Tangan Di Atas Lebih Buruk Daripada Tangan Di Bawah?

Paket internet murah di Indonesia ada banyak. Mulai dari yang agak murah, cukup murah, sangat murah sampai yang benar-benar murahan juga ada. Tapi tenang, saya tidak akan membahas soal kecepatan koneksi internet mana yang lelet, karena hampir semuanya super lelet kok!


Saya tertarik dengan penjelasan paket-paket internet yang tersedia dimana semuanya membanggakan diri dengan kecepatan download yang tinggi. Tapi ketika kita berbicara tentang kecepatan upload, mereka justru menawarkan kecepatan yang lebih rendah.


Sebagai informasi, di negara-negara lain khususnya Amerika dan Eropa, kecepatan download dan upload selalu sama. Dengan kata lain selalu 1 : 1. Tidak demikian di Indonesia, kecuali yang benar-benar paket dedicated yang super mahal (biasanya untuk kantor-kantor).


Apapun alasannya, baik itu sarana dan peralatan yang kurang canggih, atau kerakusan tingkat tinggi para provider yang menarik konsumen tanpa memperhitungkan kemampuan mereka, tetap saja ada pendidikan internet yang kurang sehat di balik paket-paket yang lebih cepat mendownload daripada upload ini.


Dalam dunia internet, mendownload sama artinya dengan mengambil file dari internet sedangkan upload bisa diartikan sebagai memberi file ke internet agar bisa diakses banyak orang. Jadi ketika paket internet menjanjikan kecepatan download yang lebih besar daripada upload, itu sama artinya dengan mengajak lebih banyak orang untuk 'mengambil' daripada 'memberi'.


Di dalam masyarakat kita yang baru melek internet, ini tentunya sebuah pendidikan yang buruk. Masyarakat kita jadinya cuma diajarkan bahwa internet hanya tempat untuk meminta bukan tempat untuk memberi. Padahal begitu banyak orang di Indonesia yang memiliki keahlian di berbagai bidang yang bisa memberi informasi bermanfaat di internet.


Tangan di atas selalu lebih baik daripada tangan di bawah. Tapi menurut provider internet di Indonesia, pepatah itu harus dibalik!


Jujur saja, saya masih sering terkaget-kaget dengan kondisi gapnet (gagap internet) orang-orang di Indonesia. Bahkan saya beberapa kali diminta mengajarkan bagaimana cara membuat website ke mahasiswa-mahasiswa yang kuliahnya justru di bidang IT! Di mana logikanya seorang dropped out Kedokteran mengajar internet ke anak IT? Ini salah siapa? Kacau sekali negara kita ini!


Kita masih berada dalam kondisi 'baru melek internet' di saat negara-negara lain sudah menjadikan internet sebagai media yang penting untuk profesi mereka. Kita perlu pendidikan internet yang tepat dari awal bahwa internet bukan sekedar tempat bersenang-senang sambil nganggur karena nda dapat kerja. Internet adalah pekerjaan itu sendiri! Tapi kita malah cuma main Facebook dan Twitter saban hari!


Btw, saya salah nulis.. Kita? Lu aja kali!


Diperparah lagi dengan hadirnya paket-paket internet yang mempromosikan kecepatan download tadi. Promosi mereka selalu tentang download yang cepat, main Twitter lancar, main Facebook nda ada masalah, dll. Semuanya mengarah ke kesenangan semata. Jadilah internet sebagai alat hepi-hepi saja.


Lagi-lagi saya tekankan, bahwa begitu banyak tulisan saya yang kesannya mengangkat hal-hal kecil. Tapi ingat, jangan pernah bermimpi untuk berhasil di hal-hal besar kalo dalam hal-hal kecil saja kita belum beres.


Untuk para provider internet, "Upload sama pentingnya dengan download, wooooyyyy!!!!"

Share:

5 komentar

  1. Wah...bagus sekali critics-nya bro...saya setuju: harusnya upload dan download 1:1..
    Saya tunggu futsal besok, memasukkan bola ke gawang lawan lebih baik daripada menerima bola lawan di gawang sendiri, hehehe!

    ReplyDelete
  2. Saya juga mau ngajar tentang Internet Marketing, tapi saya ndak mau ngajarin mahasiswa. Mendingan ngajarin anak SMP biar gede nanti sudah jadi ahli.

    ReplyDelete
  3. @Asri Tadda: Hahaha... Betul bro! Ternyata konsep lebih baik memberi daripada menerima memang cocok di segala bidang. Jangankan futsal, dalam cabang olahraga tinju pun demikian. :)

    ReplyDelete
  4. @Reza: Saya dukung 2000% rencana itu. Saya yakin kurikulum SMP di negara kita tidak akan pernah menganggap internet marketing cukup penting untuk diajarkan di SMP. Tapi buat kita2 yang sudah melihat potensi internet tentunya harus bergerak dengan tujuan mulia seperti itu.

    Sekaya-kaya apapun kita sebagai internet marketer, toh kita akan mati. Dan seharusnya ilmu ini diturunkan ke generasi berikutnya supaya nda ada lagi istilah angka pengangguran tinggi di kemudian hari.

    Salut untuk idenya. Jangan lupa merealisasikannya sesegera mungkin. Salam hangat...

    ReplyDelete
  5. Bukan ji ini nyingung si RK, supaya kalo dia mati ilmunya dah ditularin ke rakyat indonesia bukan morotin rakyat indonesia ckckck.

    ReplyDelete