Kontroversi Artikel Tentang Kangen Band

Salah satu tulisan saya yang paling membawa kontroversi  bagi para pembaca blog ini adalah artikel saya tentang Kangen Band. Ada begitu banyak komentar pembaca di sana dengan nada yang bermacam-macam pula. Banyak yang memaki Kangen Band karena dianggap norak tapi yang membingungkan malah ada juga pembaca yang mencaci saya karena saya tidak mengidolakan Kangen Band. Heran kan?


Makanya saya menulis artikel ini untuk menjelaskan kembali maksud dari artikel saya itu. Bagi kamu yang belum sempat membaca artikel saya tentang Kangen Band yang mengundang pro dan kontra tersebut, Silakan dibaca dulu artikel yang berjudul Kangen Band dan Ledakan Bom Waktu Segmentasi Musik itu. Sebaiknya kamu membaca artikel itu dulu sebelum lanjut membaca artikel ini biar lebih paham dengan kondisi yang sekarang.



Setelah melihat komentar-komentar yang ada, saya menarik suatu kesimpulan: pembaca yang kebetulan fans Kangen Band semuanya TIDAK MENGERTI tentang apa yang saya bahas. Mereka menganggap seolah-olah saya menjelek-jelekkan Kangen Band padahal dalam tulisan itu jelas-jelas saya katakan bahwa saya kagum pada Kangen Band dari sisi mereka sebagai pelaku bisnis dalam industri musik. Kayaknya mereka kurang bisa mencerna gaya tulisan saya. Sebenarnya kejadian ini membuat saya penasaran tentang korelasi antara tingkat pendidikan sesorang dengan seleranya terhadap musik, tapi karena hari ini saya tidak punya banyak waktu maka cukup saya simpulkan saja bahwa mereka benar-benar SALAH PAHAM dalam membaca tulisan saya.


Oke, hari ini saya bermaksud menyampaikan kembali tulisan saya yang kemarin itu tapi dalam bentuk yang lebih sederhana supaya lebih mudah dimengerti oleh pembaca. Saya akan coba membuatnya sesederhana mungkin. Saya dedikasikan untuk para penggemar Kangen Band yang mendapat kesulitan dalam memahami gaya tulisan saya.


Jadi sederhananya begini:


1. Si Iwan suka makan ubi, Budi tidak suka makan ubi. Iwan tidak boleh marah kalo Budi tidak suka makan ubi. Iwan nda boleh maksa Budi untuk makan ubi.


Artinya sama dengan: kamu suka Kangen Band, saya tidak suka Kangen Band. Kamu tidak boleh marah kalo saya tidak suka Kangen Band. Kamu tidak boleh maksa saya untuk suka Kangen Band.


Ngerti nda? Kalo ngerti kita lanjut ke poin berikutnya. Kalo nda ngerti silakan dibaca ulang aja kalimat di atas tadi.


2. Iwan jualan di pasar. Iwan jualan ubi. Ubi dagangan Iwan laku keras. Budi ikut senang dan bersyukur atas keberhasilan Iwan mendapat rezeki. Walaupun Budi tidak suka makan ubi dagangan Iwan.


Artinya: Kangen Band adalah pelaku bisnis dalam industri musik. Mereka membawakan musik pop Melayu. Musik mereka laku keras. Saya juga ikut senang dan bersyukur akan keberhasilan mereka mendapatkan rezeki dan memperbaiki kondisi ekonomi mereka. Walaupun saya tidak suka dengar pop Melayu karya Kangen Band.


Bisa dimengerti kan? Huuuft... cape deh...


Saya kadang berpikir, mungkin para penggemar Kangen Band itu sudah terlalu sering mendengar caci maki masyarakat terhadap band pujaan mereka sehingga membuat mereka menjadi paranoid dan terlalu sensitif terhadap APAPUN bentuk tulisan tentang Kangen Band. Mereka jadi malas membaca lebih jauh dan selalu menarik kesimpulan negatif sebagai dampak dari riwayat trauma yang masif.


Artinya: Iwan terlalu sering ketemu orang yang bilang ubi itu tidak enak. Padahal Iwan suka ubi. Iwan lalu jadi sensitif kalo orang bicara soal ubi. Suatu hari Budi bicara soal ubi dan akhirnya Iwan ngomel-ngomel.



Iwan.. Budi.. Makasih ya.. Kalian boleh pulang..

Share:

37 komentar

  1. ahh..bang eppink...betul2 TUhan menitipkan banyak pengetahuan padanya..sampe bela-belain kasi kursus logika sederhana..
    (NB : jangan lupa kasi honor ama budi dan iwan bang..hehhe)

    ReplyDelete
  2. Aq stuju bgt sm ms elvin. Aq br baca.
    Pokoknya, tulisannya keren bgt, enak dibaca, n menghibur.
    Tulisannya berimbang (promosi).
    Mengulas dr berbagai sisi.
    Salute.....!!!

    ReplyDelete
  3. @Aziz (Ucok): Hehehe... Tenang.. Honornya sudah dikasih kok.. Berupa dua potong ubi. :)

    ReplyDelete
  4. @Mbak Titiek: Terima kasih Mbak Titiek.. Wah, thanks untuk komentarnya ttg penulisan saya. Kayaknya besok2 saya bakal kesulitan nyari peci nih karena kepala saya membesar, hehehe...
    Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya ya Mbak. Sering2 mampir ya.

    ReplyDelete
  5. Padahal Budi dan Iwan sekarang pindah jadi pengamen loh Mas !!! kenapa masih diceritakan saat-sat mereka muda dulu... wkakakakaka....
    Salam Salut Mantap...!!!

    ReplyDelete
  6. @Ridho: Waduh, saya malah baru tau kalo si Budi dan si Iwan udah jadi pengamen.. Soalnya dari dulu saya telpon hapenya nda aktif terus.. hahaha

    ReplyDelete
  7. logika sederhana dan cerdas...dua jempol buat bang epink.
    Mudah2an para fans Kangen band jadi lebih terbuka.

    Salam
    www.agussalimsantoso.multiply.com

    ReplyDelete
  8. @Agus: Iya mas, kayaknya harus minta tolong sama Iwan dan Budi untuk jelasin hal yang sebenarnya simpel.. Abis tulisan saya yang dulu keliru dipahami sama fans Kangen Band. Ya udah, jurus logika super sederhana plus contoh ala anak SD pun akhirnya dikeluarkan... hehehe

    ReplyDelete
  9. AHHHHH.... KANGEN BAND EMANG NORAK BANGET

    LAGU CENGENG, TAMPANG KAYAK BENCONG, NYANYINYA LEBAY

    ReplyDelete
  10. wahh. .
    harus kemn gmna ya. . .
    :D

    ReplyDelete
  11. iya.. ya.. - sambil manggut2 kalo diterangin kyk gitu mungkin mereka para pengagum berat Band tsb (akhirnya) akan ngerti...
    eh sy setuju kalo kapan2 maz Elvin ngebahas rasa penasaran maz Elvin tentang korelasi antara tingkat pendidikan seseorang terhadap selera mereka terhadap musik. terus mereka nggak ngerti... terus sampean nerangin pake bahasa sederhana lagi.. terus mereka baru ngerti... terus... stop..stop.. dah mo nabrak tembok...(ala tukang parkir)

    ReplyDelete
  12. @Riki: wah, mantan juru parkir nih kayaknya yang komen ya? hehehe.. Iya kayaknya asik tuh kalo kita menyelidiki korelasi antara tingkat pendidikan seseorang terhadap selera mereka terhadap musik. Itu tema yang panas! :)

    ReplyDelete
  13. Syaaiikk dah bang pemaparannya,
    huuh...klo pade blon ngerti juga payah deh...

    ReplyDelete
  14. Bener banget bang...
    mereka ngga sadar justru pencitraan band pujaan mereka akan semakin terpuruk karena nalar mereka yg nyusruk...ha..ha..
    Saatnya kita menjadi menjadi fans yg cerdas
    Biar Musik di anah air ini semakin berkualitas..
    Thank's bang...

    ReplyDelete
  15. banyak blog udah ak baca tapi mbosenin. bloger indonesia musti belajar nulis kayak gini

    ReplyDelete
  16. blog anda bagus bung elvin, sori, apa ini sebuah blog ato web site pada umumnya? mslhnya domain anda ga ada embel2 blog spt punya orang2 laen.thx

    ReplyDelete
  17. memang susah kalo fans2 seperti kangen band kurang mengerti tulisan anda,,karena mereka hanya stuck d satu sisi saja..tidak mau mencoba k sisi lain..Ketika saya bilang 'lirik melayu' saya tidak mengkritisi asal geografis nya, tapi lebih kepada fakta aktual kalau lirik lagu melayu mayoritas bersifat pengagungan sifat2 lemah, mudah menyerah, meratapi nasib & minta dikasihani. Dan inilah yg terjadi disini, penerapan energi lirik melayu sudah-tanpa tersadar-merasuk ke semua elemen kehidupan masyarakat kita hingga banyak kebijakan dan kesepakatan moral yg seperti berrcermin disana. Yg saya kurang paham, apakah masyarakat kita memang cengeng dari dulu atau menjadi tambah cengeng sejak booming lagu2 melayu?

    ReplyDelete
  18. coment saya doang yang enggak d balas

    ReplyDelete
  19. Sori Mas Vyant saya baru sempat balas komennya.

    Menurut saya sih iya, mereka itu kan berangkat dari 'taste' dangdut yang sentimentil dan jauh dari sikap optimis. Jadi pasti agak susah menikmati musik punk selain mungkin gebukan drumnya aja. Tapi utk mengharapkan mereka mau mengerti esensi dari punk yang anti kemapanan, mengusung persamaan derajat sosial, dan ideologi punkers yang lainnya, saya kira sulit. Mereka ya mereka. Bahkan tulisan saya saja susah mereka cerna, gimana mau ngerti soal punk? Ya nggak?

    ReplyDelete
  20. sebelumnya makasih banget mas elvin,,atas jawabannya..saya benar2 sependapat dengan anda..biarlah mereka ya mereka,,yang penting kita saling rukun dan saling berlomba berkreatifitas yang sehat..di jalur musicnya masing2,..bagi saya music punk adalah hidup saya..tanpa music seperti hidup tanpa petualangan..cherz>

    ReplyDelete
  21. saya sangat sependapat dengan Vyant..Memang di indonesia ini ada banyak band2 melayu seperti kangen band dan sejenisnya,cuma konsekwensi nya mereka d agung2kan oleh kalangan terbatas atau menengah ke bawah,,yg tidak mau pusing dengan lirik2 yg ribet..dan pesan2 dlm lagu mereka selalu bersifat cengeng dan minta di kasihanai..dari pada kita meributkan.hal2 seperti itu,,lebih baik kita memikirkan potret negeri ini yang semakin kusam dan tak pasti.

    ReplyDelete
  22. @Vyant: sip, setuju banget. Yang bikin saya heran adalah kenapa mereka2 itu sulit sekali memahami tulisan saya? Benar2 bikin penasaran apa hubungan tingkat pendidikan dengan selera musik seseorang.. hehehe

    ReplyDelete
  23. Mungkin karena mereka selalu beragumen tidak menggunakan otak dan pikiran,,melainkan emosi sesaat..karena banyak yang mencela dan tidak suka dengan band pujaan mereka..ini ga ada hubungannya sama pendidikan,,walau pendidikan kita rendah,,kita tetap harus banyak tau dan bergaul..bahkan dalam beragumen harus bisa setara dengan para elit politik atau presiden sekalipun..bukan begitu mas..haha,,,selera music orang pasti berbeda-beda,,tinggal bagaimana kita menghormati perbedaan itu..!saya lebih penasaran lagi..tentang artikel mas elvin yg lain..heheh..saya acungkan jempol untuk mas elvin..salam kenal dari saya..!!

    ReplyDelete
  24. @Vyant: Sebenarnya hubungan antara selera musik dengan tingkat pendidikan seseorang masih membuat saya penasaran. Kenapa lagu Melayu dan dangdut MAYORITAS disukai oleh masyarakat dengan pendidikan yang kurang memadai sementara contohnya musik Jazz MAYORITAS disukai oleh kalangan masyarakat dengan pendidikan yang lebih baik? Ini membuat saya penasaran tapi masih bingung mau ngebahasnya dari mana.

    Salam kenal juga buat Vyant! Keep rocking, dude!

    ReplyDelete
  25. Nah justru dari sini letaknya mas..kenapa music seperti jazz lebih banyak disukai kalangan terpelajar atau menengah ke atas,,itulah bodohnya masyarakat kita yg suka atau ngefans banget sama music melayu seperti kangen band..mereka tidak mau mencoba sesuatu yang baru di telinga mereka..kalo mereka sudah suka itu..yaudah itu aja,mereka terlalu memanjakan kuping mereka dengan 1 aliran saja..!!bagaimana kalo kita mulai bahas jazz mas..mas elvin mulai bikin artikel tentang jazz.saya ingin tahu para blogers,,tanggapan2nya.!salam punkers dari saya.

    ReplyDelete
  26. sebener a mau suka ato tidak suka itu hak masing2..
    ngak usah nyindir aliran ini aliran itu..
    keliatan diskriminasi a udah kayak tinggal di Israel..
    ingat semboyan Negara Kita..
    pas Obama menyampaikan di UI riuh tepuk tangan,,, emang Bhineka Tunggal Ika harus dijelaskan oleh orang asing baru kita ngerti,,,,
    ingat dengan kata2 Anda ada suku2 tertentu yang tersinggung,,,

    ReplyDelete
  27. @Vyant: yah menarik untuk dibahas mengenai hal itu. Hubungan antara pendidikan seseorang dengan selera musiknya. :)

    ReplyDelete
  28. @Haryadi: Saya tidak pernah menyinggung suku tertentu. Anda baca tulisan saya tidak? Maaf ya mas, tapi kalo tidak mampu membaca dan mengerti tulisan saya dengan baik, lebih baik mas tidak usah komentar sama sekali. Daripada komentar tapi bawa-bawa Israel, Obama, sampe memfitnah tulisan saya mengandung unsur SARA, lebih baik mas diam saja.

    Tidak usah membalas komentar saya ini, Mas. Saya khawatir kalo mas berkomentar lagi malah akan semakin mempertontonkan kebodohan mas sendiri dan saya tidak mau mempermalukan mas di depan semua pembaca saya.

    Ayo sekolah, mas! Hahaha...

    ReplyDelete
  29. Wahahaha... Emang dasar gak makan sekolahan lu pade! Noraks abeeezzz!

    ReplyDelete
  30. Penggemar Kangen band emang norak!!!!!

    ReplyDelete
  31. ternyata tulisan anda mengundang org yg tdk suka ubi mengumpat org yg sukat ubi dengan kata-kata yg sangat tidak terpelajar (tapi katanya mereka@ ini yg punya pendidikan tinggi)... huuuft cape deh......

    ReplyDelete
  32. Haryadi:tolong jangan kotori tulisan2 anda ini d blog mas elvin,,kita tidak ada satupun yg menghina satu sama lain..sebetulnya anda menyimak tidak isi blog..ini..kalo emang tidak..mendingan anda sekolah aja dulu yang bener..baru comentar disini...

    ReplyDelete
  33. gw fans kangen band dan gw suka kangen band.

    tapi yang jelas anda sangat berbakat jadi penulis.

    tulisan oke, penulisnya lebih oke.

    hahaha oke banget dah!

    hahahhahahahahaaha

    ReplyDelete
  34. BTW, gw gak suka kangen band
    lo lo pade yg suka kangen band, boleh juga debat ama gw!!!

    ReplyDelete
  35. ane pihak anti kangen band
    lo yg suka kangen band mau apa lo!!!

    ReplyDelete
  36. Sori telat ngoment. Kalo saya sukanya musik-musik seperti Jimsaku (pada tau ga Jimsaku? he he), Dream Theater, Joe Satriani, Steve Vai. Mereka tuh bisa buat musik yang rumit tapi ga kehilangan sentuhan harmonisasi-nya, wuih dalem banget ya kata-katanya, kaya ngerti musik aja, he he. Anyway, tulisannya bagus banget mas Elvin, gini ini yang namanya obyektif. Tapi saya jadi agak bingung nih, tadi kok ada yang ngoment sampai nyangkut-nyangkutin Israel segala, emang kita mau tempur apa ya? kalo iya saya ikut deh...

    ReplyDelete
  37. waaaaaaw.... gokil.... keren bgt postinganx.... bahasax juga keren bgt...

    ReplyDelete