.


Ironis memang.


Jadi sekedar saran buat para PNS dan karyawan yang selalu merasa gajinya kurang, berlatihlah untuk menyisihkan sebagian gaji bulanan untuk digunakan sebagai 'umpan' untuk mendatangkan lebih banyak uang. Silakan mencari cara yang tepat buat diri kamu. Apakah kamu tertarik untuk memulai bisnis kecil-kecilan, atau memilih untuk berinvestasi dalam bisnis orang lain, atau mungkin sekedar mendepositokan uang di bank, terserah kamu. Yang penting pastikan tiap bulannya ada sejumlah uang dari gaji kamu yang WAJIB  diberdayakan untuk mencari lebih banyak uang.


Masuk akal kan?


Berbeda dengan golongan 1% dan 5% yang memanfaatkan uang 24 Milyar itu dengan cara yang cerdas. Mereka cenderung berpikir seperti ini, "Dengan uang 24 Milyar ini, apa yang harus saya lakukan supaya jumlahnya menjadi 50 Milyar, 100 Milyar atau triliunan?"


Golongan 1% dan 5% ini memiliki visi yang jelas dengan uang yang mereka punya. Salah satu sifat khas dari golongan ini adalah menunda kesenangan. Saya banyak belajar dari beberapa teman pemilik toko handphone keturunan Tionghoa yang penampilannya biasa-biasa saja, handphone yang dipake juga hape jadul murahan, tapi mereka sudah memiliki sejumlah properti bernilai milyaran rupiah. Dan saya juga beruntung banyak belajar dari teman-teman saya yang lain yang gayanya gaul, hapenya canggih, nongkrongnya di kafe mahal, tapi ngutang jalan terus.


Perbedaannya adalah pada cara pandang mereka terhadap uang. Orang cerdas memandang uang sebagai alat untuk membantunya mencapai keadaaan ekonomi yang lebih baik sedangkan orang kurang cerdas memandang uang sebagai alat pemuas.


Saya tetap berharap teman saya yang PNS tadi bisa membeli laptop idamannya itu atau apapun yang dia inginkan di dunia ini, tapi sebelumnya dia perlu mengubah cara dia mengelola uang dan menghapus pesimistis finansial berlebihan yang mengkambinghitamkan status PNS-nya sendiri.

Share:

10 komentar

  1. Beeeehhhh terkagum kagum baca postingan ini Ping. Dan setuju sekali sama ide nya.

    Saya justru lebih tertarik untuk menyorot budaya konsumsi yang berlebihan. Kita kadang terlalu gadget minded sampe sampe gila gara gara gadget. Padahal, tidak ada gadget terbaru bisa tonji hidup heehehehe. Kalo Eppink komennya dari sudut pandang itu, saya komennya lebih ke budaya hidup sederhana. Wanda Urbanska dalam buku nya "Less is More" malah mendorong orang untuk menggunakan barang2 yang ada dulu tanpa perlu beli baru kalo memang tidak perlu.

    Nice post, Epping (Not only nice fb status)

    ReplyDelete
  2. @Cipu: Thanks, Cipu. Saya setuju sama idenya Wanda Urbanska itu. Sudah banyak teman yang disiksa sama gadget2 nda penting yang nda sesuai kebutuhan hidup mereka. Yah saya harap sih tulisanku bisa jadi bahan pertimbangan untuk mengakali pola hidup hedonis yang divisikan sama iklan2 produk. :)

    Thanks sudah berkunjung, Cipu. Salam buat bule-bule lokal di sana. ;)

    ReplyDelete
  3. Nyesel baru nemu blog ini, knp g dari dl yah? :(

    ReplyDelete
  4. wahhh, mantapp postingannya, financial tips hahahha :D

    ReplyDelete
  5. Bagus tulisan bang Evin.
    butuh berapa lama ya pegawai/pekerjaan bisa mengubah mindsetnya??
    padahal banyak orang sukses diluar sana yang bisa mereka tiru,amati,modifikasi...
    Tinggal contek aja kok malas..

    ReplyDelete
  6. Karena terlalu memaksakan diri untuk jor-joran beli mobil mewah yang tak perlu dengan pinjam uang di bank dan koperasi, padahal pinjam uang di koperasi maupun bank sepatutnya untuk usaha atau beli rumah investasi.

    ReplyDelete
  7. @Nani: yoi... hehehe

    ReplyDelete
  8. @Faizal: makanya saya juga heran.. Maunya ke A kok jalannya muter ke B. Bingung kan?

    ReplyDelete
  9. Assalamu alaikum bang,mindset tentang uang memang perlu di rubah,contohnya saja sebagian teman2 mahasiswa rela kelaparan akhir bulan dari pada harus ketinggalan hp model terbaru,akhirnya harus ngutang di ma lia,wkwkwkwk
    salut buat bang eppink (jaya suprana versi makassar)

    ReplyDelete
  10. assalamu alaikum... cocok sekali tulisan diatas sama saya heheheheh.... tadinya saya lagi cari info ttg ECMC, eh kemudian malah pilih key ECMC penipuan... dan akhirnya tersangkut diblog ini.... heheheh... tulisan ini sangat bermanfaat... karena bermanfaat boleh bang ya saya share ? thanks ......:)

    ReplyDelete