Filosofi Bisnis Ala Toilet Mall

Anda pernah boker di toilet mall? Pasti pernah minimal sekali dalam kehidupan umat manusia yang fana dan singkat ini. Kapan terakhir kali Anda boker di mall? Saya terakhir tadi pagi.

Yang namanya boker di mall mungkin sebuah fenomena alam yang biasa saja bagi kita, tapi tadi pagi waktu sedang mengedan di toilet mall saya menyadari bahwa ada filosofi bisnis yang sangat dalam yang bisa dipelajari dari kegiatan membuang-buang air besar ini.

Tadi pagi kan saya ke mall, bukan untuk cuci mata tapi untuk cuci dompet. Saya mencari laptop mungil dan ternyata hari gini kebanyakan laptop sudah mungil semua. Sedang bingung-bingungnya menyeleksi laptop tiba-tiba saja perut saya mules. Sebagai seorang internet marketer yang sudah berpengalaman berbisnis online sejak tahun 2006, naluri bisnis saya sadar betul bahwa ini adalah pertanda bahwa saya harus segera boker.

Saya pun langsung meninggalkan penjaga toko laptop yang kebingungan karena saya memutuskan perbincangan tanpa basa basi yang cukup. Saya berjalan cepat menuju toilet terdekat sambil menahan mules. Tentunya tetap mempertahankan ekspresi wajah yang normal, bahagia dan berkharisma.

Pencitraan itu penting!

Toilet semakin dekat dan kemulesan saya makin parah. Ada rasa melilit di perut yang menyerang setiap beberapa detik. Tapi saya sudah sering menghadapi kondisi seperti ini. Bila nyeri melilit itu datang menyerang, saya langsung menghentikan langkah, berdiri di tengah banyak orang dan menatap hape seolah-olah sedang membaca SMS dari Bill Gates yang isinya membatalkan kerjasama pengadaan super komputer untuk panti jompo se-Indonesia timur. Dahi mengernyit, bibir terkatup rapat. Serius. Tidak akan ada orang yang berani berasumsi bahwa saya sedang mules. Akting menahan mules adalah salah satu kehebatan saya yang sangat saya banggakan. Saya bisa katakan bahwa dalam hal menyembunyikan rasa mules, akting saya sudah ada di level tertinggi. Tentunya ini tidak hanya karena jam terbang mules yang sudah sangat tinggi, tapi juga karena dukungan yang tiada henti dari keluarga, anak-anak dan sahabat-sahabat saya.

Tapi jangan berkecil hati, dengan rajin berlatih Anda pun pasti bisa!

Setelah beberapa kali berhenti untuk membaca SMS dari Om Bill, akhirnya sampailah saya di toilet yang saya idam-idamkan. Untungnya tidak ada antrian karena saya memang ke mall pagi-pagi sekali. Begitu masuk ke toilet dan menutup pintunya, segera saya buka semua yang perlu dibuka dalam kecepatan setara kecepatan cahaya!

Di sinilah filosofi bisnis ala toilet mall ini dimulai...

Saya sudah duduk manis di atas kloset dan bersiap-siap untuk melepaskan segala beban di perut ketika saya mendengar beberapa orang masuk ke dalam toilet. Mungkin sekitar 3 atau 4 orang. Kehadiran mereka membuat saya harus ekstra hati-hati dalam 'menjatuhkan bom'. Jangan sampai mengeluarkan bunyi yang cetar membahana.

Ini memang tipikal untuk kasus-kasus boker di mall. Seperti yang kita semua ketahui, ketika kita ke mall tentunya tidak ada niat sedikitpun untuk boker di tengah keriaan yang ada. Boker adalah kegiatan yang tidak pernah ada dalam daftar kebutuhan kita di mall. Jadi, ketika Anda boker di mall, itu takdir yang digolongkan sebagai kondisi darurat dimana karakteristik dari boker di mall itu cenderung merupkan tipe boker yang bakal disertai bebunyian heboh!

Teramat sangat jarang boker di mall yang bisa dikategorikan boker biasa-biasa saja.

Jurus-jurus peredam pun segera saya praktikkan, dari mulai jurus pura-pura batuk, jurus flush tiap bom keluar sampai jurus bersenandung lagu-lagu metal awal 90-an (jurus yang terakhir ini khusus untuk bom yang kurang terlubrikasi dengan baik).

Menjalani ritual boker cetar membahana sambil tetap menjaga imej di saat yang bersamaan bukanlah pekerjaan mudah. Dibutuhkan kreatifitas dan intuisi untuk memilih jurus yang tepat berdasarkan tingkat desibel dan frekuensi bunyi yang dihasilkan.

Tapi sekali lagi, dengan latihan dan doa, Anda pun pasti bisa!

Suara-suara pria itu masih terdengar. Betah juga mereka ngobrol di dalam toilet. Saya termasuk penggemar berat aplikasi Google Maps dan saya tahu persis ada ribuan tempat-tempat menarik di bumi, tapi kenapa mereka memilih hang out di toilet ini? Dan kenapa harus di saat seperti ini? Why, God?

Sekonyong-konyong koder, apapun artinya itu saya nda ngerti, pintu toilet tiba-tiba dibuka dengan keras oleh seseorang yang langkahnya terdengar tergesa-gesa. Sepersekian detik kemudian pintu toilet di sebelah saya dibuka dengan keras pula. Sepersekian milidetik setelahnya langsung terdengar bunyi, "Creeet... Bup.. Bup.. Creet... Ptak tak tak... Crash Boom Bang!!!"

Wah, ternyata di toilet sebelah kedatangan tamu yang boker tanpa basa-basi, tanpa pencitraan dan tanpa gengsi sama sekali! Benar-benar cetar membahana! Mencret tanpa tedeng aling-aling!

Dan ternyata pria-pria aneh yang ngobrol di luar bilik boker tidak bereaksi dengan bunyi petasan dari perut mas di sebelah. Mereka tetap ngobrol, cuek saja, dan tidak ada suara tawa atau komentar terhadap fenomena itu. Mereka tidak bereaksi negatif seperti yang saya takutkan!!!

Sejenak diantara jeda cret crot dari toilet sebelah, saya merenung dalam hening. Saya merasa mendapat pelajaran berharga saat itu. Dan tanpa pikir panjang lagi saya langsung mengeluarkan semua bunyi yang tadi tersembunyi.

Mas-mas misterius di sebelah ngambil suara bariton, saya ambil suara sopran. Bersama kami menikmati boker pagi dalam harmoni dan simfoni yang hakiki.

... ... ... ...


Lalu apa filosofi bisnis di balik kejadian ini?

Bahwasanya seringkali di dalam bisnis, kita sebenarnya dihadapkan pada sebuah peluang dimana kita bisa menjadi pioneer tapi kita terlalu jaim atau terlalu takut untuk mengeksekusi peluang itu hingga akhirnya muncul pebisnis lain yang merebut peluang itu dan meninggalkan kita di belakang sebagai follower.

Sori kalo cerita bokernya lebih panjang dari filosofinya. Sebenarnya filosofinya masih panjang, tapi saya mules lagi. Saya ke belakang dulu ya!

Wassalam!!!

Tags:

Share:

12 komentar

  1. enak sekali tulisan ini dibaca.. i love you mas !!! :D

    ReplyDelete
  2. I love you full! Wkwkwkwk...

    ReplyDelete
  3. Itu.. Itu.. Itu mendesah, pak???

    ReplyDelete
  4. saya kira tentang apa..hahahha....kesimpulannya menarik,senior

    ReplyDelete
  5. Wkwkwk... Iya bro, cuma mencoba terus belajar bahkan dari pengalaman busuk sekalipun hehehe...

    ReplyDelete
  6. blog punya ente isinya bagus2 ya mas bro.. santai tp isinya ngena..
    jadi pengen belajar secara personal neh ane

    ReplyDelete
  7. om brapa lamaki boker itu? ceritana sj panjang apalagi bokerna.... haha

    *lama tak berjumpa trakhir ikut materi di astamedia ;'(

    ReplyDelete
  8. Lama mentong.. keluar full tangki brow.. hahaha

    ReplyDelete
  9. Terima kasih mas bro Dony... Iya isinya memang tidak ribet2 amat karena selain ini blog personal, saya juga tidak bisa nulis yang ribet2 hehehe suka pusing sendiri hehehe

    ReplyDelete
  10. Serangan fajar yg kesiangan tuh om......

    ReplyDelete
  11. Kurang makan sayur bro... :)

    ReplyDelete