Khotbah Jumat Bikin Ngantuk? Saya Tau Kenapa!

Waktu sholat Jumat tadi barusan, orang yang duduk pas di sebelah saya menguap terus pas khatib mulai naik mimbar untuk berkhotbah. Nda perlu menunggu lama setelah itu, anak muda itu langsung tidur pulas dengan posisi duduk bersila. Padahal perasaan tadi yang khotbah bukan Romi Rafael...


Ini bukan pemandangan yang unik. Saya sudah ketemu orang tertidur di waktu khotbah sejak pertama kali Bapak saya menggandeng tangan saya yang kecil menuju masjid untuk sholat Jumat. Yang bikin jadi unik adalah karena dia tepat berada di sebelah saya dan saya mengikuti semua prosesinya mulai dari proses menguap, proses memejamkan mata, proses tangan mulai menopang kepala, proses tidur yang nikmat dengan mulut sedikit terbuka sampai proses terakhir waktu saya menepuk bahunya supaya dia cepat sadarkan diri karena sholat sudah mau dimulai.


Tidurnya total abiiiis!


Lalu yang jadi pertanyaan:


Ini tidak cuma terjadi di masjid dekat rumah saya saja kan?


Fenomena ini sudah kamu temui sejak kamu kecil kan?


Dan apa kamu yakin kalo jumatan minggu depan pasti tetap ada jemaah yang tidur pas waktu khotbah?


Kalo kamu menjawab ketiga pertanyaan di atas dengan YA. Maka jelaslah ada yang SALAH.


sholat jumat




Sebelumnya tolong jangan lupa bahwa saya ini blogger, bukan ahli agama. Saya cuma satu dari jutaan umat Islam yang berjalan mengikuti para ulama. Sekali lagi ini sekedar opini dan usulan saya untuk para ulama dan calon ulama yang saya cintai, supaya umat kita menjadi lebih kuat dan tidak tidur ketika khotbah. Jadi kalo ada yang kesinggung atau marah dengan pendapat saya nanti, silakan berwudhu dan sholat dua rakaat supaya marahnya hilang. Okeh? Piss yo!


Oke sekarang saya perlu sedikit serius... :)


Mari kita berangkat dari hal mendasar bahwa tidak ada satu helai daun pun yang lepas dari dahannya dan terjatuh ke bumi tanpa sepengetahuan dan sepersetujuan Allah. Begitu juga dengan hadirnya orang-orang yang mengantuk dan tertidur pada saat khotbah jumat itu, mereka ada di sana dan tertidur atas sepengetahuan dan sepersetujuan Allah.  Dengan kata lain Allah mengizinkan mereka tertidur ketika khotbah sedang disampaikan. Mengapa Allah mengizinkan mereka tidur? Saya yakin itu adalah pertanda langsung dari-Nya bahwa benar-benar ada yang TERLUPAKAN dalam proses penyampaian khotbah jumat!


Nulis artikel ini saya ngetik pake tangan dan berpikir pake otak. Dua organ itu semua pemberian Allah. Dan kolaborasi antara dua organ itu menuliskan pendapat saya bahwa para ulama kita kurang tanggap menghadapi kerasnya zaman. Para ulama kita sudah ada dalam taraf keimanan yang terlalu tinggiiii sekali jadinya susah lagi turun ke bawah untuk sekedar merasakan dan membantu umatnya yang sedang bersusah payah menghadapi masalah-masalah keimanan yang mungkin sepele saja menurut para ulama tadi.


Sebut saja misalnya persoalan video porno. Untuk para ulama kita yang hidup tenang dalam kedamaian Islam dan kenikmatan akidah yang dalam, jangankan ketemu sama DVD-nya, kata-kata 'video porno' atau 'bokep' saja tidak pernah mereka dengar dalam lingkungan kesehariannya. Bandingkan dengan beberapa dari kita-kita ini yang harus berjuang keras dengan iman yang pas-pasan untuk nolak tawaran teman yang mau meminjamkan DVD porno ke kita. Beda sekali. Dua kutub yang sangat jauh terpisah. Dalam hal ini para ulama harus turun dan melihat kondisi umatnya di zaman super edan ini.


Narkoba, prostitusi yang legal, pergaulan bebas, situs porno di internet dan sebagainya itu semualah musuh-musuh kita dalam peperangan memperjuangkan eksistensi keimanan ummat. Ini benar-benar bisa disimbolkan sebagai perang yang besar antara kita umat Islam melawan zaman yang edan tenan. Para khatib saya ibaratkan sebagai panglima-panglima perang yang bertugas memberi kita instruksi bagaimana teknik bertempur yang benar supaya kita bisa memenangkan pertempuran. Sayangnya, para panglima itu dari tahun ke tahun tetap berkata, "Marilah kita berperang dengan penuh semangat.. Jangan pernah menyerah.."


Itu mah anak kecil juga tau kallleeee, Om!


Makin lama perang melawan zaman edan makin memakan banyak korban. Dan bisa jadi korban berikutnya adalah anak-anak kita tercinta. Ini tanggung jawab para ulama untuk membekali kita dengan senjata perang yang memadai. Para ulama mestinya lebih KREATIF mencari solusi bagaimana supaya khotbah menjadi menarik bagi umatnya. Jangan terus menerus berkata, "Marilah kita menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya," karena zaman edan sudah terlalu tangguh untuk dilawan hanya dengan kalimat klasik itu!


Saya sudah dengar kalimat khas khotbah Jumat di atas sejak saya kecil. Waktu terus bergulir, puluhan tahun berlalu dan para khatib masih mengucapkan kalimat yang sama. Seolah-olah mereka datang ke masjid dengan menumpang mesin waktu. Datang dari tahun 1986. Wets, jadul yak!


Kita ini butuh sesuatu yang bersifat wejangan teknis. Misalnya para khatib kita membahas tentang bagaimana cara mengupayakan agar televisi di rumah tidak merusak moral anak kita. Apa kira-kira yang harus dilakukan orang tua ketika anaknya terlalu sering main-main ke warnet atau game center. Kemudian coba menghubungkan masalah-masalah kita sehari-hari itu dengan Al Quran dan Hadist, dua pegangan kita yang tak pernah usang dimakan waktu. Beres kan? Cuma dibutuhkan sedikit KREATIVITAS untuk membuat khotbah Jumat benar-benar menjadi KEBUTUHAN ummat, bukan sekedar pengantar sebelum sholat didirikan.


Kalo dirasa solusi saya tentang tema-tema khotbah Jumat di atas dirasa belum cukup, maka berikut ini beberapa solusi lain yang bisa saya berikan. Karena saya tidak suka mengkritik tanpa solusi.


1. Tolong pakelah alat bantu yang lebih canggih


Saya bukan mau berhadapan dengan pihak-pihak tertentu, tapi menurut saya sudah jamannya sekarang khotbah Jumat menggunakan laptop dan proyektor. Dengan alat bantu teknologi seperti itu bisa dipastikan jemaah bisa dibantu dalam memahami apa yang disampaikan. Dengan bantuan gambar atau potongan film Islami untuk indera penglihatan jemaaah, saya yakin materi khotbah akan lebih efisien dan mengena. Angka ketiduran jemaah di saat khotbah saya rasa bisa ditekan dengan khotbah yang lebih visual.


Beberapa orang mungkin akan bilang, "Heh, ngomong apa kamu ini? Mau ngapain pake proyektor segala di masjid?"


Saya cuma bisa menjawab, "Kalo memang khotbah tidak butuh alat bantu seperti proyektor, silakan adzan dan khotbah tanpa dibantu microphone, speaker dan seperangkat alat equalizer. Mau nda kamu?"


2. Upgrade Pengetahuan Para Khatib


Tentu saja bukan ilmu agama para khatib yang saya usulkan untuk di-upgrade, tapi upgrade pengetahuan mereka tentang fenomena budaya, sosial dan teknologi yang sedang terjadi di masyarakat. Para khatib harus sering nonton televisi dan melihat bagaimana acara-acara reality show yang pukul-pukulan setiap sore ditonton anak-anak di bawah umur. Para khatib harus sering jalan ke warnet melihat anak-anak remaja yang menonton aurat perempuan lewat situs porno. Para khatib harus mengamati pola kehidupan masyarakat sekarang yang suka dugem dan minum minuman keras. Kemudian para khatib itu MEMBERIKAN SOLUSI kepada ummat bagaimana mengatasi semua godaan-godaan itu beserta apa saja hukuman yang bakal ditanggung di akhirat kelak.


Apabila khatib tidak meng-upgrade pengetahuan mereka tentang fenomena-fenomena terkini, maka jangan heran bila anak muda sekarang tidak merasa memiliki agamanya karena mereka tidak mendapat solusi dari masalah-masalah mereka melalui ceramah agama.


Hal-hal yang berkaitan dengan hukum-hukum tentang video porno, situs porno atau fenomena dugem memang tidak tertera secara persis dan eksplisit dalam Al Quran dan Hadist. Tugas para ulama untuk menjembatani antara kondisi yang ada dengan hukum-hukum dasar Islam yang fleksibel untuk segala zaman.


3. Perkenalkan para calon ulama dengan kehidupan yang kacau sekarang ini


Santri-santri di pesantren itu kan calon-calon ulama di masa depan. Tapi kata sepupu saya yang dulu sempat mengeyam pendidikan di pesantren (ini beneran lho ya, bukan tokoh fiktif. Nama sepupu saya itu si Ical),  dia pernah cerita tentang kegiatan dia di pesantren dan menurut saya kegiatan mereka sehari-hari juga kurang diperkenalkan dengan dunia yang bakal mereka hadapi nanti.


Sebagai contoh, menurut sepupu saya tadi, Si Ical, mereka diperbolehkan menonton televisi hanya pada saat tertentu itupun cuma boleh acara berita. Bagaimana kita bisa berharap ulama kita di masa depan mau memberantas tontonan-tontonan televisi yang tidak bermoral kalo mereka nda pernah diperlihatkan dan disadarkan dengan tontonan yang 'aje gile'?


Santri-santri itu juga kurang diperkenalkan langsung dengan potensi buruk internet. Kurang diperlihatkan semudah apa seseorang bisa mengakses informasi apapun termasuk aurat wanita. Mengapa santri-santri kita tidak diajari teknologi terbaru berupa aplikasi dan software untuk memblokir situs porno di jaringan internet rumahan? Kan canggih tuh. Dan saya rasa banyak kok orang-orang jago IT di Indonesia selain Roy Suryo (melulu) yang bisa ngajar teknik-teknik blokir situs porno. Sebut saja misalnya Boy Suryo, Toy Suryo bahkan Coy Suryo. Oke, Coy?


Mungkin saat ini saya belum bisa memberi segudang solusi, tapi masih lebih baik daripada tidak ada solusi sama sekali. Saya sih cuma bisa berharap tulisan ini bisa sampai kepada pihak-pihak yang terkait yang kemudian akan mempertimbangkan esensi dari tulisan saya ini tanpa disertai pikiran negatif.


Kita tidak pantas berharap kejayaan Islam berikutnya akan segera datang menghampiri kita selama fenomena jemaah yang tidur waktu khotbah kita diamkan dan kita anggap hal yang biasa saja.


Saya adalah satu dari jutaan ummat Islam. Dan inilah saya bersuara.


Bagaimana dengan suara kamu, saudaraku?


UPDATE:


Setelah beberapa bulan, artikel saya ini menuai begitu banyak komentar dari segenap saudara seiman dari seluruh Indonesia. Ada yang pro dan ada yang kontra. Ada yang menyampaikan komentar dengan baik dan ada pula yang tidak. Tapi yang namanya sebuah ide/masukan pastinya tidak bisa membuat semua pihak setuju. Dan untuk semua komentar yang masuk saya ucapkan banyak terima kasih atas respon terhadap ide saya.


Saya mau mengucap terima kasih juga kepada saudara Slamet Sutrisno dan Sugeng yang sudah memperingatkan kepada saya bahwa kalimat "Marilah kita menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya," adalah bagian dari rukun khotbah Jumat. Saya khilaf dan lupa dengan hal itu dan saya berterima kasih sudah diingatkan. Alhamdulillah masih ada yang mau mengingatkan saya. Thanks ya, bro!


Saya tidak tau kenapa, tapi kok saya sangat-sangat percaya bahwa khotbah menggunakan proyektor sebagai alat bantu itu akan sangat berguna dalam penyampaian khotbah Jumat. Mungkin karena keterbatasan saya dalam menulis sehingga kurang mampu mentransfer imajinasi dan visi saya ke dalam imajinasi para pembaca artikel saya. Simpelnya, saya membayangkan duduk bersila di masjid mendengarkan khotbah, terus saya membayangkan khatib memperlihatkan gambar tata surya kita lewat proyektor. Saya bisa meliat betapa luasnya angkasa raya ciptaan Allah dan saya takjub melihat gambar itu. Dibandingkan dengan hanya mendengar kalimat "Langit, bumi dan seluruh jagat raya ini adalah ciptaan Allah!". Yang ingin saya sampaikan di sini bahwa apabila unsur audio (suara sang khatib) dipadukan dengan unsur visual (penglihatan) maka akan sangat dahsyat untuk menggugah perasaan jamaah.


Mungkin bagi sebagian orang ide saya ini kurang berkenan. Tapi saya tetap yakin bahwa ide ini bisa membuat khotbah Jumat lebih 'menarik perhatian' jemaah. Saya berbicara mewakili zaman di mana saya hidup.


Saya mengenal Rasulullah dalam berbagai literatur baik lewat Al Quran, sabda-sabda beliau dalam Hadist, maupun lewat buku-buku yang menceritakan kisah hidup Rasulullah. Setau saya, beliau tidak selalu mempermasalahkan tentang RUKUN. Beliau sangat fleksibel. Islam itu fleksibel. Cuma masalahnya ketika Islam harus dicerna oleh manusia-manusia dengan budaya seremonial yang kental, maka rukun-rukun itu kemudian menjadi hukum yang tidak boleh diusik walaupun demi kebaikan.


Setau saya Rasulullah memperbolehkan kita melakukan bid’ah hasanah sepanjang hal itu tidak menentang syariah. Kalo boleh saya kutip hadist yang diriwayatkan oleh Shahih Muslim hadist no.1017, demikian pula diriwayatkan pada Shahih Ibn Khuzaimah, Sunan Baihaqi Alkubra, Sunan Addarimiy, Shahih Ibn, sabda beliau: “Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat-buat hal baru yg buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yg mengikutinya dan tak dikurangkan sedikitpun dari dosanya”. Jadi jelas bahwa kita bisa melakukan bid'ah hasanah karena kita punya otak yang dianugerahkan Allah pada kita.


Islam bukan cuma seumur kita, Islam akan ada selamanya 100 bahkan ribuan tahun lagi! Bila kita tidak mengikuti perkembangan zaman di mana kita hidup, suatu hari nanti anak cucu kita akan kesulitan bertahan dalam keimanan karena tidak sanggup melawan hantaman zaman. Untuk itu kita perlu menggunakan otak yang dianugerahkan pada kita untuk melihat kondisi zaman di mana kita hidup dan mencari solusi untuk hal ini.Dan silakan baca hadist di atas. Rasulullah tidak melarang kita untuk membuat hal baru yang membawa dampak baik bagi Islam!


Yang saya tulis di artikel saya memang termasuk bid'ah. Dan saya tidak keberatan orang-orang sibuk pro dan kontra. Asal jangan kelamaan debatnya. Orang-orang barat sana memborbardir kita dengan budaya edan dan kita masih sibuk berdebat soal proyektor di saat anak-anak kita asik nonton MTV!


Saya tidak membela diri atau sedang berusaha mempertahankan ide saya. Lagian 90% dari komentar yang masuk malah mendukung ide saya. Saya cuma menulis tambahan untuk artikel di atas untuk memperjelas maksud saya. Kalo misalnya masih ada yang tidak suka ya terserahlah. Toh otak kita sama-sama buatan Allah, kan? Dan otak anda adalah otak anda, saya tidak punya hak memaksa anda untuk menggunakan otak anda. Mau dipake atau tidak dipake kan terserah anda. Ya nggak?


Sebagai bukti, beberapa komentar yang masuk mengatakan bahwa di masjid kampus Universitas Indonesia (UI), proyektor sudah digunakan sebagai alat bantu dalam khotbah. Dan saya yakin, anda tidak harus menjadi manusia secerdas saudara-saudara kita di UI hanya untuk menyadari bahwa alat bantu proyektor itu benar-benar berguna!


Btw, saya percaya dan yakin seyakin-yakinnya Rasulullah tidak bakal mencaci maki saya karena punya ide seperti ini.  Beliau itu bijaksana. Dan terutama lagi: beliau itu cerdas! Saya tidak bilang yang mencaci maki saya itu orang-orang bodoh lho ya...


Suatu hari nanti, khotbah di masjid akan menggunakan proyektor sebagai alat bantu. Saya tidak tau kapan. Mungkin 10, 50 atau bahkan ribuan tahun lagi. Tapi saya yakin, hari itu akan datang! Sama halnya dengan microphone dan speaker yang sudah hadir di masjid sejak seabad yang lalu. Saya yakin itu.


Saya yakin sekali.


Oke deh sekarang sudah larut malam, waktunya istrahat. Sekali lagi saya mau berterima kasih untuk semua komentar yang masuk. Mohon dimaafkan bila beberapa kali saya agak 'panas' dalam menanggapi komentar yang ada. Bukan maksud untuk mencari lawan, tapi sekedar memamerkan kekurangan saya sebagai manusia biasa.


Salam hangat buat anda semuanya. Mudah-mudahan Allah memperlihatkan jalan yang terbaik untuk meningkatkan kualitas khotbah Jumat di negara kita.


Amin...

Share:

138 komentar

  1. Mantab gan! Ini juag dari dulu yang mau saya bilang tapi g tau gimana nulisnya hahahha

    Mendukung penuh si Abang! Lanjutkan gan!

    ReplyDelete
  2. @Doni: wah nda tau gimana nulisnya? Buta huruf dong? hehehe.. Makasih dukungannya mas Doni. Sukses selalu buat Mas Doni juga.

    ReplyDelete
  3. I LIKE IT! I LIKE IT! I LIKE IT! I LIKE IT! I LIKE IT! I LIKE IT!

    Persoalan yang sakral tapi di bahas dengan gaya nulis yang ringan. Maju terus, kang! Sukses selalu

    ReplyDelete
  4. @Luki : sip, mas Luki! makasih doanya ya. Sukses.. Sukses.. Amin.. Amin..

    ReplyDelete
  5. Ceramah pakai laptop?? Ide gokil tuh. Setuju gw!

    ReplyDelete
  6. klo menurut gw sih, emang udah suratan kali kayak gini. biar pake laptop pake apa jg kalo orangnya emang udah sableng ya teteup aja ngorok. tp tulisn lo bisa jadi inspirasi. minimal cara lo nyampein lewat tulisan lo gak ribet dan ga nyinggung orang laen.

    ReplyDelete
  7. @Crackhead: Saya juga setuju!

    Ya iyalah kan saya yang nulis...

    @Joen: Kalo menurut saya sih kita masih bisa berjuang supaya kondisinya jadi lebih baik sesuai dgn profesi kita aja. Kayak saya blogger ya nulis deh. :) Makasih mas Joen, saya senang sekali kalo tulisan saya bisa jadi inspirasi buat Mas Joen.

    ReplyDelete
  8. betul.. betul.. betul.. Ini nih, salah satu blogger yg karyanya "Enak dibaca, dan Perlu"... (loh itu kan Majalah Tempo)

    ReplyDelete
  9. hahaha.. tadi saya tidur wktu shalat jumat gan.. ^_^
    agan ndiri tidur ga?

    Sbenrnya ane agak salah sangka dgn alur tulisan agan yg dimulai dgn "ngantuk wktu jumat" & dikaitkan dgn "perang melawan zaman" edan.. Ane kira tulisan ini 'hanya' ttg "mengapa kita mengantuk saat shalat & dan bagaimana solusinya biar tdak ngantuk." Ternyata inti pesannya adalah "dakwah harus kreatif biar pesan dakwah yang disampaikan bisa merasuk ke dalam hati. kalau ngantuk kan ga bisa merasuk."

    Btw, nice article gan, trmasuk ide ttg kotbah pake proyektor :D

    ReplyDelete
  10. @Riki: hehehe.. Emang blognya enak ditulisi kok, empuk kanvasnya! hehehe

    ReplyDelete
  11. @Ahmed: nah ini dia nih... Jangan2 yang tadi di sebelah saya ya? hahaha

    Soal alur tulisan yang kurang nyambung memang di Facebook link-nya saya usahakan untuk terkesan tulisan ini ga ribet2 amat supaya orang may datang membaca... Kalo dari awal saja penjelasannya sudah ribet, mas Ahmed mungkin nda bakal nongol ke blog saya hihihi

    ReplyDelete
  12. Ane stuju banget...
    Ada beberapahal mungkin yg menyebabkan seperti itu..kita tahu bahwa sholat adalah aktivitas yg dilakukan secara berulang2 ampe akhir jaman mungkin.. dari gerakan hingga bacaan..(ada ga org tiba2 abis sujud langsung tepuk tangan??) Nah yg paling fatal ya isi kotbah menurut gw sih..kadang penceramah tidak mendekatkan isi ceramahnya terhadap reliata yg di depan mata...coba pengkotbahnya spt mas apink ini..gw jamin pada melotot dah jemaahnya...maju trus..!!

    ReplyDelete
  13. @Joel: hahaha.. lho kok malah saya yang ceramah? hihihihi.. makasih mas Joel

    ReplyDelete
  14. asalamualaikum sodara,

    he he
    solusinya sih boleh jg,
    cuman ada beberapa permasalahan yg agak nya repot nih gan,
    kalo saya lihat dan sepengetahuan ane,
    para khotib itu dari saya mengikuti shalat jumat di masjid jawa timur sampe daerah jakarta beliau2 para khatib udah pada berumur,
    beliau2 memang bagus kotbah nya tapi ya gitu,
    permasalahan yg di angkatnya masih klasik gak seperti ustad2 artis seperti Uje dll,
    jadi ya maklum sih kalo kadang khatbah mreka di anggap membosan kan, soal nya mungkin uda susah untuk mempelajari permasalahan jaman sekarang,

    nah sedangkan para ulama yg masi muda itu mereka TERKADANG katbah mengutib dari buku2 katbah yg udah ada,
    dan ironisnya jg buku2 tersebut uda berusia puluhan taun,
    jadi ya yg muda meniru yg tua n yg tua meneruskan yg udah ada,
    itu sih kalo menurut saya,

    oh iya kalo khatib yg uda senior (berumur) gmn caranya pake proyektorya he he he he he

    sekian dari saya,
    maap ya kl kurang berkenan
    itu menurut pendapat saya aja
    wasalam....

    ReplyDelete
  15. Om Elvin,
    saya suka cerita ta... kaya raditya dika, tp agak serius bahan pembicaraan ta... :)

    ijin copas buat di jadikan bahan "Khutbah" ya... :D

    Thanx

    ReplyDelete
  16. Stuju banget dengan Orang Muslim..
    Tema2 kotbah klasik itu harusnya di kemas lagi penyajiannya sesuai

    dengan perkembangan jaman..Proyektor bisa jadi salah satu

    solusinya..coba kalau cerita sambil ada gambarnya wiihhh..kek pak

    Tino Sidin..betah banget deah..kenapa ga ya mas apink?? Soalnya

    cerita2 klasik gitu dari jaman ane kecil ampe beranak gini masa

    gituuuuuuuuuuuuuu aja penyajianya...jadi cendrung ngebosenin..

    mungkin segitu aja dl pendapat ane gan..

    ReplyDelete
  17. Mantap dah coy... emang dah saatnya para ulama should 'think out of the box' dalam berdakwah di jaman sekarang

    ReplyDelete
  18. Tulisan ini harus ditunjukan ke komunitas mubaligh, kyai, etc. Supaya mereka ngaca, sekarang bukan jamannya lagi kalo baek masuk surga kalo jahat masuk neraka. Thanks bro, this is really something that i've been waiting for.

    ReplyDelete
  19. Assalamu'alaikum Wr. Wb.
    Bismillahirrohmaanirrohiim

    Sebelumnya perkenalkan saya adalah hamba Allah yg biasa-biasa aja,dan trus berusaha supaya bisa berbuat yg terbaik bagi keyakinanku..ber-amar ma'ruf nahi munkar didunai yg memang sudah edan ini. Menurut saya sih oke-oke aja pendapat anda sebagai umat, cm disini saya menggarisbawahi subyek obrolan ttg cara khotbah yg mungkin tidak membikin ngantuk makmumnya, aku salut anda sempat memperhatikannya selama ini krn memang hal itu dianggap sudah biasa lihat dimana2 sewaktu khotib berkhotbah. (saya juga sering kok setengah ketiduran...he he he)
    OK disini saya cm beropini berdasar pengalaman perasaanku sewaktu mendengar khotbah jumat selama ini..menurutku isi khotbah yang melulu datar,tidak menarik(klasik), tidak dimengerti(biasanya dimasjid-masjid yg tidak pake khotbah Bhs Indonesia tp khotbah dg bacaan arab spt dikampungku dan itu2 aja yg dibaca meski aku tidak tahu artinya...) itu yg bikin saya mengantuk..tp kalo isi khotbah dg intonasi yg dinamis,isi sesuai kondisi perkembangan poleksosbudhankam terkini, cakupan ayat-ayat dan sunnah pas..saya kok jadi ga mengantuk ya...justru tekun menyimak sampai akhir khotbah..jadi menurutku sih meski ga pake alat2 visual ga papa tp yg paling penting adalah pengetahuan si khotib jumat yg harus diupgrade (saya sih setiap jumat ditempat berbeda pasti ingat mana khotib yg paling aku sukai..krn ceramahnya sangat dinamis)
    Tekni orasi/ceramah dg intonasi dinamis bisa menggugah pendengarnya (perlu tahu teknis orasi yg pintar, tidak sekedar ngomong palagi cm sekedar baca buku waktu orasi),ceramah dg isi tema yg menarik sesuai sikon terkini bisa menggugah pendengarnya krn mungkin bisa menyentuh permasalahnnya scr langsung (bisa kritik secara islami ttg ketidakadilan poleksosbudhankam disertai panduan ayat2 alqur'an dan solusi islami yg sejuk,adildan damai) n pintar agama (jelas mutlak dong..) so menurutku semua itu seharusnya ulama2/kyai2 diinstansi berwenang spt Dep Agama, MUI, Muhammadiyah, NU maupun dipondok2 pesantren seharusnya respek tanggap atas fenomena ini...perlu dikaji bgm menghasilkan khotib/imam yg bermutu agar dakwah lebih efektif/efisien...mungkin ada sekolah khusus imam/khotib ya bisa pesantren mngkin tp dg kurikulum yg bisa mengatasi hal2 spt itu..tdk melulu ortodok/pasif idea. Di Hindu aja ada sekolah khusus u menghasilkan pendeta2/pedanda kok...apa kita sbg umat tidak bisa berpikir spt itu untuk menaikkan kualitas imam2 kita....klo pemimpin islam kita tanggap terhadap hal2 kecil ini saya yakin kualitas para imam/ulama/kyai kita lebih produktif, makmum tdk lagi gampang ngantuk. Krn hal ini belum pernah tersentuh oleh para pemimpin kita maka paling2 ya para pengurus masjid/takmir harus pintar2 mencari para khotib yang mumpuni untuk kriteria khotib yg berkualitas.
    Ok demikian dulu sekelumit opini saya..dan saya senang sharing dg temen2 yg ingin berdiskusi ttg nilai2 agama islam khususnya. Thx semoga ada pencerahan

    ReplyDelete
  20. Saya punya penjelasan yang agak ilmiah mengenai fenomena "mengantuk saat mendengarkan khutbah jum'at" ini. Silahkan baca artikel, "Tahukah Kamu Mengapa Saat Mendengarkan Ceramah Yang Membosankan Kamu Menjadi Ngantuk?"
    http://akhirnya-aku-tahu.blogspot.com/2010/12/tahukah-kamu-mengapa-saat-mendengarkan_03.html

    ReplyDelete
  21. RADO DZIKRI YUONO PUTRADecember 9, 2010 at 6:38 AM

    Assalamualaikum,...
    Saya pikir dengan ceramah saja cukup kok...
    Asal tema-nya disesuaikan dgn keadaan jaman sekarang.....
    misalnya mengusung tema tentang Entrepeneur dalam Islam,Setan disekitar kita yg hadir dalam wujud manusia,pergaulan &audio visual... diharapkan Sholat Jumat & Khotbahnya menjadi Ritual Berkwalitas...Bukan skedar Ritual Rutinitas...

    ReplyDelete
  22. Ada 2 pertanyaan...Materi Khotbahnya apa memang kadar kwualitas imannya Jamaah?

    ReplyDelete
  23. Assalamualaikum...
    Ada 2 masalah disini:
    1.Isi Khotbah yang menjemukan?
    atau..
    2.Kadar kwalitas Iman Jamaah yang memang masih kurang?

    ReplyDelete
  24. ne yang gw tunggu2 al na dosen na ngasih tugas
    yng lumayan ribet,
    msalah islam di abad 21
    ne ja gw bahas ma tu dosen

    ReplyDelete
  25. Alexander FirmansyahDecember 10, 2010 at 10:04 AM

    Artikel yang sangat menarik...
    and i realy agree with you're idea...

    ReplyDelete
  26. wuuiiihhhh opini rada gile neh ampe2 mo pakai proyektor segala di mesjid, tapi saya setuju dan mo nyoba, artinya saya perlu asisten sbg operator laptop & proyektor, karena umumnya ruang khotib tidak memadai utk menggunakan aplikasi ini......akan tetapi.....(mode on : mikir)...
    saya kan bukan penceramah ??, saya cuma seorang mualaf yg bisanya jd asistenya khotib aja, berarti saya harus cari khotib yg mau menerima saya menjadi asistennya dan bersedia melakukan kutbah dinamis ini.
    Kalo begitu saya mo nyari dulu yaa...do'a in saya...
    Wassalam...

    ReplyDelete
  27. @Amar: salah satu cita-cita saya mau membangun masjid yang alat bantu khotbahnya lengkap. Saya percaya akan banyak ummat yang ke masjid saya nantinya. Insya Allah cepat terwujud. Karena Allah tidak menitipkan uang banyak pada hamba-Nya selain sebagai titipan untuk ummat di bumi. Doakan cepat tercapai cita-cita saya itu, Mas Amar.

    Amin.

    ReplyDelete
  28. Assalamualaikum wr..wb...
    Gan, idenya blh juga, agak radikal sich, tp demi kebaikan semua kenapa gk dicoba ya? gk ada yg salah koq. hanya saja sudah siapkah para ustadz/khotib kita yg notabene lbh canggih dlm hal akidahnya, menggunakan perlatan modern tsb untuk melakukan dakwah dengan cara seperti? Andai mereke "berani" memulainya, sepertinya ini akan menjadi baik buat seluruh umat islam di Indonesia. dan saya saya yakin akan mempersempit jurang antara umat dan ulamanya... Insya Allah...

    ReplyDelete
  29. @Permana: Makasih untuk dukungannya.. Saya rasa memang seperti itu. Kita harus menyikapi perubahan dengan bijak. Tidak selamanya alat2 canggih itu merugikan, kalo dipake utk tujuan yang baik saya rasa akan sangat membantu. Saya heran knp ulama kita belum secanggih kita2 ini cara berpikirnya. Mungkin mrk dah tua semua, ya maklum aja. Tapi tetap teknologi harus dipertimbangkan dalam segala sisi kehidupan kan?

    ReplyDelete
  30. setuju gan. mana para panglima panglima kita...

    ReplyDelete
  31. @benkq: Ada kok, cuma masih kurang canggih aja gan...

    ReplyDelete
  32. lha ini kotbah jum'at apa presentasi,

    ReplyDelete
  33. @Achsan: Bisa anda jelaskan lebih jauh apa perbedaan presentasi dengan khotbah? Karena menurut saya keduanya sama2 merupakan proses komunikasi satu arah yang menjelaskan sesuatu kepada audiens. Kalo anda berpikir presentasi itu selalu menggunakan alat bantu proyektor, maka (maaf saja), definisi presentasi yang anda ketahui masih terlalu sempit.

    ReplyDelete
  34. Perasaan di masjid dekat rumah saya ga ada yg ngantuk apalagi ketiduran... soalnya khatib cuma baca satu ayat Al Quran dan Hadits yang sasuai kondisi saat ini dan selanjutnya diterjemahkan ... padat, ringkas, jelas dan tepat sasaran... sampai pulang saya masih ingat apa isi khotbahnya... dan saya pikir inilah khotbah yang sesuai dengan sunnah Rasulullah... "janganlah membaca khotbah lebih lama dari shalat jumatnya"... simple bukan :-)

    ReplyDelete
  35. ssalah satu penyebabnya...yg kutbah baca buku kutbah...sementara gak ada buku kutbah yang njelasin "kiat agar jemaah tidak mengantuk saat kita kutbah"..atau..."tips yahut biar ceramah kita masuk di pendengar"...

    lha wong yang nulis buku kutbah jumat aja mungkin jg cmn copy paste yg penting bukunya jadi..laku...mungkin lho ini...mungkin...

    ReplyDelete
  36. tulisan yang kritis dan positif....saya setuju...memang seharusnya para dai lebih bisa mengembangkan gaya komunikasinya ke masyarakat...tidak melulu menggunakan bahasa2 formal (apalagi baca buku saat khutbah)

    ReplyDelete
  37. “Marilah kita menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya,” itu bukan kalimat klasik boz, itu salah satu rukun khutbah jumat yg hrs disampaikan... okay...
    salut buat id kreatif Anda boz...

    ReplyDelete
  38. emang menurut saya pribadi yg hampir sependapat dengan penulis....
    dikatakan dari berbagai kalangan atas langit dan bawah langit...BAHWA ISLAM SELALU MENGIKUTI PERKEMBANGAN ZAMAN.......(menurut kutipan Al-Qur'an) kalau tidak salah.........
    iya agama Nya (ISLAM-red) mengikuti perkembangan zaman.....bagaimana dengan para Da'i nya.....bisakah mengikuti.........??????
    kita harus bercermin kepada agama sebelum Islam....yakni Nasrani.......lihatlah para Peng Khutbah mereka (pendeta, Pastor, Penginjil, dll) mereka selalu dibekali pendidikan secara FORMAL untuk materi Agamanya......(di setting bagaimana cara berbicara, cara menterjemahkan injil, cara nyanyi.......dll)
    makanya malah terkesan para Nasrani terlihat lebih modern dengan tampilan keren.keren.......(padahal dengan agama yg sudah lebih tua, bahkan sudah lewat menurut versi Islam).........
    KOK BISA..?????
    YG TUA TERLIHAT KEREN......

    BUT.....!!!!!!!!!!!!!!!

    YG MENGIKUTI PERKEMBANGAN ZAMAN.......
    TERLIHAT KOLOT...??????>
    ANEH YA...

    ReplyDelete
  39. Selama saya menjadi khotib sejak SMA sampai sekarang, ada perbedaan yang mencolok mas khutbah di daerah Solo (selatan) dan daerah Semarang (utara). Kalau di daerah selatan, khotib mayoritas lepas buku, sebaliknya di wilayah utara justru ndak bisa/ndak mau lepas buku. Itulah salah satu faktor penyebab utama pada ngantuk, karena khotibnya saja kayak presiden lagi pidato. Akan lain rasanya jika khotib tidak membaca buku. Persentase nyang mengantuk lebih kecil.

    ReplyDelete
  40. Ide yang hebat, berarti mesjid2 harus di ubah tuh.
    harus ada layar proyektor (kalo perlu layar bioskop),
    trus metode khotbah juga harus dikembangkan dengan adanya pertunjukan teater, diiringi musik band gitu ya gan?
    Revolusioner gan. hahaha

    Bukankah islam itu sederhana?
    (bayangkan aja kalo sholat, apa saja sih yang dibutuhkan?)
    dan dikembangkan dengan metode yang sederhana?
    (salah satunya dengan khutbah jum'at).
    dan tetapkah anda bagian dari kesederhanaan itu?

    ReplyDelete
  41. As.w.wb. Mas Elvin .. salam kenal.. wah tulisannya benar-benar inspiratif dan betuuuuuuuul sekali memang dakwah jaman sekarang harus lebih kreatif. Jadi ingat contoh dulu para wali dakwahnya melalui media wayang juga kan...

    Setuju deh mas, Khutbah jumat kayaknya harus ditambah alat bantu multimedia yang canggih juga ya...

    Bagaimana nih Pa Ustadz, Pa Kiai... dari MUI ada komentar he....he....he...

    Trims informasinya... semoga menjadi sarana bagi berbuat kebaikan dan menuju kepada kesempurnaan ... Amiin

    Wassalam
    Tatang

    ReplyDelete
  42. wah tuh bang, kotbah jum'atan pengajian skrg prlu ditambah alat bantu seperti presentasi, agar lebih menarik, syukur klw diruangan dikasih semacam audio yang jozz, dengan sistem tata suara yg sekelas home teataer .... ide gila, tapi kayaknya oke tuh. moga sukses bang.

    ReplyDelete
  43. "khotbah Jumat menggunakan laptop dan proyektor"

    Yang ini ane setuju.
    ---------------------------------------------------------------------

    "Para khatib harus sering nonton televisi dan melihat bagaimana acara-acara reality show yang pukul-pukulan setiap sore ditonton anak-anak di bawah umur. Para khatib harus sering jalan ke warnet melihat anak-anak remaja yang menonton aurat perempuan lewat situs porno."

    Untuk yang ini bakalan merepotkan. Kenapa? Kalau seandainya suatu saat nanti sang khotib kasih ceramah yang terkait dengan hal tsb di atas, apalagi isi ceramahnya berisi tentang larangan nonton acara tertentu atau situs tertentu, pasti audience akan bertanya,"Ini khotib tau darimana ya ada acara begituan? Pasti ikutan nonton, nih! Kalo dia sendiri nonton, kenapa kita dilarang-larang?"
    --------------------------------------------------------------------

    ReplyDelete
  44. saya suka posting ini ... betul-betul murni dan polos .. hehe
    meski ngk di bumbui dengan dalil dll ...
    ya ngk perlu lahh ...
    ini bermanfaat untuk masukan para ustadz dan khatib,
    dapat menyusun khutbah lebih baik, dgn syarat n rukunnya tapi tidak membosan kan ....# apalagi bikin ngantuk ....

    ReplyDelete
  45. wah..wah...bner bagt tuh gan, jaman sudah semakin edan, perlu tindakan2 konkrit dr ulama2 kita yg notabenenya "lebih mengerti" soal agama jgn sampai anak2 kita yg terseret arus jaman. tp kyanya ga perlu pake proyektor kali gan, kya layar tancep ntar....hehe. tp saya setuju soal kreatifitas gan, perlu dibenahi lg cara penyampaiannya shg lebih mengena dikehidupan sehari-hari kita. ga masalah juga kali klo khutbah pake bahasa gaul, yg penting adalah ap yg disampaikan tetap pd koridor-nya. semoga kedepannya akan menjadi lebih baik, Insya Allah..

    ReplyDelete
  46. khutbah Jumat itu sebenernya ga perlu panjang2..
    Khotib yg ilmunya luas itu durasi khutbahnya hanya sebentar,
    yang panjang itu durasi shalatnya...

    sedang di Indonesia, terbalik.
    khutbahnya bisa 30 menit
    sholatnya cuma 3 menit.

    Rasulullah saw sendiri khutbahnya singkat dan padat,
    sholatnya Beliau biasa membaca surat Qof,
    liat sendiri di al Quran berapa ayat itu surat..

    ReplyDelete
  47. Nice Article,,,tapi itulah realita yang terjadi sekarang,,,tapi semua idenya sangat bagus,,coba kita tengok kalau baca khotbah ustad ngetop,,,Zainuddin MZ,,Uje dll yang rata2 melek TI,,gak bakalan ngantuk..hehehe..

    ReplyDelete
  48. Mohon maaf nich berbeda ama yang lain kenapa yg di angkat permasalahan tidur bukan syarat syahnya sholat jum'at, dan mana yang boleh mengikuti jaman dan mana yang harus tetap mengikuti sunah rosululloh.

    ReplyDelete
  49. Tio : Inilah yang menjadi sumber dari segala beda pendapat dalam agama yaitu adanya dua kelompok: kelompok yang berpikir berdasarkan esensi (tujuan) dan kelompok yang berdasarkan prosesi (proses/ritual).

    Dalam hal ini saya mengutamakan esensi dari Sholat Jumat yaitu mengingatkan dan menyadarkan ummat lewat dakwah sekali dalam sepekan. Sedangkan anda berkonsentrasi pada kesakralan dalam tiap prosesi pelaksanaan dakwah jumat.

    Saya yakin saya benar, tanpa harus mengatakan bahwa anda atau pihak-pihak yang lain yang salah. Yang salah adalah pihak-pihak yang tidak peduli pada peningkatan kualitas khotbah jumat untuk peningkatan kualitas pengetahuan agama ummat.

    ReplyDelete
  50. saya setuju degan pendapat anda, sudah tiba masanya penyampaian khubah jumaat menggunakan ICT agar menjadi lebih menarik dan difahami. selain daripada itu, para ulama terutama imam atau khatib yang membaca khutbah boleh mempelajari dan mengusai ilmu ICT. teruskan penulisan anda dengan melontarkan idea-idea yang bernas agar membuka minda pembaca seperti saya. syabas dan teruskan. tq

    ReplyDelete
  51. satu hal yang harus disadari... bagaimana sesuatu ide itu bisa kita laksanakan sendiri baru mengatakannya kepada yang lain..
    maz.. yg budiman.
    saya tau maksud baik maz..
    tp tanggung jawab untuk berdakwah adalah tanggung jawab semua muslim. saya.. anda... dan yang lainnya.
    pertanyaan saya .. apakah anda sdh siap menjadi penceramah agama ... atau sudah siap untuk khotbah?
    artinya,,,, khotbah itu tidak mudah segampang orang bicara kea sana kemari karena kurang satu aja rukun ga dijalankan maka khotbah tsb batal. dan jamaah serta anda sepertinya mau enaknya jg.. khotib berkhotbah.. persiapannya bisa satu dua hari blm kelar. kenapa yang kita krecoki mereka bukan kita sendiri. muhasabah kenapa kita ngantuk??
    1. karena takwa kita, iman kita belum mampu membendung godaan syetan.
    2. kita belum mampu menghargai ilmu.
    dstrnya..

    ReplyDelete
  52. @pa_bhe: ==> satu hal yang harus disadari… bagaimana sesuatu ide itu bisa kita laksanakan sendiri baru mengatakannya kepada yang lain..
    Saya belum memiliki masjid sendiri, jadi saya tentunya belum bisa mempraktikkan apa yang saya usulkan. Kalo saya sudah bisa membangun masjid, insya Allah saya akan menerapkan metode dakwah yang saya anggap lebih baik dan efisien.
    ==> tanggung jawab untuk berdakwah adalah tanggung jawab semua muslim. saya.. anda… dan yang lainnya.
    pertanyaan saya .. apakah anda sdh siap menjadi penceramah agama … atau sudah siap untuk khotbah?

    Mas, saya nulis ini bukan ceramah. Saya menuliskan ide saya. Ide untuk ke arah lebih baik. Tidak perlu berusaha memojokkan saya dengan pertanyaan yang tidak relevan dan berkesan mengada-ngada. Jelas-jelas saya di sini MENGUSULKAN ide, bukan BERCERAMAH.
    ==> kenapa yang kita krecoki mereka bukan kita sendiri. muhasabah kenapa kita ngantuk??
    1. karena takwa kita, iman kita belum mampu membendung godaan syetan.
    2. kita belum mampu menghargai ilmu.

    Anda tidak salah. Introspeksi diri memang harus selalu dilakukan. Tapi untuk menuju ke arah yang lebih baik, kita tidak harus terus-menerus introspeksi diri. Kita juga perlu memberi masukan-masukan kepada semua pihak yang terkait agar kita bisa maju bersama-sama. Sebagai ummat kita harus aktif dan peduli pada fenomena negatif yang ada. Saya juga kadang-kadang ngantuk kalo lagi Jumatan, tapi itu tidak berarti saya harus diam dan tidak memberi masukan apa-apa buat para ulama kita kan? Kita saling bantulah. Ulama mengayomi ummatnya, ummat memberi usulan kepada ulamanya. Simpel aja kan? Saya cuma berusaha menjembatani antara sudut pandang ulama dan realita di masyarakat.

    Btw, bisa mas jelaskan pada saya dan semua kawan-kawan di sini: apa SALAHNYA khotbah mengambil tema tentang masalah-masalah hidup sehari-hari? Apa pula SALAHNYA khotbah menggunakan alat bantu visual? Lalu bagaimana dengan microphone yang digunakan sebagai alat bantu audio? Apa bedanya?

    Kalo mas ada usul yang lebih baik tentang metode supaya khotbah Jumat menjadi lebih efisien, tolong disampaikan saja di sini supaya saya dan kawan-kawan pembaca lainnya bisa banyak belajar dari mas. Daripada mas sibuk memojokkan saya, saya rasa itu tidak membawa manfaat apa-apa. Kita di sini ngomong soal khotbah Jumat, bukan tentang SAYA.

    Semoga bisa dimengerti.

    ReplyDelete
  53. @Irwan: Terima kasih mas Irwan dan kawan-kawan lainnya yang setuju dengan usulan dalam tulisan saya. Terima kasih untuk berpikir positif terhadap pendapat orang lain, ya guys! :)

    ReplyDelete
  54. orang bijak akan mengaku bersalah/menyalahkan dirinya sendiri sedanglan orang bodoh hanya bisa menyalahkan orang lain.

    klo mo comment tentang agama sebaiknya diskusikan dulu dengan pakarnya
    / Ulama , agama itu ciptaan Tuhan buka khayalan manusia

    maaf klo da yang tersinggung

    ReplyDelete
  55. bener ug tuch bang... patut dicoba dijaman yg makin canggih ini.
    Ulama ug harus inter IT,, y gx? :)

    ReplyDelete
  56. @Elvin: waduh! Mz... mz.. klo khutbah jumat pke proyektor y sama aja makmum sholat ma VCD, imamnya adl gambar yg ada di videonya, suaranya ada di speakernya.. saya sama sekali bkn mau memojokkan mz, cm meluruskan akidah, cz namanya ibadah yg hukumnya wajib ada caranya ada rukunnya, bukan dengan seenaknya menambah2kan cara baru mskipun itu menurut kita tujuannya baik. ok mz. maaf. mhn direnungkan

    ReplyDelete
  57. bos elvin...(sama kyk nama ponakan ai...)god banget ulasannya ...sebenarnya salah satu masalah umat adalah ustad..( maaf bukan cari embek item ) INGET "SALAH SATU" ( jgn marah dulu...BOZZ ). sekian banayk kita mendengar kutbah ju'mat..tapi hampir selalu sama yg kita dengar..( tidak semuanya..).tidak membumi..kenapa tdk bila kutbah ju'mat dipakai utk memotivasi gerakan ekonomi umat tidak secara teknis ( inikan bukan tempat kursus ) hanya motivasi energi...karena umat yg kaya lebih banyak bisa berbuat ( secara ekonomi ) bagi islam.Bayangkan bila umat selesai mendengar kutbah energinya menggebu gebu utk bekerja, berusaha...demikian maaf bila ada salah.

    ReplyDelete
  58. thank untuk ulasannya semoga bisa menjadi inspirasi...

    ReplyDelete
  59. wah waktu itu prnh solat Jumat di UI udh pake proyektor.
    lumayan ngebantu lah menurut saya. jd ayat / hadist beserta terjemahannya bisa kita baca dgn jelas & bisa kita pahami sendiri daripada ngedenger doank yg terkadang masuk kuping kiri keluar kuping kanan.
    tp saya ga tau apa setiap minggunya khotbah pake proyektor ato ga, soalnya bkn anak situ sih.

    ReplyDelete
  60. Mas Miradi Yth,
    Saya senang membaca tulisan Anda tentang khotbah Jum'at ini. Mengenai idenya 100% saya setuju. Saya hanya menyampaikan bahwa“Marilah kita menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya,” adalah salah satu rukun atau persyaratan dalam menyampaikan khotbah Jum'at. Jadi memang akan selalu ada dari jaman dulu sampai akhir jaman nanti. Selanjutnya saya minta ijin untuk mengcopy, menjiplak dan apapun namanya...tulisan Anda untuk saya sebar luaskan. Karena saya merasa bahwa tulisan ini sangat bermanfaat. Tks.

    ReplyDelete
  61. Assalamualaikum
    Saya setuju sm komentar mas slamet sutrisno.Ide mas elvin oke tapi memang harus tetap menjalankan rukun2 yg telah ditetapkan sbg syarat sahnya kotbah jum'at. Siip mas elvin,terusin nulis hal2 yg bermanfaat.Saya dukung 100%.
    btw iklan2 di blog mas elvin kalo bisa di filter ato dipilih2 soalnya ada iklan situs2 pemurtadan umat Islam, misal: isa almasih & alfatihah atau alkitab memperingatkan, dan mungkin ada yg lain lagi. Jangan sampai blog mas elvin ditumpangi oleh situs2 yg akan menjerumuskan umat.Semoga keberkahan dan ridho Allah selalu menyertai mas elvin dan keluarga.Thx Assalamualaikum

    ReplyDelete
  62. "satu hal yang harus disadari… bagaimana sesuatu ide itu bisa kita laksanakan sendiri baru mengatakannya kepada yang lain.."

    Saya gak setuju pendapat tersebut karena hakekatnya (filosofinya) kritik memang dilakukan oleh orang di luar sistem.

    Aku share link ini di facebook ya Mas.

    ReplyDelete
  63. aku sangat bangga dengan analisis kamu merupakan ide yang sangat berlian , namun "sejauh itu apakah sudah banyak bantuan penulis kepada para "ulama" sebagai orang yang mengutamakan siar agama islam dalam kehidupannya. tentunya pengadaan alat teknologi bagi kalangan ulama yang ide tik dengan kehidupan yang sederhana, perlu sekali adanya bagi sebagian besar penganut islam yang mempunyai fasilitas yang dinikmati saat ini.

    ReplyDelete
  64. pencarituhanjauhdisanaJanuary 19, 2011 at 6:17 AM

    tidak semua orang memahami .. tidak semua orang mengerti..kesuburan berasal dari sebuah air tanah yang di serap akar...

    ReplyDelete
  65. Sip, brilliant... tapi emang udah ada kok yang pake alat2 gituan dan emang lebih sip (contohnya di Masjid UI, kadang-kadang)... Tapi "ilmu kata-kata" juga alebih penting diasah terus kayaknya, karena saya beberapa kali tahu ulama yang nggak pake alat canggih pun bisa membuat kita betah mendengarkan dan memahami

    ReplyDelete
  66. AsslmWrWb, salam kenal.

    pemikiran yang tepat, dengan penyampaian anda yang juga sangat mengena. Mudah2an para da'i2 generasi muda dapat mengaplikasikannya. Saya ucapkan terimakasih atas pemikiran dan kata2 anda yg menginspirasi saya ini. Mudah2an Allah SWT memberikan keberkahan dunia dan akhirat bagi anda dan keluarga anda.

    izin share link...

    ReplyDelete
  67. Saya setuju dengan ide dlm tulisan anda mas elvin tentang khotbah Jum’at ini. dan apa disampaikan mas slamet sutrisno juga benar bahwa khotib harus menyampaikan seruan “Marilah kita menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya,” baik dalam bahasa arab maupun bahasa suku lainnya, karena itu merupakan salah satu rukun atau persyaratan dalam menyampaikan khotbah Jum’at (mudah-mudahan saya tidak keliru). saya yakin kita memang butuh orang2 yang kreatif seperti mas elvin. kepada mas elvin terus maju dengan ide2 yang baru, jangan khawatir, walaupun mungkin saat ini ide mas elvin belum dpt diaplikasikan, saya yakin suatu saat nanti akan terealisasikan (pada zamannya). maaf kalo ada kalimat yang kurang berkenan. tks.

    ReplyDelete
  68. saya bukan hanya se-7 dengan pendapat mas, tapi se-paham, kalo diijinkan saya tampilkan di Blog saya mas, biar rame dulu, maklun masih merangkak, tentu saja sumbernya tak ketinggalan, Ok trims, terus berjuang di jalan Alloh.

    ReplyDelete
  69. Jadi ulama harus jalan2 ke tempat prostitusi (sekalian nyoba biar tau gimana susahnya melepaskan diri dari nikmat duniawi), ngerasain indahnya dunia gemerlap dugem dimalam hari dan ikut nonton sinetron2 tak bermutu di tv indonesia?

    gt ya?..
    anyway tulisan anda cukup bagus :)
    tapi saya rasa yang disampaikan adalah hal-hal pokok kehidupan saja, tidak perlu sedetail itu..

    ReplyDelete
  70. Menurut saya apa yang anda tulis sudah benar - benar mewakili kenyataan di setiap khotbah jum'at selama ini. apa lagi materi yang disampaikan itu-itu melulu sehingga mendengarnya aja jadi bosan.

    ReplyDelete
  71. @Fadil: Apa ada bagian dari tulisan saya yang bilang "ulama harus jalan2 ke tempat prostitusi sekalian nyoba"? Anda membaca tulisan saya tidak? Logika anda terlalu dangkal. Dan menurut saya anda sendiri sudah merendahkan para ulama kita dengan menulis pernyataan seperti itu. Tolong hormati ulama kita.

    ReplyDelete
  72. @fadil:jika anda berniat untuk humor,selera humor anda payah.apakah anda berani ngomong itu di depan ulama,....

    ReplyDelete
  73. Salam,
    Ya Tuhan keren banget ini tulisan. Bersyukurlah diriku kepadaMU ya Allah karena ada saudara muslim seperti mas Elvin ini.
    Semoga Allah SWT memberikan berkah dan karunia, kesehatan dan rejeki yang melimpah kepada anda dan keluarga..amin.
    Terima kasih mas, tulisan ini begitu berani dan tulus. Santun dalam menulis, bijak dalam berkomentar. Saya sangat suka.
    Sekali lagi terima kasih. Salam kepada saudaraku muslim se Republik ini.

    ReplyDelete
  74. @Wong Islam: Alhamdulillah... Terima kasih ya. Saya merinding lho baca komennya :) Terima kasih. Salam juga buat Wong Islam.

    ReplyDelete
  75. karena om elvin punya ide, maka saya juga punya ide. gimana kalo sholat jumat dihilangkan saja? soalnya daripada cuma pindah tidur, ya kan. mending diganti dengan kegiatan lain yang lebih 'membumi' dan 'praktis,' misalnya teknik menolak ajakan teman untuk menonton VCD porno, dsb. ngomong2, kayaknya nggak ada teknik menolak yang lebih praktis ketimbang mengatakan "tidak, terima kasih" lalu pergi menjauh. atau mungkin om elvin masih berat hatinya kalo dibilang 'sok alim' ya...
    ini ide, lho. jangan diambil negatifnya, ya om elvin..he..he..

    ReplyDelete
  76. ah gak juga. pendapat anda salah besar. anda ingin tahu pendapat yang benar....? saya juga gak tau kok........

    ReplyDelete
  77. @Troy: Oke, makasih idenya. Setidaknya mebuat saya sadar bahwa memang Indonesia bakal sulit maju selama masih ada orang yang cara berpikirnya seperti anda. Saya jadi sadar bahwa pendidikan masih belum merata di negara ini.

    Makasih untuk inspirasinya!

    ReplyDelete
  78. Kalau dipikir2 dengan ngantuknya ketika kutbah ... ini menunjukkan eksistensi setan yang menggoda ... saya jadi yakin seyakin2nya bahwa setan itu memang ada kenapa ? kan mendengarkan kotbah itu ibadah ... yang namanya ibadah tidak lepas dari godaan setan ...apa buktinya ? Coba selesai kotbah, masih ngantukkah anda ? Pasti tidak kan, itu artinya setan sudah selesai menggoda seiring dengan selesainya kotbah jumat.

    ReplyDelete
  79. setuju dg yg bpk tulis..khatib emang kudu gaul jd khotbahnya jg gak garing

    ReplyDelete
  80. makasih mas atas tulisannnya...
    =====>tanggung jawab untuk berdakwah adalah tanggung jawab semua muslim. saya.. anda… dan yang lainnya.

    pernyataan diatas memang benar maka dari itu tulisan ini juga salah satu bentuk dakwah....
    karena itu memang patut dipertimbangkan untuk lebih membuat efektif "khutbah jum'at" jangan sampai khutbah jum'at menjadi hanya sebatas "RITUAL" yang sama sekali tak berbekas dihati pendengarnya.....

    Semoga tulisan yang mas posting ini bermanfaat......

    -giri99-

    ReplyDelete
  81. menarik juga nih pembahasannya. tadi waktu liat di google kirain pembahasan yang gimanaaaa?gitu eh ternyata ........
    cuma - sekedar buat numpang ketik disini - kayaknya aku perlu ngasi tau yang aku tau deh (ce ieleeeeeeee ilmuwan kalleeeee) bahwa sebenarnya tuh kita udah salah dari awal. ayah kita, ibu kita, dll waktu kita kecil menanamkan apa yang salah. saya ingat ketika di tanamkan dalam benak saya cita - cita "nak kalo besar jadi polisi". maka jadilah saya seprti sekarang (eitsss.....jangan salah, aku sekarang ini bukan polisi). padahal kan islam itu tidak pernah mengatakan kamu arsitektur, kamu ulama, kamu maling, jambret dsb.....itu pemahaman kita, yang kita pilih berdasarkan keinginan kita. seharusnya yang namanya ilmu (apa saja, agama,teknik, sosial, dsb) adalah bekal hidup kita semua orang yang harus kita miliki. maka jika pada hari ini kita mengkritisi para ulma kita, itu bukan sesuatu patut dibenarkan.
    kita lah yang harus memikirkan, sudah sejauh apa kita bahu membahu bersama sang ulama untuk memperbaiki kondisi ummat saat ini. sampah kita buang dimana? kata orang, jangan membandingkan kondisi kota orang barat dengan orang islam, akan sangat jauh berbeda. tapi siapa yang mengotori?mungkin tangan kita.
    so, jika kau berpikir tugas memperbaiki ummat ini just tugas ulama, lalu kau disisi lain merusaknya, apa itu bukan sebuah kedzoliman?
    ok thanks udah ngasih saya ruang untuk ngetik.
    see you.
    kunjungi: www.blogdaenghaerul.blogspot.com

    ReplyDelete
  82. @Maulana: so, jika kau berpikir tugas memperbaiki ummat ini just tugas ulama, lalu kau disisi lain merusaknya, apa itu bukan sebuah kedzoliman?
    Kalau saya berpikir memperbaiki ummat hanya tugas ulama, lalu kenapa saya mesti nulis artikel di atas?
    Terus terang saya kurang mengerti komentar mas. Panjang sekali dan tidak jelas esensinya. Baru terkejut saya pas membaca kalimat yang (mungkin) maksudnya bahwa artikel saya adalah sebuah kedzoliman. hahaha.. saya cuma bisa ketawa mas.

    Ya, namanya juga negara demokrasi. Silakan berpendapat sesuai pendapat masing-masing. Tapi kalo melihat jumlah komentator yang setuju dengan ide saya dengan yang tidak setuju, masih terlalu banyak yang setuju. Jadi saya berpendapat, ide saya masih layak untuk dipertimbangkan oleh para ulama. Sampai saat ini yang memberi komentar tidak setuju belum ada yang menulis komentarnya dengan baik disertai logika yang dewasa, rata2 cuma tidak setuju karena PAKE PERASAAN bukan pake LOGIKA. Karena kalo pake LOGIKA, maka penggunaan alat bantu tentunya akan menambah EFISIENSI dari khotbah jumat itu sendiri.

    Silakan kalo ada yang TIDAK SETUJU tapi bisa memberi masukan dengan LOGIKA dan bukan PERASAAN atau PIKIRAN NEGATIF, silakan ditulis di sini. Saya juga manusia makanya pasti bisa salah, cuma masalahnya, yang mengkritik di sini kelihatannya juga masih salah! hahahaa... Ayo, mana yang bisa menjelaskan kesalahan saya dengan baik dan benar? Saya dengan senang hati membuka diri untuk belajar.

    Jangan pake perasaan, pikiran negatif, dsb. Pake Logika! Thanks.

    ReplyDelete
  83. Saya termasuk yang jarang tertidur ketika khatib jumat berkhutbah, namun saya mungkin termasuk yang paling jenuh, muak, dan kesal dengan tema-tema yang diangkat khatib yang melulu normatif. Jika mas Elvin punya usul kreatif tentang pemanfaatan IT lainnya selain mik, speaker dan equalizer. Kalau produk ketiga terakhir di atas, sudah diterima, mengapa tidak dengan usulan mas Elvin tadi. Klo saya terkait dengan tanggungjawab khatib supaya jangan asal ngomong/asal jeblak aja, sebaiknya seusai jumatan diakan dialog dengan khatib yang bersangkutan secara singkat. Dengan demikian para khatib tidak *$#@! (maaf, kata2nya saya sensor bro - Elvin Miradi) melulu lalu ngacir meninggalkan jamaah dengan segala pertanyaan seputar tema yang dibahas dalam khutbahnya. Tks

    ReplyDelete
  84. Menurut saya . . .niat bleh baik . .tp dliht jg pa kah syariat islam tdk brtentangan . . Ceramah dan khotbah bda lho . . Khotbah da syarat2 nya agar sah . . .logikanya orang maling dengan dasar niat dmi mnolong orang laen . . . Mka niat dy baek tp cranya sangat2 tdk dianjurkan oleh agama. . Pa bleh ? . .mka dr itu hrus dlhat pa kh bertentangan ato tdk dngn agama qt

    ReplyDelete
  85. @Hendra: perlu diingat bahwa penggunaan proyektor di sini saya maksudkan sebagai ALAT BANTU dalam penyampaian khotbah agar lebih bisa dipahami oleh jamaah. Tidak ada rukun khotbah yang berusaha saya hilangkan atau saya ubah. Jujur saya tidak habis pikir di mana 'pertentangan dengan agama' yang anda maksud. Ketika proyektor itu digunakan untuk memperlihatkan kepada jamaah tentang tanda-tanda kebesaran Allah, lalu kenapa anda mesti mengibaratkan saya 'seperti maling dengan dasar niat menolong orang lain'?

    ReplyDelete
  86. Ya Saya kira ada benarnya. Untuk apa pake mikropon, pake amplifier, pake speaker, pake sumber tenaga seperti listrik PLN,Genset tentunya agar apa yang disampaikan bisa didengar oleh jemaah yang luas dan banyak... KaLO ini dianggap bi'dah yah ngga usah pake mik, ampli, speaker dan listrik. inikan barang kan baru tidak ditemukan jaman dahulu..

    ReplyDelete
  87. ass.wr.wb
    sy hnya berharap masih banyk lg org2 yg mau berpikir dan berusaha untuk kemajuan umat nabi Muhammad SAW. amin..

    ReplyDelete
  88. sangat setuju untuk berceramah item2 usul diatas, seperti :
    1. memakai alat bantu yang lebih canggih. karena dengan begitu bukan hanya orang tua saja yang tertarik anak muda bahkan anak2 kecil yg suka teriak2an n lari2an d masjid akan lebih seksama mendengarkan kutbah karena ada tampilan slide2 n video ny.

    2. mengupgrade Pengetahuan Para Khatib. mengapa demikian, karena terkadang para khatib berceramah hanya berpatokan pada tulisan2 n jd malah sibuk membaca, sedangkan yang mendengarkan jadi merasa bosan seperti merasa dibacakan buku cerita.

    3. terutama memperkenalkan para calon ulama dan yang telah menjadi ulama dengan kehidupan yang kacau sekarang ini. karena merekan kan tgl dan memiliki lingkungan yang kondusif, nach tidak semua orang seperti mereka, coba bila kita k mall, masya allah bukan main terbuka nya aurat, di sekolah sudah tdk terhitung lagi mereka yang memiliki hp bisa ber bluetooth ria video aneh2.

    satu lagi kan setiap kutbah tidak harus selalu yang itu2 saja, bisa saja menjelaskan tentang ekonomi islami, mencermati tekhnologi secara islami, jadi lebih kearah keadaan sekitar yang sudah jauh modern nya.

    jangan samakan kehidupan para ustadz n santri yang biasa hidup di pesantren dengan kehidupan para muslim yang lain nya, yang setengah mati biar gak dpet dosa cuma gara2 jalan2 k mall trus ngeliat para wanita gk tertutup aurat nya.

    ReplyDelete
  89. kalo untuk kita2 yang (maaf)belum begitu faham agama,ide mas sangat bagus.karena logikanya secara otomatis kita sebagai jamaah sholat jumat ada suasana baru untuk lebih memahami isi khotbah yang di sampaikan,dan tidak terkesan itu2 saja,,,.tapi temen2 yg kurang setuju,mungkin karena temen2 ini lebih ngerti tentang agama yang memang tidak bisa di logika.contoh:ketika kita wudhu dan kentut,kenapa nabi menyuruh kita untuk wudhu lagi,bukan mencuci dubur kita saja.logikanya kan dubur kita yang bikin batal,,,,mungkin temen2 kita fahamnya bahwa agama itu memang wahyu dari Allh dan hukum agama sudah Allah tentukan,tidak bisa di campuri pmikiran makhluk.apalagi kita yg (maaf)kurang memahami quran dan hadist.
    yg sedikit saya tau,berucap sesuatu yang lahan(tidak manfaat),ktka khotib kotbah itu merusak pahala sholat jumt.kalo dalam ceramah,menghidupkan suasana itu bagus,tp kalo khotbah perlu kita tanyakan lagi pada para ulama.jngan sampai dengan ide kita yang niatnya baik justru merusak pahala saudara2 kita se iman.ya kalo kita bisa menjamin para khotib2 kita semua tidak bikin sensasi dalam ide2 khoybah di power point nya,,,,(maaf)kalo ada yang kreatif terus kelupaan rukun2 dan larangan2nya kan repot juga,,,,,,,dan maaf,Ulama2 islam kita masih sangat banyak yang cerdas,mengerti dan faham islam,dengan tidak ketinggalan zaman. tugas kitalah untuk mencari ulama tersebut untuk menimba ilmunya,sebelum Allah mengambil Ilmunya dengan mewafatkannya....karena dalilnya kan "wajib bagi tiap2 muslim untuk mencari ilmu,,,,,dan yang di wajibkan ada 3,,,1.Alquran, 2.al hadist 3.ilmu faroid(bagi waris),,,sedangkan yang lain kata nabi hanyalah tambahan,,,,jadi doa saya,semoga Allah memberi Ilham dan ilmu yang baik pada kita,dan terhindar dari pmikiran2 nafsu yang di bimbing syetan...amiin

    ReplyDelete
  90. @Budi: Amin... Terima kasih untuk komennya, Mas Budi. Menarik dan perlu digarisbawahi soal khatib yang bisa keluar jalur karena terlalu 'kreatif' seperti yang Mas bilang tadi. Ini menarik. Jadi mungkin bila akan mempergunakan proyektor sebagai alat bantu, tetap bahan khotbahnya jangan melenceng ke hal-hal yang tidak penting. Jangan sampai merusak pahala sholat Jumat. Poin yang bagus. Makasih, Mas Budi.

    ReplyDelete
  91. @Ragil: terima kasih dukungannya, Mas Ragil. Saya yakin suatu hari nanti, mungkin di zaman berbeda ketika generasi yang hidup di zaman itu sudah melek teknologi semuanya. Ini sama saja dengan micrphone dan speaker. Terima kasih komennya yang luar biasa, Mas Ragil.

    Salam.

    ReplyDelete
  92. Saya suka dengan idenya.. Saya bukan ahli agama namun se-pemahaman saya Islam agama universal yang artinya Islam haruslah mampu masuk kedalam setiap unsur budaya dan zaman. Selama tidak melanggar syarat "syah" dan ketentuan dalam berkhotbah maka ide dari Mas Elvin bisa saja diterapkan, dan yang mendasar adalah khotbah ditujukan kepada umat agar dapat memperbaiki segala kekurangan yang ada pada diri pendengarnya, ketika para jemaah tidak mengerti pesan yang disampaikan bahkan tidak mendengarkan khotbah tersebut maka pahala solat Jumat-nya menjadi sia-sia. Karena mendengar dan memahami khotbah Jumat adalah salah satu syarat wajib solat Jumat (itu yang saya pahami, mohon maaf dan silakan dikoreksi apabila ada yang salah)

    Jika kita tidak diperkenankan menggunakan teknologi dalam berdakwah (khotbah Jumat adalah termasuk salah satu dakwah juga) kenapa banyak para ulama atau penceramah bahkan kita sendiri menggunakan kendaraan bermotor untuk beribadah ke masjid bukankah kendaraan tersebut termasuk teknologi juga? dan contoh paling sederahana, umumnya hampir disetiap masjid diseluruh dunia menggunkan alat pengeras suara (saya rasa itu tidak perlu datanyakan teknologi atau bukan, hehe) yang terpenting kita tidak melanggar ketentuan atau rukun dan juga syarat yang dapat membatalkan ibadah kita tersebut.

    Terakhir, saya juga sependapat jika kita ingin memerangi sesuatu kita harus paham atau mengerti dan mengetahui apa yang akan kita perangi dan musuh-musuh yang menjadi lawan kita, jika kita hanya tahu bahwa hal tersebut harus diperangi tanpa tahu itu, bukankah sama saja kita berperang dengan hantu karena lawan yang dijadikan musuh tidak tahu dimana keberadaannya. Logikanya ketika kita berperang kita harus punya senjata dan paham cara menggunakannya serta mengetahui kelemahan musuh kita, tanpa itu semua menurut saya mustahil bisa memenangkan perang.

    ReplyDelete
  93. Assalmualikum..
    mmm..lo nd salah rukun ibadah juma't it tidk diperkenankn untuk melakukn timbal blik pertaxaan antra khotib dn mkhtub,,spt diskusi,,lo spt diskusi ad sendiri forumnya,,spt khlaqoh, cermh agama, dll..mslh proyektor insyAlloh gpp, nabi ja pake kdng pke unta + pedang..(sesuai zamn),,hehe, tp nd stuju lo rukunnya dilnggr,,tkut m tipu daya setan..ngntuk it tnda2,,bhya,,^^ slm cinta damai sesama muslim..

    ReplyDelete
  94. @goal: Saya luar biasa setuju dengan komentar anda! Kita ini hidup di zaman yang berbeda. Kendala dan permasalahan ummat juga makin kompleks. Kalo kita tidak berinovasi dalam berdakwah, saya kira kita bakal terlindas zaman. Bukan invoasi dalam artian mengubah rukun, dsb. Seperti yang saya dan mas Goal maksudkan adalah sekerdar menambahkan alat bantu proyektor untuk mengoptimalkan esensi khotbah saja.

    Thanks komentarnya! Saya jadi makin yakin suatu hari nanti proyektor akan dijadikan alat bantu dalam khotbah jumat bahkan dalam khotbah-khotbah lainnya selain jumat.

    ReplyDelete
  95. selama tidak menyalahi rukun..tidak menutup kemungkinan kalo ide tersebut beberapa tahun kedepan bisa terlaksana, sama seperti penggunaan microphone pada awalnya juga pro & kontra..dan saya mengganggapnya ide ini bukan ide yang liberal. Memang tantangannya akan besar. mengingat di Indonesia terutama Muslim di pulau jawa menganut islam tradisi (taklid sama guru). SAya pikir ormas muhammadiyah bisa meneriman dan memulainya, atau PKS dimana islamnya lebih moderat. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  96. ga uah berpanjang lebar, kenapa ada ngantu dalam jum'atan.....KARENA CERAMAHNYA TIDAK BERKUALITAS, ceramah HANYA UNTUK ORANG LAIN....sedangkan penceramahnya sendiri hanya berharap popularitas, pujian, dan mungkin juga duit......astagfirullahaldzim........JADI supaya gak ngantuk ceramahnya harus berkualitas dan yang ceramahnya harus ORANG YANG PALING SEDIKIT DOSANYA. wallahualam bishawab

    ReplyDelete
  97. lebih baik kita kembalikan ke Al'Qur'an dan sunnah...
    karena kita sudah trlalu jauh meninggalkn Al'qur'an
    mengaku ummat muhammad tpi enggan mnjalankan sunnahnya!

    coba dikaji lagi hadist2 Nabi yg shoheh ttg khutbah jum'at. Agar tdk tercampur antara yg Haq dan yg Bathil,agar kita berhenti berbuat bid'ah tentunya!

    ReplyDelete
  98. alhamdulillah allah telah memberikan "hidayah" kepada anda sehingga tulisan tersebut menjadi sangat manfaat. Kata2: Marilah kita menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya,” dan terjamah sejenis emang itu tarjamah alqur'an (harus ada)... baru nanti isinya khutbah yg up-date. Saya sendiri juga sering ketika khutbah dengan gerakan2, seperti ketika saya khutbah thema: bersuci/wudhu, gerakan sholat. dan respon jamaah 100% alhamd positif (moga bukan sombong). Saya juga sering khutbah hal internet, hape, tv, jam main/eforia timnas PSSI ummat jadi lupa jamaah/salat. jadi 100% good idea mas!

    ReplyDelete
  99. saran untuk para ulama yang merasa punya duit dan kemampuan, hendaknya mengadakan semacam kursus atau pendidikan kilat khutbah jum'at yang bisa memikat para jemaah, misalnya nara sumber/pembicara yang back ground nya bukan religius spt Mario Teguh yang notabene bisa menggugah semangat dalam uraiannya...

    ReplyDelete
  100. subhanallah...... sy sngat stuju sma bang'Elvin....tnang bang sy dkung....sy jg prcaya suatu sa'at nti khutbah jum'at sudah mnggunakan proyektor sbgai alat bantu.......sy pikir sdah saat'nya umat islam bngkit n jaya lg dgn pmikiran2 yang intelektual gak kalah dgn perkmbangan dunia yg sdh smkn canggih ini...... go muslim......allohu'akbar. By.dr org Betawi Asli

    ReplyDelete
  101. SETUJU BANG, SYUKURLAH MSIH ADA ORANG2 YG PEDULI KAYAK ABANG TERHADAP TANTANGAN BANGSA DAN UMATINI KE DAPAN.. TAOI YANG LEBIH PENTING DARI ITU SMUA NRI QT MULAI DARI DIRI SENDIRI DAN ORANG2 TERDEKAT AGAR SLALU INGAT DAN MENGAJAK KA JLAN YNG D RIDOINYA. MELINDUNGI DENGAN MEMBERI PEMAHAMAN YANG BENAR, SLING BAHU MEMBAHU UNTUK PEMBERDAYAAN UMAT.

    ReplyDelete
  102. sangat setuju sekali.......trima kasih atas saran buat khotib-khotib kita, mudah2an Allah membimbing kita semua, Amiin

    ReplyDelete
  103. untuk ide yang pertama kita patut bersyukur dan bertrima kasih. Mudah2an mas Elvin dapat pahala sebagaimana hadits yang disebutkan. Cuma untuk ide yg kedua dan ketiga koq gitu, ya? Bukankah untuk memahami sesuatu ndak mesti ikut2an bermaksiat..? setiap muslim memang wajib menambah ilmunya (diupgrade ya mas?)tapi tentu dalam batas2 ibadah kpd Allah.

    ReplyDelete
  104. saya setuju dengan usulan anda, saya baru kali ini kontak blog ini, saya mau nanya anda bisakah anda menganalisa kenapa para anggota dpr itu kalo rapat kog ngantuk. Anda tahu perbedaan ngantuknya jamaah sholat jumat dengan jamaah rapat anggta dpr. Sekarang kalo ada uang lebih bolehlah jamaah sholat jumat itu dibayar per kali sholat jumat dijamin pasti tidak ngantuk dan tidak bakalan mbolos. Beda sama anggta dewan udah dibayar masih mereka ada yang mbolos dan ada yang tertidur.

    ReplyDelete
  105. Setuju banget, simple and brilliant

    ReplyDelete
  106. Salam,

    Mau ikutan ya.....
    Point penting yang perlu dicatat adalah bahwa Islam dan ulama di Indonesia saat ini, mempunyai kualitas keilmuan yang semakin menurun, ditambah kooptasi politik dan isu2 kesejahteraan lainnya yang membuat upgrading keilmuan masih melingkar-lingkar di ruang tradisional saja. sehingga adalah suatu kewajaran bagi suatu statemen "tidak ada murid yg bodoh, tapi yang ada adalah murid yg tidak mendapatkan guru yg baik untuk mengeluarkan seluruh potensinya". Kondisi keislaman lebih bergeliat dan dinamis pada kalangan muda yg progresif ketimbang ranah ulama. dan kita terlalu gampang untuk menempatkan seseorang yg levelnya baru ustad menjadi ulama, atau yg "switching" karir dari pelawak, artis, atau lainnya menjadi ustad dan ironisnya ini yg lebih "laku" ketimbang menggunakan kharisma ulama orisinil (yang sejak awal membangun karier di jalur keagamaan). ini profil keulamaan kita. coba kita bandingkan dengan Iran....disana seorang yg berhak untuk memberikan ceramah agama (apalagi fatwa) dipersyaratkan secara ketat namun tak tertulis.....menjadi konvensi sosial bahwa ulama disana harus menguasai ilmu "dunia" dan yg pasti ilmu agama lintas mazhab sehingga daya tarik seorang ulama dalam menyampaikan ceramah agama adalah contentnya, bukan media yg digunakan. oh ya disana yg dibilang sebagai agama adalah personal yg dikenal oleh komunitasnya sebagai pribadi yang soleh dgn kata lain tidak cacat secara sosial dan spiritual. jadi coba anda temukan suatu tulisan keislaman antara "ulama" indonesia dengan ulama dari Iran.insya allah anda temukan bahwa perkara yg sama akan disampaikan berkali-kali lipat lebih menarik jika dibahas oleh ulama dr iran. jadi saya pikir, teknis dan media penyampai kurang relevan untuk daya tarik sholat jum'at, saya setuju dengan upgrading ilmu.....mental ini yg belum ada di kalangan "ulama" kita. belajar formal sudah selesai kalau dia sudah punya Pengikut/Massa.
    maaf jadi kebanyakan komentarnya.
    Salam

    ReplyDelete
  107. bagus sekali idenya. sy sangat setuju. edannya zaman tidak dibarengi ke-brilian-an pr ulamanya, yg selalu terbungkus dgn kain sarung, baju taqwa dan sorban. Islam sdh melintasi zaman skian kurun, bnyk pembaharu yg cerdas dlm strategi dakwahnya tnp keluar trek syariatnya. pdhl rasul telah bnyk mencontohkan.jika islam ingin membumi mk berlakulah seperti air yg meresap secara perlahan ke dalam bumi, air beradaptasai dgn stiap lapisan dan jenis tanah, setelah itu air berasimilasi dan bereaksi menghasilkan sinergi. air tidka berada di atas permukaan tanah terus atau di dala tanah terus. mngkin sy termasuk jemaah yg suka tidur tiap khutbah jumat kecuali khotibnya bagus, menggugah, kreatif.

    ReplyDelete
  108. Al-hamdulillah, sebagai suatu sikap interst dan kretif. Insyaallah apabila kita bersungguh-sungguh memperjuangkan agama Allah. Allah akan memberikan solusi yang terbaik. kalau satu cara tidak bisa dilaksanakan, jangan putus asa masih banyak cara lain menuju kebenaran.

    ReplyDelete
  109. Wah seru banget ya.. Saya ngedukung Mas Elvin deh!

    ReplyDelete
  110. itu ide bagus yg sdh dijalankan di kantor kami,ustadnya memakai alat proyektor hsailnya yg dengar pngajian kaga ngantuk..bisa ditiru di t4 laen...

    ReplyDelete
  111. saya rasa ulama dahulu sangat pintar dan memiliki ilmu agama yng tinggi
    dari sekarang dan begitu pula kaum muslimin indonesia dahulu sangat terbuka dengan
    perkembangn jaman. sehingga mic, amplifier bisa masuk kedalam mesjid.

    karena khotbah jumat sangat efektif untuk membentengi iman kita untuk menjalani masalah kehidupan sehari2,
    sama efektifnya ketika jaman dahulu para ulama berkhotbah untuk bersatu melawan belanda..

    ReplyDelete
  112. good idea kita kembangkan..dan sosialisasikan bila perlu MUI merekomendasikan...yang penting kan rukun kutbah nyampe,

    ReplyDelete
  113. sepakaat! seru jg tu kye klo khutbah jumat pake lcd ato proyektor, xixi..

    ReplyDelete
  114. Menurut gua sih pendapat ente cukup baik untuk dijadikan pertimbangan, sebagai aktuaisasi da'wah di jaman uedan ini! hal ini apalagi kalau dikaitkan dengan sebagain ulama atau da"i yg masih suka membahas di depan umat nya hal hal yang bersifat hilafiah, (mereka asik berpolemik dengan mempertahankan pendapat masing-masing sementara umat bukan dapat pencerahan malah jadi bingung!) ya khan!

    ReplyDelete
  115. wah...keren tuh, setuju banget Bang...
    Harus ada contohnya dulu kali ya...dalam bentuk video baru kita share kesuluruh dunia....hahaha

    ReplyDelete
  116. Alhamdulilah masih ada yang peduli terhadap sesama muslim. saya setuju atas pemikirannya yang sangat moderen, untuk saran yang terakhir masalahnya khutbah itu ada rukunya. diantaranya mengucap alhamdulilah, mengajak koreksi diri/ajakan bertakwa, terakhir doa.

    mungkin lebih pas kalau saran tadi dilaksanakan pada pengajian di masjid taklim (pengajian) pakai LCD dan Laptob itu baru pas. itupun kalau sarananya ada. Demkian terma kasih atas kepedulian saudaraku ini.

    ReplyDelete
  117. Fachris ArriffuddinFebruary 13, 2011 at 1:50 AM

    ya saya setuju dengan pendapat saudara. memang kebanyakan pengajaran di dunia pesantren tidak diperkenankan menonton televisi selain berita. mungkin dikarenakan para pengelola pesanteren khawatir dengan konsentrasi santri yang akan terganggu dengan keadaan sinetron atau apapun secara visual baik TV maupun internet. mungkin itu yang memang perlu dikaji kembali kepada pengelola pesantren..... mungkin dengan dasar ilmu yang diperoleh selama belajar di pesantren bisa diuji dengan hal tersebut untuk diteliti baik dari sudut pandang Al-Qur'an, Al-Hadist, Ijma' dan kias. dan memang dunia remaja saat ini sudah diambang kehancuran. kalo kita sebagai warga negara dan anggota masyarakat tidak peduli dan seolah merasa acuh taacuh terhadap persoalan tersebut alangkah ironisnya genrasi muda yang akan datang......!!!!!! bagaimana tidak untuk saat ini saja kita sudah melihat dan mendengar hasil penelitian dunia kedokteran bahwa keperawanan bagi sebagian besar wanita bukan menjadi tolok ukur kesucian wanita tersebut......!!!!!!! mereka gemar dan acap kali mempertontonkan aurat.....!!!! bahkan realita saat ini banyak sekali wanita2 muda yang keluar malam menjajakan dirinya dengan alasan ingin terlihat gaya dan ngetren dari hasil menjajakan diri tersebut yang dibuat hidup bermewah-mewahan. inilah fenomena saat ini yang sering saya lihat dan mungkin saudara-saudara semua juga sudah sering melihatnya pula. mungkin pendapat saudara anda tentang tentang topik keseharian masalah yang terjadi di masyarakat akan saya bantu untuk diterapkan dalam khotbah Jum'at di tempat saya. namun untuk yang memakai laptop n proyektor rasanya kok terlalu berlebihan. masalahnya tenaga IT ditempat saya masih sangat kurang.......

    ReplyDelete
  118. mantabb gan, saya sangat sependapat sama mas alvin..

    moga" umat islam gak ngantuk lagi klo khutbah, begitupun saya..

    aminnn...

    ReplyDelete
  119. Betul saudaraku !!! Ulama dan para da,i harus lebih kreatif dalam teknologi, supaya umat tidak hanya tahu bahwa alat-alat teknologi di pakai di cafe-cafe saja tetapi dalam dakwah pun di gunakan sehingga generasi akan mencintai islam lewat media teknologi.Inilah daya tariknya# Saya pikir ini tidak sulit, kita tinggal butuh kemauan untuk merubah semua itu sebab ini berhubungan dengan Pendekatan Keterampilan berdakwah/khutbah

    ReplyDelete
  120. setuju.....
    bid'ah baru terjadi apabila dalam hal tatanan beribadah. contoh sholat isya 10 rakaat. puasa ramadhan dikerjakan bulan rajab, dll.
    sebatas pemanfaatan teknologi... it's no problem. mgkn saja kalo rasulullah hidup di zaman kita, udah pake pesawat pribadi. bukankah kendaraan beliau berupa kuda terbaik, yang pada zaman tsb, merupkn kendaraan tercanggih...

    ReplyDelete
  121. topp...markotopp,,wahh apalagi kalo yg dijelaskan kayak punya harun yahya,,,pada melek semua nehh para jama'ah dan tak terasa waktu sholat asar telah tiba,,,ide waras nehh perlu di kembangkan..
    jazzakallahu khoir,,yaa shob

    ReplyDelete
  122. setuju om. saya selalu merasa bosan saat khotbah jumat. itu2 aja yang dibahas.
    gaya berkhotbah yang monoton. harus segera diperbaiki.

    ReplyDelete
  123. di tempatku jebres solo,
    sudah ada ustad yang ngisi pengajian pakai LCD proyektor bawa sendiri lagi, klo untuk jumatan belum tahu, ustad itu orangnya juga tegas dan tidak ada toleransi terhadap masalah kesyirikan walaupun sedikit.

    ReplyDelete
  124. saya sangat setuju...dengan pendapat bung elvin tentang perlunya penguasaan teknologi dalam pelaksanaan khutbah jum'at...hendaknya ditampilkan ayat-ayat yang dibaca khatib.. supaya jemaah juga tau referensinya.. saya kita itu tidak melanggar 'pakem' pelaksanaan khutbah jum'at seperti halnya penggunaan teknologi lainnya...
    mungkin yanbg tidak perlu adalah menambahkan musik dalam penampilan visual tersebut...
    wallahu a'lam

    ReplyDelete
  125. Asslamu'alaikum
    numpang comment's mas
    Siiiip!! saya stju dengan pendapta mas Elvin
    Smog aml ibadah mas di trima olh Allah.SWT
    Amiiiin..

    ReplyDelete
  126. Mas, khotbah jum'at sangat sarat dengan ibadah dan punya aturan tersendiri, one way tdk ada tanya jawab dll.
    Materi sulit maupun mudah pasti banyak yang nganturk karena semua adalah cobaan utk mendapatkan nilai ibadah.
    Makanya khotib dan jamaah harus mempersiapkan diri agar semua dapat nilai ibadah.
    bangun-bangun jangan ngantuk..

    ReplyDelete
  127. muhammad mahmud hidayatullohApril 19, 2011 at 1:30 AM

    assalamualaikum ya ikhwan kuluhum.saya ucapkan trim ksih kpd semuanya apalgi kpd yg nulis blog ini.seoga yang baek nya menjadi amal soleh dan bila ada salah /kekeriruan nya semoga alloh swt memberi magpiroh nya amiiin.dan seoga masukan2 nya menjadi (watawa saobil haq watawa saobil sobr)artinya saling wasiat di jalan haq dan di jalan sobar.rossulloh saw berkata (addalu ala khoerin ka paielihi)artinya memberikan ptunjuk kpada kebajikan trus ada orang yang mengerjakan .insa alloh orang yg memberi petunjuk sama pahala nya .karena terlalu panjang klow di bahas mas alah jaman ataow masalah porno ataw aurat saya ga akan bahas silahkan kirimkan aj pertanyaan ke e mail saya (mahmudabas79@yahoo.co.id)maaf bukan saya sombong saya adalah salah satu imam jumat di masjid nurul hidayat. iya bagus klow hutbah pake alat yang canggih.tapi sayang yang nama ya ustad? kiai di kapung ga ada gajih nya sepeser pun jangan kan ebeli laptop untuk rosiko keluarga juga udah pas pasan klow pergi usaha bagai mana masrakar ga ada yang mengurus.bagi orang2 kaya atw jutawan.bila mau menyumbangkan laptop nya.baek secara hibah aupun wakop ataw pun uang dari zakat nya /sodaqoh nya.contact aj e mail saya insa alloh di gunakan untuk hutbah dan da wah .untuk bertanya tentang hibah dan waqop kirim aj pertanyaan ke e mail saya.wasalaualaikum wr wb

    ReplyDelete
  128. Assalamu'alaikum Wr Wb...
    Subhanallah itu ide yang baik sekali... dan jika ada yang kontra berarti ia termasuk orang yang bodoh... Jangan takut mas.... Maju terus Dan yakinlah bahwa tak terhingga pasukan allah di belakangmu yang akan menolongmu... janganlah jadi seorang muslim yang suka berkelahi dengan perkara ranting-ranting pohon dalam agamanya tapi tidak pernah berpikir bahwa pohonnya perlu dipupuk atau mungkin akar yang menghujam ke bumi tauhid mulai membusuk satu-per satu, sehingga mungkin saja terdapat batang pohon mulai membusuk namun dari luar terlihat gagah oh.... sedihnya.... Semoga Al A'lim memberikan jalan terbaik buat kita semua agar dapat berpikir kritis dan sinergis terhadap kemajuan umat Muhammad SAW.... Saya dukung anda 1000 % Coy..........

    ReplyDelete
  129. saya sependapat sekali dengan mas Elvin. hidup Islam!!
    ide brilian masbroo.. soalnya terus terang, Islam ane masih cekak, g seperti yang laen. gw Alhamdulillah jum'atan terus sih.. plus fardlu tentunya. "Khotbah jum'at", tema yang enteng tapi ternyata bikin geregetan ane juga pengen komen. bener! gw termasuk yang jago ngantuk kalo pas khotbah, soalnya dari gw kanak2 sampe sekarang khotbah ya itu2 aja. meski ada beberapa khotib yang kadang mencengangkan saya, dan memaksa saya stay tune fokus dengar ceramahnya sampe selesai. dan dalam benak saya "paten nih kyai". beberapa khotib juga kadang emang up to date sih dalam memberikan khotbahnya, misal hari pahlawan, ya khotib mengkhotbahkan tentang pahlawan.. tapi kadang emang bikin ngantuk juga kalo penyampaiannya tidak match dengan kita, eh gw ding!
    emang sudah saatnya para khotib mengalami peng-upgrade-an pengetahuan tentang cara2 berkhotbah. (tema agamais, gw udah percaya lah, g usah diupgrade).
    soalnya masbro2 dan mbaksis.. ya di momen jum'atanlah para laki2 bisa mendapatkan pencerahan karena otomatis pasti ada acara khotbah yang g bisa di delete. kalo nyengajain dateng ke pengajian, terus terang kaki ini masih berat broo.. capek udah kerja. kalo jum'atan kan waajeeeb. so, menurut saya, hal itu jangan disia2kan oleh para ustad/khotib demi meningkatkan kadar keimanan dari para jama'ah, yang tentunya dengan cara penyampaian khutbah yang bagaimana caranya bisa menarik.
    jika ada yang kurang berkenan, ya maap....

    ReplyDelete
  130. Saya setuju dengan artikel diatas, baik secara esensi maupun teknis.Sudah lama saya resah dgn kondisi jumatan kita.Sy membaginya dlm: 1.Kompetensi para Ulama/khatib, 2.Materi Jumat yang terlalu melangit dan bukan materi "harian"
    3.Kondisi internal Mesjid (alat bantu)
    4.Peta/komposisi Jamaah jumat (dewasa-remaja-anak2).
    Keempat hal tersebut harus menjadi bahan asesment kemudian dibuat perubahan. Terima kasih.
    Wasalam

    ReplyDelete
  131. assalamualaikum wr. wb
    numpang koment mas ,,itu ide yang bagus, islam agama yang terbuka debgan perkenbangan zaman jadi tidak ada salahnya jika ide tersebut di pakai dalam khotbah jumat. tapi mas saya kurang sependapat dengan statment "Setau saya, beliau tidak selalu mempermasalahkan tentang RUKUN". menurut saya rukun adalah sesuatau yang harus ada dan tidak bisa di tinggalkan.

    ReplyDelete
  132. Huhuuu.. Suka artikel ini! Bikin sy pnya rasa malu lebih tebal, asal niatnya menuju ke lebih baik knp tidak! Yg sudah, sudahlah.. Meskipun sy tidak pernah tau khotbah jumat itu membosankan atau tdk, sy pernah merekam di otak saya baca sebuah tulisan; ketika kita tidak bisa merubah keadaan, rubahlah diri kita.. Hehehe ini juga masih terus cari tau artinya yg sy pikir sejauh ini bener.. Semoga niat baiknya tulisan ini sampai ke pihak- pihak yg berkepentingan prosesnya lebih cepet deh, amin!

    ReplyDelete
  133. Menarik. Inspiratif.
    Tentang khutbah jumat, ada batasan waktu disitu. Dan ada rukun2/aturan standarnya (syahadat, sholawat, ayat dan hadits, pesan taqwa). Jadi, nggak mungkin akan terbahas masalah "terkini" dengan detail. Satu lagi, heterogenitas audien. Dari anak kecil sampai kakek2. Dari belum sekolah sampai post doctoral.
    Jadi? biarkan format jumat seperti saat ini. Untuk kajian lebih dalam, bisa dimanage "pengurus masjid".
    Interaksi sosial yang berpusat di masjid (bayangkan ada yg bersedia sharing tentang nge-blog di suatu masjid, bersedia sharing apapun dalam kehidupan nyata). Akan jadi perwujudan shalat berjamaah yang membawa dampak positif bagi "guyub"nya komunitas di seputar masjid.

    ReplyDelete
  134. Kalau pakai proyektor sepertinya salah tempat, dan perlu diketahui sudah banyak pesantren-pesantren yg menggunakan proyektor untuk saat proses belajar.
    Jadi supaya anda tidak tertidur pada waktu Khotbah Jumat anda perlu mempersiapkan diri terlebih dahulu seperti Mandi dulu klu enggak sempat ya... minum kopi dulu kek...atau apa sajalah...,
    Sebagaimana kita menjalani pelatihan.
    Jadi kesimpulannya orang yang tertidur pada saat Khutbah Jum'at adalah orang yang tidak mempersiapkan diri untuk mendengar Khutbah Jumat tersebut....

    Wassalam

    ReplyDelete
  135. gemana mo beli laptop coi.... lha ngajar ngaji aja g ada yang bayar lho... gemena mo beli proyektor.. lho wong yang terkait belajar agama gratis brooo... thank atas usulan yang berlian tuu..

    ReplyDelete
  136. Assalamu'alaikum..
    bagus gan idenya.. saya setuju jug sama komentarnya mas Muhammad Nur, emang seperti itu kenyataannya. menurut sepengetahuan saya, Rosululloh sendiri kalau kita baca haditsnya memang untuk shalat jum'at itu harus dipersiapkan sebaik mungkin (mandi wajib/keramas, pake wangi2an, pake baju yang terbaik, datang leih awal, mengisi shaf depan), itu semua agar para jemaah itu datang ke masjid dalam keadaan fresh jadi diharapkan tidak terlalu mengantuk. terus saya setuju bahwa memang materi khutbah kurang up to date dan banyak khotib hanya baca buku yang itu2 aza, kesannya asal2an kurang dipersiapkan. saya yakin kalu khotib menguasai materi ditambah intonasi kata yang baik, setidaknya bakal aga berkurang jamaah yang mengantuk. terus mengenai ajakan khotib " Marilah kita menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya". saya kira salah satu rukun khutbah adalah wasiat taqwa, mengenai redaksi kata-katanya bisa disesuaikan asalkan isinya wasiat taqwa, jadi ungkapan (Marilah kita menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya) itu bukan rukun khutbah, yang rukun khutbah mah wasiat taqwanya.
    terimakasih. mohon maaf. nashrun minalloh wa fathun qorrib.

    ReplyDelete