Apa Bedanya Pebisnis Internet Sukses Dengan Yang ‘Jalan di Tempat’? (2)

Bagian pertama dari tulisan ini sudah saya tulis di sini. Yang luar biasa adalah jeda antara bagian pertama dan kedua ini memakan waktu kurang lebih tujuh bulan lamanya. Tujuh bulan itu tidak saya isi dengan kebingungan mau nulis apa di bagian kedua, atau karena sibuk berbisnis ria, melainkan murni karena saya lupa telah menulis bagian pertama! Wkwkwkwk...

Oke, jadi hari ini kita akan membahas bagian kedua.

Di bagian pertama saya sudah membahas tentang 3 poin yang saya pelajari dari teman-teman pebisnis online yang sudah sukses (ada juga beberapa teman yang saya amati yang tidak bergerak di bisnis internet). Hari ini dengan bakat sok tahu yang saya miliki sejak lahir, saya akan membahas point-point berikutnya yang saya pelajari dari mereka.

1. SEDEKAH

Sudah ada banyak sekali buku yang membahas tentang kekuatan sedekah dalam kaitannya dengan kesuksesan sebuah bisnis. Saya yakin Anda juga sudah membaca beberapa. Tapi hari ini saya mau memberikan gambaran lewat perspektif berbeda yang jauh lebih simpel. Bukan karena saya jago menyimpelkan sesuatu yang rumit, tapi lebih karena saya memang cuma bisa mikir yang simpel. Saya mau-mau saja mikir yang rumit-rumit tapi otak saya ndak nyampe. :)

Teman-teman pengusaha yang sukses ternyata punya ciri yang sama: ringan tangan dalam sedekah (termasuk suka mentraktir makan teman-temannya). Bahkan ada teman yang 'ngamuk' setiap kali saya mau membayar tagihan rumah makan sehabis kami makan bareng. Dan terbukti bisnisnya memang melesat jauh lebih cepat dibanding bisnis saya.

Anda mau saya traktir makan, please? :)

Cukup tentang makan-makan, mari kita kembali ke soal sedekah. Sedekah itu harus kita yakini sebagai proses bagi hasil. Seperti halnya kita berbagi hasil dengan bank yang telah membantu modal usaha pada kita. Tapi sedekah itu adalah 'transaksi bagi hasil' dengan Tuhan. Kenapa bagi hasil dengan Tuhan? Karena Tuhan memodali kita jauh lebih besar daripada bank apapun di dunia dan itu diberikan tiap hari! Kita dimodali nafas ketika bangun pagi, dimodali air untuk dipake mandi, dimodali tenaga untuk ngurus bisnis, dimodali pikiran untuk ngatur strategi bisnis, dll. Pemberian modalnya banyak sekali. Jadi wajar tidak kalo kita bagi hasil? Wajarlah. Tidak ada yang luar biasa tentang sedekah ini. Karena memang secara etika ini WAJIB dilakukan.

Pertanyaannya sekarang, dengan permodalan yang demikian besar diberikan Tuhan itu, apa kira-kira pantas kita 'kasih setoran' ke Tuhan cuma 2,5% dari keuntungan usaha? Itu tidak pantas bin tidak etis! Itu namanya tidak tahu diri kan? hehehe...

Dengan partner bisnis saja kadang kita bagi hasil sampai 50%-50%, kenapa dengan Tuhan cuma 2,5%? Persentase bagi hasil 2,5% itu tidak masuk akal! Persentase itu diajukan Tuhan hanya karena Ia tidak mau memberatkan kita. Tapi ketika usaha kita sudah mulai jalan dan bahkan menuai banyak untung, apakah pantas kalau kita tetap keenakan dengan bagi hasil 2,5%? Di mana rasa terima kasihmu, anak muda? :)

Dan ternyata terbukti bahwa orang-orang super kaya di dunia ini tidak ada yang berbagi hasil dengan Tuhan sekecil 2,5%. Fakta berbicara seperti ini:

1. Carlos Slim Helu, pengusaha terkaya di dunia tahun 2007 sampai 2013 yang memiliki 220 perusahan di bidang telekomunikasi dan perbankan, sudah menyumbangkan untuk amal 90% dari total kekayaannya yang sebesar USD 67,8 Milyar. Itupun masih bisa nego gan!

2. Bill Gates, yang sudah saya anggap seperti kakak saya sendiri, sudah menyumbangkan untuk amal 60% dari total kekayaannya yang sebesar USD 59,2 Milyar.

3. Ingvar Kamprad, pemilik IKEA yang bahasa kerennya adalah perusahaan raksasa di bidang furniture dan bahasa gaulnya adalah 'pedagang kursi', sudah menyumbangkan untuk amal 80% dari total kekayaannya yang sebesar USD 33 Milyar.

4. Warren Buffet, keterlaluan kalo ndak kenal paman saya ini, sudah menyumbangkan untuk amal 60% dari total kekayaannya yang sebesar USD 52 Milyar.

5. Lakshmi Mittal, pengusaha industri baja asal Inggris yang tidak berani menyentuh bisnis internet karena ada saya di sana, sudah menyumbangkan untuk amal 60% dari total kekayaannya yang sebesar USD 32 Milyar.

6. Prince Al Waleed Bin Talal Al Saud, investor dari Arab Saudi yang juga teman ngaji saya dulu, sudah menyumbangkan untuk amal 60% dari total kekayaannya yang sebesar USD 23,7 Milyar.

Anda coba kucek-kucek mata lagi. Ada tidak 2,5% dari data di atas?

Oke, memang tidak ada yang salah dengan 2,5%. Tapi akan lebih sulit mendapatkan prioritas bantuan dan kemudahan dari Tuhan bila rasa terima kasih Anda lebih kecil dibanding orang lain.

Jadi kalau sekarang bisnis Anda serasa jalan di tempat, cobalah untuk meningkatkan persentase sedekah Anda. Untuk yang usahanya sudah jalan, tingkatkan persentase sedekah Anda untuk membantu bisnis Anda 'berlari'.

Sebelum kita membahas point berikutnya, saya akan mengutip pernyataan khas milik orang-orang yang berpikir seperti ini tentang sedekah: "Kalau kita sedekah yang ikhlas dong, jangan sedekah karena berharap kaya! Sedekah bukan investasi woiii!"

Ini jawabannya:



Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat-gandakan (pembayarannya oleh Allah) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.” (QS.Al-Hadid:18)

“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan kelipatan yang banyak, dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan”. (QS. Al-Baqarah: 245)

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Baqarah: 261)

Anda lihat sendiri bahwa Dia telah berjanji untuk melipatgandakan rejeki orang yang bersedekah. Oke kalo gitu sekarang saya tanya, apakah salah kalau kita PERCAYA dan BERHARAP kepada janji-Nya?

2. Hidupnya Lurus

Teman-teman yang usahanya sukses semuanya hidup lurus-lurus saja. Bingung juga saya menjelaskan arti 'lurus' ini. Maksudnya mereka tidak melakukan kegiatan-kegiatan maksiat, tidak main judi, tidak curang dalam berbisnis, tegas terhadap batasan haram dan halal dalam menjalankan bisnisnya, dll. Pokoknya yang kayak-kayak gitulah. Hal-hal yang sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945 gitulah.

Tapi kenyataannya hidup lurus itu tidak pernah mudah. Anda harus setuju dengan saya atau Anda saya cap sebagai orang belagu, hehehe...

Mari kita berusaha sebaik mungkin untuk hidup lurus. Walaupun memang tidak gampang untuk selalu lurus di jaman yang edan ini, setidaknya hari ini kita sepakat bahwa untuk mencapai tujuan tertinggi kita di bisnis, kita harus hidup lurus seperti teman-teman kita yang sudah duluan berhasil.

Mulailah dengan memarkir mobil dengan lurus di parkiran mall! (Saya benci orang yang markir mobilnya miring. Oke sori, kayaknya ini masalah saya pribadi. Abaikan saja.)

3. Memprioritaskan Pelayanan Terbaik Kepada Customer (Excellent Service)

Dalam berbisnis, seringkali (ini sudah saya alami sendiri) kita terjebak dalam sistem yang nyaman untuk kita. Kita sering terpancing untuk membuat sistem kerja dalam perusahaan kita menjadi lebih ringan untuk kita dan lupa bahwa sistem kita itu ternyata justru membuat customer bete.

Sebagai contoh adalah pengalaman saya sendiri. Tapi ini bukan curcol yah.

Kami membuat sistem di toko online kami bahwa pelayanan hanya dilakukan lewat SMS. Mengingat pemesanan yang ribuan setiap harinya (kalo yang ini belum fakta, tapi doa! Tolong bantu aminkan :) ) jadi kami merasa agak repot kalo harus ngobrol di telepon dengan customer. Ya jelas dengan SMS akan lebih enak buat kami. Lagipula dengan SMS, semua data percakapan bisa ter-save sebagai arsip.

Tapi di pihak customer terjadi ketidaknyamanan. Mereka jadi curiga dengan kami. Kira-kira seperti ini keluhan customer:
"Kok jualan tapi tidak mau angkat telepon? Kenapa cuma mau SMS saja? Jangan-jangan kalian penipu nih!"

atau
"Kalau bisa nelpon, kenapa harus SMS? Kalian tidak mau mengerti akuhhh... Susah tau ngetik di layar sentuh dengan jempol segede jahe kayak gini!!!"

Sistem kami ini memang nyaman untuk kami, tapi tidak untuk customer.

Maka berdasarkan referensi dari beberapa buku dan sharing dengan teman-teman pebisnis yang sudah sukses, akhirnya saya memutuskan untuk merelakan kenyamanan kami direnggut oleh customer. Kami pasrah... Sekarang customer bisa menelepon dan berbicara dengan customer service kami.

Hasilnya: pemesanan meningkat menjadi jutaan pesanan perharinya!!! (Ini juga doa... Amiiiiiiin).

Jadi demikianlah artikel bagian kedua dari Apa Bedanya Pebisnis Internet Sukses Dengan Yang ‘Jalan di Tempat’. Sampai jumpa di bagian berikutnya yaitu bagian ketiga. Untuk menghindari kesalahan sebelumnya dimana saya lupa telah menulis bagian pertama, saya mohon kerjasama Anda untuk mengingatkan saya nanti untuk lupa sudah menulis artikel bagian kedua. :)

Saya akan menutup artikel ini dengan sebuah quote yang saya ciptakan. Seperti biasa, saya sering menciptakan quote sendiri karena malu kalau harus mengikuti quote orang lain (rasanya kurang kreatif gitu loh). Yang bikin saya heran, quote-quote saya kebanyakan tercipta saat sedang boker. Otak saya cerdas sekali di waktu boker. Itulah mengapa saya selalu percaya bahwa sebenarnya saya bisa kuliah sampe S3 andai saja bangku kuliah terbuat dari kloset duduk.

Sori ngelantur.

Ini quote-nya:
"Kesuksesan adalah kondisi di mana kita menjadi lebih baik dibanding diri kita yang sebelumnya. Bukan dibandingkan dengan kesuksesan orang lain. Jadi bila hari ini Anda jauh lebih baik dibanding diri Anda sebelumnya, maka selamat untuk Anda karena telah menghadiahi diri Anda dengan sebuah kesuksesan!"

Kok rasanya ndak nyambung yah antara artikel sama quote barusan?

Dasar blog aneh!

Share:

3 komentar

  1. Hello everyone, it's my first go to see at this site, and
    paragraph is actually fruitful in favor of me, keep up posting
    such articles or reviews.

    ReplyDelete
  2. There's definately a great deal to learn about this subject.
    I really like all the points you made.

    ReplyDelete