Menikah Sebagai Upaya Mempertahankan/Meningkatkan Laba Usaha

Jomblo WAJIB BACA! Hehehe...

Oke, kita mulai.

Kedua hal di atas, PERNIKAHAN dan LABA USAHA sekilas memang terdengar tidak ada hubungannya. Pernikahan identik dengan tujuan untuk berbagi kehidupan dengan seseorang yang kita sayangi untuk kemudian melanjutkan keturunan bersamanya, sedangkan laba usaha adalah profit bersih yang didapat dari bisnis yang sedang dijalankan.

Tapi ini berhubungan lho, para Jombloers. Suer!

“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu.” (QS. Al-Isra’: 31)

Tuh kan? Dijamin, coy!

Bila Anda sudah menikah (apalagi kemudian punya anak) maka rezki itu akan selalu disediakan untuk Anda. Begitulah secara garis besarnya. Tapi praktiknya di lapangan tidak segamblang itu. Tidak dijamin laba usaha akan meningkat besok sore bila Anda menikah hari ini. Tidak seperti itu, coy. Ini kehidupan, bukan video game yang bisa pakai cheat.

Buat Anda para jombloers, hal yang paling Anda rasakan nanti setelah menikah adalah meningkatnya kepekaan naluri bisnis Anda terhadap peluang-peluang baru DAN meningkatnya kekuatan Anda baik secara mental maupun fisik untuk MENYIKAT peluang-peluang itu hingga menjadi duit. Kondisi ini dirasakan oleh hampir semua 'suami baru'. Inilah yang saya kagumi dari skenario Allah. Allah tidak pernah langsung melemparkan segepok uang kepada kita, tapi Dia mengatur segala sesuatunya nampak begitu alami supaya kita bisa belajar dari fenomena yang ada.

Jadi setelah nikah, perlahan-lahan Anda mulai berubah. Yang dulunya cuma doyan beli handphone, sekarang mulai bertanya-tanya bagaimana cara bisnis jual beli handphone. Yang dulunya cuma haha hihi di warung kopi, sekarang mulai berpikir untuk bikin warung kopi sendiri. Yang dulunya menjadikan seorang teman yang supplier telur bebek hanya sebagai teman main kartu, sekarang mulai serius mengajaknya diskusi soal pengadaan telur bebek skala besar. Inilah yang terjadi setelah Anda menikah. Anda akan menjadi lebih peka terhadap peluang-peluang yang ada.

Ini membuktikan bahwa janji Allah selalu ditepati. Secara matematika saja, bila peluang diperbanyak, tentunya hasil yang didapat juga akan jauh meningkat. Semua dimulai dari insting bisnis Anda yang berubah menjadi lebih peka.

Kalau mau dibahas lebih dalam, kenapa naluri bisnis itu menjadi lebih peka seteleh menikah? Ya tentu saja karena istri adalah TANGGUNG JAWAB yang diamanatkan oleh Allah dan Bapak Mertua kepada kita para suami. Perasaan bertanggung jawab ini tidak usah Anda cari ke mana-mana, itu akan otomatis teraktifasi dalam diri Anda. Itu sudah naluri manusia. (Ya, itu naluri manusia. Jadi tidak salah juga bila orang bilang bahwa suami yang tidak bertanggung jawab pada istrinya bisa dikategorikan bukan manusia.)

Kalaupun Anda merasa bahwa rasa tanggung jawab Anda masih kurang. Coba bayangkan ini. Bayangkan di suatu pagi yang dingin, ketika sinar matahari lembut menembus celah-celah jendela kamar tidur Anda. Perlahan Anda membuka mata dan bangun dari tidur Anda yang lelap. Kemudian Anda menengok ke samping kanan Anda, ternyata istri Anda masih terlelap dengan indahnya. Dia hanya mengenakan selimut dan dengkul Anda pun masih lemes (sori, nda bakat jadi penulis seperti Freddy S. Silahkan dicerna sendiri apa kira-kira kejadian sebelumnya.). Kemudian perlahan-lahan dengan lembut Anda mengecup dahinya yang halus. Hmmm.. Rasanya dingin. Sejuk seperti dinginnya pagi yang memprovokasi hormon (apaaah??). Lalu Anda mengecup lagi ke arah bawah, ke kelopak matanya yang terpejam. Hmmm.. Sejuknya masih terasa. Lalu Anda mulai berpikir untuk mencari 'kehangatan' di pagi yang dingin itu. Tapi bibirnya, hidungnya, lehernya, dingin semua! Anda mencoba mengangkat lengan istri Anda, tapi lengan itu kaku tak bisa digerakkan!!!

Dia KAKU!!!

Istri Anda MATI!!!!!

Dan Anda baru ingat ternyata terakhir Anda memberinya makan adalah pas weekend kemarin!!!!

Itu adalah contoh konkrit dari seorang suami yang ZERO RESPONSIBILITY (tanggung jawab nol besar). Dan saya yakin jarang suami separah itu. Maka Anda harus optimis bahwa rasa tanggung jawab itu pasti Anda miliki sebagai naluri seorang laki-laki, walaupun belum kuat terasa di kala kita masih jomblo. Jangan menjadikan alasan "Sori, bro. Tanggung jawabnya nikah besar sekali. Saya belum mampu," sebagai dalih untuk menunda pernikahan. Justru dengan menikahlah maka kita bisa mengaktifkan 'fitur kemampuan optimal untuk bertanggung jawab' yang sudah dibenamkan di OS otak kita sejak kita lahir.

Jadi menikahlah segera, wahai sahabat-sahabatku yang Jombloers. Mungkin Anda sudah membaca dan mendengar ceramah para ustadz tentang manfaat nikah dari segi agama dan hari ini saya memberikannya dari segi bisnis. Maka menikahlah. Segerakanlah niat baik itu.

Jangan lupa, cari calonnya dulu! :)

 

Share:

4 komentar

  1. inspiratif buanget, gw suka paragraf2 akhir yang nancep abies kata orang alay #JleB

    ReplyDelete
  2. Mohon doanya, ka... hehehe.. :D

    ReplyDelete
  3. Hehehe.. Terima kasih, mas Alay eh salah, mas Budi! :)

    ReplyDelete
  4. Amiiiin... Disegerakan atuh, Neng... :)

    ReplyDelete